Menyikapi Jumlah Mobil Tak Terkendali di Perumahan

Siap Siap by ARO
Siap Siap by ARO

Mobil kelihatannya merupakan sebuah keharusan bagi keluarga di Jakarta.  Baru punya uang dikit lalu dibelikan mobil. Kok gitu? Ya begitu, lah wong mobil di Jakarta itu bukannya tambah sedikit tapi malah tambah banyak dan pertumbuhan populasinya seperti tidak terkontrol.

Iklan iklan penjualan mobilpun dimana mana. Produsen menawarkan cara pembelian mobil dengan cara dicicil sehingga walaupun uangnya belum cukup tapi sudah bisa bawa pulang mobil. Kemudahan kemudahan terus ditawarkan, termasuk produsen yang siap siap memproduksi mobil yang lebih murah lagi dengan fasilitas yang tidak kalah dengan mobil mahal.
Wah pokoknya, kalau soal begitu begituan Jakarta tuh tidak ada matinya. Seolah olah uang itu tidak ada serinya.

Bayangkan saja dulu nomor polisi di Jakarta belakangnya masih menggunakan dua huruf, sekarang sudah menjadi tiga huruf. Semoga saja tidak dalam waktu dekat berubah menjadi empat huruf. Entahlah, akan jadi seperti apa jalan jalan di Jakarta macetnya kalau begitu. Mungkin benar prediksi para ahli, kalau populasi kendaraan di Jakarta tidak diatur baik baik, maka akan macet dari depan rumah.

Kalau saja aku boleh berandai andai, jika seluruh mobil di Jakarta dan sekitarnya diharuskan untuk keluar rumah dan tidak boleh di parkir. Aku berani jamin, rasanya kemacetan akan luar biasa sekali.

****

Tulisan ini lahir sejujurnya karena aku akhir akhir ini cukup terganggu dengan jumlah mobil yang berada di cluster perumahan.  

Mobil di parkir sudah tidak pada tempatnya. Sehingga kalau malam hari, jalan itu kesannya acak acak dan sering merepotkan kalau mau keluar masuk. 

Rumah dilengkapi hanya dengan satu parkiran mobil saja, ternyata sudah tidak cukup lagi. Karena sekarang rata rata penghuni sudah memiliki dua sampai tiga mobil. Jadi bayangkan saja rumah kecil tapi mobil dua sampai tiga buah, akhirnya mobilpun diparkir di sembarang tempat kalau sudah begitu.

Katanya sih, satu buat antar anak anak sekolah, satu buat bapaknya ke kantor dan satu lagi buat ibunya yang juga ke kantor.  

Lah, tapi masa membeli mobil seperti tidak memikirkan keadaan dan falitas yang dimiliki rumahnya. Asal aja beli dua nanti diparkirnya bisa asal asalan dimana saja. Mana bisa begitu ya? Hidup kan tidak sendiri, ada orang lain juga yang perlu dihormati. Masa bisa kita hidup dan menjadi manusia seegois itu, khan pada dasarnya hidup itu berbagi. Jadi berbagilah dengan cara saling menghormati satu sama lain.

Ini bukan kejadian di cluster perumahan aku saja. Ternyata hampir semua cluster mengalami masalah yang sama. Mobil diparkir sampai keluar keluar jalan. 

Rasanya memang aku harus benar benar berharap kalau suatu hari nanti yang namanya transjakarta itu jumlah bisnya bisa memadai, terus monorail bukan cuma tiang tiang yang dipakai buat iklan iklan saja. Dan tentunya yang terpenting subway bukan hanya dibicarakan pada diskusi diskusi di forum forum seolah olah itu adalah barang yang sangat sulit dimiliki.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s