Stiker, Seragam, dan Bukan Siapa Siapa

Berpayung by ARO
Berpayung by ARO

Menempelkan stiker pada kendaraan milik pribadi adalah aktifitas yang masih digemari oleh banyak orang. Buktinya sampai sekarang masih banyak produsen produk yang memberikan hadiah stiker mobil kepada konsumennya. Selain memang dipercaya sebagai alat promosi yang handal dan murah, kebiasaan menempelkan stiker  mobil memang masih tetap memiliki tempat sampai saat ini.

Ada yang menempelkan gambar tokoh kartun favoritnya, ada memasang stiker komunitas kebanggaannya, atau bahkan stiker dari gadget yang baru dibelinya. Stiker stiker yang direkatkan pada kendaraan itu bisa dibilang sebagai upaya untuk menunjukan jati diri agar dapat dipersepsikan sesuai dengan stiker yang ditempelkan.

Sebagai contoh, mobil yang ditempel dengan stiker berlogo “Apple”, pemilik mobil pasti dianggap memiliki salah satu produk hasil pabrikan “Apple” itu. Terlepas dari apakah ia benar benar memilikinya atau hanya punya stikernya saja. Tapi bagi yang melihat persepsi “punya” sudah masuk ke dalam kepalanya.

Karena alasan itulah, yang namanya memasang stiker pada kendaraan pribadi harus dilakukan dengan bijaksana. 

Apalagi ya, kalau stiker yang dipasang itu ada unsur unsur keagamaannya. Wah itu makin berat pertanggungjawabannya. Coba bayangkan mobil dengan stiker “I Love Jesus” tapi nyupirnya ugal ugalan. Begitu juga dengan mobil yang berstiker “Muslim is our Way of Life” jika dikendarai secara tidak baik, maka yang jelek itu bukan orangnya tapi agamanya.  Karena itulah, stiker apa yang kita akan pasang pada kendaaran harus juga dapat kita pertanggungjawabkan.

****

Hal ini juga sama dengan penggunaan seragam di kantor maupun organisasi lainnya.

Di salah satu kantor aku yang dulu, pernah memberikan seragam khusus kepada para Department Head. Mereka diwajibkan untuk menggunakannya setiap hari senin. 

Jadilah di setiap hari senin, aku dengan mudah dapat membedakan mana yang berjabatan Dept Head mana yang bukan. Buat sang Dept Head, di satu sisi pasti menaikan rasa bangganya. Tapi di sisi yang lain, mereka mendadak harus menjaga tingkah lakunya, karena sekarang bukan cuma bawahannya saja yang tahu mereka seorang Dept Head tapi seluruh karyawan kantor akan tahu. 

Coba bayangkan apabila mereka datang terlambat ke kantor, pasti dengan mudah bawahan yang tidak mengenalnya akan menuduh dengan pikiran kurang baik, seperti masa Dept Head terlambat ke kantor, gimana anak buahnya?

Jadi berhati hati juga kalau kita menggunakan seragam apalagi kalau hasil di kasih teman atau saudara. Karena pada saat kita mengenakan seragam  tersebut, maka kewajibah kitalah untuk menjadi nama yang tertulis pada seragam tersebut.

****

Begitu juga dengan Negara kita yang tercinta ini. Untung saja dulu para Founding Father Negara ini cukup bijaksana dalam menyikapi perbedaan, sehingga lahirlah Negara yang berdasarkan Pancasila bukan agama.

Jadi kalau sekarang Negara kita yang sudah merdeka lama ini dan masih juga terpuruk dalam jurang kemiskinan, yang disalahkan tetap pemimpinnya yang memang masih oon oon dan doyan korupsi.

Kesimpulannya memang, kita sebagai manusia itu pada dasarnya bukan siapa siapa. Tapi setelah diberikan stiker atau ditambahkan seragam maka kita yang bukan siapa siapa tadi, mulai dilihat orang menjadi siapa siapa. 

Maka pada saat sedang menjadi siapa siapa itulah, kita diharapkan untuk berhati hatilah dalam berperilaku. Karena apabila kita salah bertindak, pasti bukan hanya kita pribadi yang dirugikan tapi juga embel embel yang melekat pada diri kita yang kena imbasnya juga.

Ternyata memang lebih enak jadi orang yang bukan siapa siapa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s