Donor Darah dan Masalah Yang Mengikutinya

Menuju Marina Bay Sand by ARO
Menuju Marina Bay Sand by ARO

Seperti yang pernah kusampaikan pada tulisan sebelumnya, kalau aku  akan mencatatkan semua perjalanan karir donor darahku di blog ini. 

Sebuah Journey dari seorang yang takut hingga menjadi orang yang ‘ketagihan’ donor darah.

Betul, mungkin aku  sudah bisa disebut sebagai orang yang suka donor darah dan kadarnya sudah pernah aku ceritakan pada tulisan donor darah sebelumnya. 

Dan untungnya, untuk melampiaskan rasa ‘sakaw’  itu, aku sekarang sudah menemukan lokasi donor yang strategis untuk aku bisa dengan rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali.

Tempat itu adalah gereja. Jadi aku  bisa menunaikan kewajiban yang satu, sekaligus menjalankan kewajiban yang lain. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu kata pribahasa dulu.

****

Dan… dan… dan… 

Ada yang aneh dengan donor darah aku  kali ini. 

Aliran darah aku tidak begitu lancar hingga prosesnya menjadi sedikit lebih lama dari biasanya. Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya. Bisa jadi karena kekentalan darah. Tapi kalau karena kekentalan darah yang tidak baik, maka aku tidak mungkin diizinkan melakukan donor kali ini. 

Kemungkinan lainnya, bisa disebabkan karena jarum suntik yang ditusukan oleh petugas kurang baik posisinya. Nah ini pasti gara gara nadi yang tertutup lemak. ☺ 

Sialnya, aku tidak bisa melupakan kejadian ini dan terus bertanya tanya seusainya. Kenapa donor kali ini terasa begitu berbeda. Aku  coba reka ulang keseluruhan proses. Dari mendaftar hingga terbaring dengan jarum tertusuk di tangan kanan aku . 

Kalau diingat ingat memang sebelumnya, ada satu kejadian yang membuat aku  sempat emosi, ah tepatnya sebel. Kejadian itu terjadi ketika aku  berada di tempat pendaftaran Donor Darah. 

Seperti biasa, setiap pendonor harus mengisi formulir terlebih dahulu sebelum mendonorkan darahnya. Dan waktu itu, hanya ada seorang Ibu yang bertindak sebagai petugas untuk mengatur ketertiban di tempat pengambilan formulir. Dan entah kenapa juga, kali ini aku  dimintakan nomor telepon dan kemudian dicatatkan pada sebuah buku, padahal sebenarnya di formulirpun sudah tertulis. Agak aneh memang. 

Dan intinya tidak ada satu orangpun yang boleh mengambil formulir, sebelum dicatat oleh si Ibu tadi.

****

Tiba tiba datang seorang bapak, kelihatannya Ia juga sudah sering mendonorkan darah di gereja ini. Tanpa permisi, dia langsung mengambil formulir. 

Melihat itu, tanpa segan segan si Ibupun langsung menegurnya, dan tidak memperbolehkan bapak itu untuk mengambil formulir itu sebelum mencatatkan namanya. 

Entah malu karena telah ditegur seperti itu sang Bapak pun ngomel ngomel, ‘kalau begini bisa lama bu, yakin bisa mengerjakan seperti ini seorang diri, antirannya panjang loh?’ Kalimat kalimat itu diulang ulang terus sambil mendumel.

Mendengar kalimat itu diulang ulang, darah muda dalam diri aku pun mendesir dan aku  bilang ke Bapak itu, ‘kata Ibu ini, nama Bapak harus dicatat dulu jadi yang sabar dan harus ngantri’. Seketika Bapak itu terdiam, tapi terus melanjutkan ngoceh hal yang sama. 

Kenapa aku  akhirnya memutuskan untuk ikut ikutan, karena aku  sebenarnya sebal juga dengan sikap Bapak ini yang maunya cepat cepat dan tidak mau ngantri. Apa susahnya sih menghormati sedikit saja, kepada orang yang sedang bertugas dan tidak merusak proses yang sedang berlangsung. Menurutku dan sudah sering kejadian juga, kalau ada satu orang yang mulai tidak teratur, pasti yang lainnya ikut ikutan untuk tidak teratur. 

Kejadian itu begitu cepat, dan aku pun segera melupakannya. 

****

Tapi dasar yang namanya jodoh tidak kemana. Pada saat aku  terbaring tak berdaya, Bapak tadi datang lagi. Dan sekarang dia berdiri persis di hadapan aku . Dan memang kayaknya orang ini lahirnya cerewet. ☺ Sambil berdiri, ia mengomentari orang orang yang sedang di donor, termasuk aku . Sialnya lagi emosi aku  naik lagi ketika melihat kelakuaan beliau yang begitu.

Sampai akhirnya, aku  berusaha keras untuk melupakan mukanya dan berdamai dengan hati ini. Bahkan setelah selesai donorpun, aku  memutuskan untuk memberikan senyum terbaik aku  kepada Bapak itu, yang kebetulan terbaring disamping aku , sebagai tanda kalau hati ini sudah baikan dengannya.

Kesimpulannya…..

Kita datang ke Donor Darah karena tahu itu adalah kegiatan baik. Jadi agar semuanya berakhir baik, maka proses melakukannya pun harus baik. Sehingga pada saat pengambilan darahnyapun bisa lancar lancar saja dan tidak tersendat sendat seperti yang aku alami.

Jadi segala sesuatu yang baik harus dimulai dengan baik dan diakhiri pula dengan baik.

So… next time better.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.