Orang Beragama Lebih Bodoh Dari Scientist ataupun Atheis, Benarkah?

Melukis by ARO
Melukis by ARO

Benarkah orang religius lebih bodoh dari ateis?

Sayapun bertanya-tanya sendiri sambil menerawang ke diri sendiri dan mencari kebenaran atas statement itu. 

Kalau dipikir pikir dan melihat dari beberapa pengalaman, mungkin, ada benarnya juga. Kalau orang orang yang memiliki pemikiran religius terkesan selalu mengembalikan segala sesuatunya kepada Tuhan yang diimaninya. 

Kebiasaan mengembalikan hampir semua hal yang terjadi baik di dunia ataupun di dalam diri sendiri kepada penyelenggaraan Ilahi, membuat seolah olah, orang orang religius tak mampu berpikir lebih jauh dari itu.

Sebentar bentar Tuhan. Kalau lagi susah katanya takdir Tuhan, kalau miskin katanya sudah garisnya begitu. Pokoknya apa apa Tuhan, sehingga jawabannya terasa kurang kreatif dan monoton. Makanya orang ateis akan mengatakan kalau orang religius itu males mikir.

Betul…?

****

Yuk, kita bayangkan bagaimana sih orang religius dengan ateis tanya jawab mengenai penciptaan bumi.

Ateis :  Bagaimana menurutmu bumi tercipta?

Religius : Kalau kata kitab suci, bumi beserta isinya diciptakan oleh Tuhan hanya melalui firman.  Menurutmu bagaimana bumi tercipta?

Ateis : Ada beberapa teori dong. Masa kayak pemikiranmu yang sempit cuma satu teori doang. Kita bisa menggunakan teori big bang, Teori Tidal, Teori Kuiper dan teori teori lainnya. Intinya Bumi itu tidak diciptakan oleh Tuhan seperti layaknya sulapan.

Religius : Jadi untuk mengetahui bagaimana bumi tercipta dirimu harus mempelajari sebegitu banyak teori? 

Ateis :  Iya dong, mana boleh kita percaya dengan satu teori saja, seperti dirimu itu yang hanya percaya kata kitab suci.

Religius : Jadi sekarang dirimu sudah tahu, siapa sebenarnya yang menciptakan bumi dan bagaimana proses sebenarnya?

Ateis : Ya belum. Tapi intinya bukan Tuhanlah yang menciptakan.

Religius : Jadi sebanyak itu teori yang dirimu baca, hanya untuk membuktikan kalau itu bukan Tuhan yang menciptakannya? Dan sampai hari ini, dirimu masih belum juga tahu jawaban sebenarnya?

Ateis : Belum.

Religius : Pinter aku dong, baca satu buku, terus langsung yakin kalau yang menciptakan Bumi beserta isinya itu adalah Tuhan.

Ateis : ????

Kalau sudah begitu siapa dong yang sekarang lebih pinter, yang religius atau yang ateis?

Kalau pada akhirnya sama sama harus mengimani teori yang semuanya belum pasti untuk ukuran kepuasan logika manusia. Mengapa harus bersusah payah untuk dibilang pinter dengan mempelajari semua teori yang jelas jelas sama sama belum jelas kebenarannya.

Lebih baik dibilang bodoh, tapi hidup lebih damai, benar bukan? 

3 Comments

  1. Dialog fiktif ini terlalu fiktif. Penulisnya kemungkinan belum pernah debat dengan ateis beneran. Gimana kalau penulis diskusi dengan saya secara online (dengan platform apapun) kemudian hasil diskusinya anda unggah di blog ini. Biar sesekali ngepost hasil diskusi beneran, jadi bisa menerima kenyataan bukan hanya menghayal.

  2. Kalau di dunia ini kan ada yang benar dan ada yang salah dan real or unreal benar atau real artinya adalah secara pasti kita bisa meyakini keberadaan, bentuk, entitas, dan panca idera kita bisa meyakini keberadaannya. Sesuatu dinyatakan salah atau unreal apabila kita tidak bisa memastikan keberadaannya melalui kelima panca indera yang kita miliki. Sesuatu seperti benar atau tidak kemungkinan untuk menjadi 100% benar adalah 50% benar dan 50% persen salah. Sesuatu yang tidak bisa dirasakan dengan secara empiris tidak bisa disebut sebagai real atau nyata. Orang yang beragama kemungkinan benar adanya keberadaan Tuhan yang belum pernah sama sekali kalian lihat berapa persen, saya sangat yakin bahkan kemunkinan dari keberadaan Tuhan adalah 50% benar atau real dan 50% salah atau unreal. Kita tidak bisa begitu saja mempercayai atau bahkan menyembah sesuatu atau mahkluk yangbahkan wujudnya sama sekali belum pernah kita lihat secara empiris atau inderawi. Beragama itu layaknya berjudi bila kita mati dan kemudian Tuhan itu benar atau real maka sesuai dengan ajaran berbagai agama maka kita akan selamat di saat itu juga kita mati. Tetapi bila nyatanya Tuhan itu salah atau unreal maka kita akan merasa bahagia karena telah meninggalkan segala kenangan indah kepada mahkluk-mahkluk yang kita tinggal mati. Tidak ada yang pasti ketika indera kita sama sekali tidak bisa menjelaskan mengenai keberadaan makhluk atau entitas dari sesuatu tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.