Hongkong, Mongkok, MRT dan Senyummu

Senyummu by ARO
Senyummu by ARO

Sampai di Hotel, masih jam empat sore waktu Hong Kong. Masa ya, jam segini sudah harus masuk kamar tidur tiduran. Kan tidak lazin dan mubazir apalagi kalau sedang di Negara orang. Sebaiknya waktu yang kosong itu harus bisa dimanfaatkan untuk menjelajah kota Hong Kong. 

Karena seminar baru akan dimulai besok pagi. Setelah check in, diputuskan untuk mencari makan sambil menikmati kehidupan malam kota Hong Kong. Setelah bertanya dengan concierge hotel tempat yang paling banyak makanan di Hong Kong, lalu kami berangkat menggunakan Subway MTR ke tempat tujuan. 

Sebenarnya mencoba MTR milik Hong Kong adalah kegiatan yang paling aku tunggu tunggu. Ceritanya, setiap kali aku melakukan perjalanan ke luar negeri dan mengetahui Negara tujuan memiliki sistem transportasi yang canggih, aku selalu mencobanya. Entah kenapa aku suka sekali mempelajari moda transportasi subway, mungkin karena di Indonesia belum punya juga sih. Kalau Indonesia sudah punya pasti aku sembuh deh kantroknya.

Alasan lain kenapa aku menyukai naik subway, karena pada saat di dalamnya, aku bisa menyatu dengan masyarakat di sana. Aku bisa melihat kehidupan mereka secara dekat, walaupun hanya melalui raut wajah yang mereka tampilkan.

****

Tentunya cerita akan dimulai dengan membeli tiket. Dan tidak afdol kalau tidak menceritakan kartu serba bisa yang bernama Octopus. Kartu ini semacam kartu flazz di Indonesia, dan bisa digunakan untuk public transport dan berbelanja. Jadi dengan hanya satu kartu Octopus ini, aku sudah bisa menikmati semua moda transportasi di Hong Kong dengan mudah. 

Tujuan sore ini adalah Mong Kok. Tempat ini kabarnya adalah surga belanja buat wanita dan tentunya bukan itu yang membuat aku tertarik. Sejujurnya daerah seperti Mong Kok sudah lama aku mimpikan agar bisa ada Negara kita, minimal kota Jakarta. 

Kawasan yang tidak boleh dilalui kendaraan. Dan kanan kirinya dipenuhi toko toko dan restaurant. Jalan dipenuhi pengunjung yang berjalan kaki. Jalan yang selalu terlihat bersih dari sampah. Dan memiliki tempat duduk untuk beristirahat sambil menikmati lantunan musik bagus dari pengamen jalanan. Indah sekali.

Rasanya hampir semua Negara maju sudah punya kawasan seperti itu. Entah kapan Indonesiaku punya lokasi seperti itu. 

****

Banyak hal positif yang bisa diceritakan mengenai Hong Kong, apalagi kalau  bandingkan dengan Negara kita. Tapi seperti layaknya manusia, kota yang terlihat sempurna ini, menurut aku masih punya kekurangan, terutama aspek manusianya. Ya… manusia di Hong Kong bisa dibilang jauh dari kata ramah.

***

Uedaan… orang kok bisa galak galak begitu ya. Aku tidak tahu kecilnya mereka di kasih makan apa. Pokoknya rasanya, kalau sudah bertemu dengan orang Hong Kong tuh rasanya kayak diajak berantem gitu. 

Ada satu kejadian ketika aku makan di salah satu restaurant di sana. Yang namanya pelayan restaurant dimana mana, selama orangnya waras pasti akan melayani pembelinya dengan sopan dan ramah. Kalau di Hong Kong tidak. Makanan dan Minuman disajikan ke meja dengan kesan dilempar. Ngomong dengan pembeli, seolah-olah kita itu tidak punya uang untuk membayar. Luar biasa.  Buat aku, orang Indonesia, perlakuan seperti itu memang cukup kasar. Tapi ya namanya pendatang, kitalah yang sebaiknya menyesuaikan diri.

Hal lain yang bisa aku simpulkan mengenai manusia yang tinggal di Hong Kong adalah mereka jarang tertawa dan tersenyum. Selama berhari hari aku di sana, jarang sekali aku melihat orang yang tertawa atau tersenyum walaupun mereka itu sedang berkelompok. 

Tidak ada senyum tergampar pada raut muka mereka. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin saking sibuknya, mereka tidak sempat menikmati hidup walaupun hanya untuk tersenyum dan tertawa.

Ternyata walaupun Negara kita tidak punya daerah seperti Mong Kok yang bisa mempertontonkan orang lalu lalang. Rasanya, aku lebih suka di Indonesia, dengan orang orang yang masih bisa membalas setiap senyum yang kita berikan. Ngapain punya daerah seperti Mong Kok kalau ternyata isinya hanya robot robot berjalan tanpa nyawa. Mereka ada tapi pikiran tidak.

Tapi tetep aja, lebih baik punya daerah seperti Mong Kok, dan diisi orang ramah ramah seperti orang Indonesia. Amin….:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s