Kesanku Yogyakarta Dulu dan Sekarang

Atlet Tebang Pohon by ARO
Atlet Tebang Pohon by ARO

Aku mau menceritakan kesanku terhadap kota Yogyakarta yang telah aku tinggalkan hampir 25 tahun lalu. Beberapa waktu lalu aku sempat kembali ke Yogyakarta untuk sekedar mengunjungi dan melepas kangen dengan kota yang telah menjadi bagian dari hidupku.

Setelah menempuh hampir 150 kilometer, itupun kalau speedometer di mobilku tidak salah loh dan kurang lebih 4 jam nyupir plus nyasar, akhirnya aku bisa mencicipi gudeg Yu Jum di daerah Wates sana. Lumayan  loh… sebagai obat kangen akan gudeg. 

Seperti ceritaku yang terdahulu, ini adalah kali pertama aku nyupir mobil memasuki kota Yogyakarta. Tantangan pertama adalah mencari hotel yang berada di Jalan Adisucipto. Kalau masuk Yogyakarta melalui wates, kita akan bertemu dengan keraton. Dan jika menggunakan ingatan beberapa tahun silam rasanya mudah sekali menuju jalan solo ke keraton. Tapi setelah ingatan diujikan di jalan, aku sama sekali ‘blank’. Sambil meraba raba dan mengingat ingat jalan jalan yang dulu aku lewati menggunakan bis, sepeda dan motor ketika SMA dulu, akhirnya aku berhasil mencapai Jalan Adisucipto dengan selamat. (tapi selamet ga ikut…)

Senang rasanya ketika melihat jalan yang dulu menjadi jalur utama kesuksesan aku bersekolah. (memang sukses ya sekolahnya) 😉 

Tidak banyak yang berubah, hanya saja sekarang jalan sudah lebih ramai dan macet. 

Masih ada restauran KFC yang ayam gorengnya menjadi junk food pertama yang  aku pernah cicipi kala itu. Juga masih ada Gedung Mandala Bhakti Wanitatama sebagai tempat makan gratis dengan hanya bermodalkan amplop kosong dan baju bagus saja. Ada museum affandi, yang masih tetap seangker dulu penampilannya.

Dulu kalau pagi pagi buta dari arah prambanan, aku masih bisa melihat parade onthel yang dikendarai para penjual sayur menuju kota melalui jalan ini. Aku tidak yakin kalau hari ini masih ada pemandangan itu.

Dahulu kota yang terkenal dengan sepeda motor di setiap pemberhentian lampu merahnya, sekarang sudah mulai berkurang karena didominasi oleh mobil. Dulu juga, di belakang ruko ruko pinggir jalan itu masih penuh dengan sawah. Dan sekarang sudah  dipenuhi dengan perumahan plus ada mall megah berdiri disana, yang katanya dialah biang keladi kemacetan di sepanjang jalan itu. 

Apakah ini akibatnya kalau jumlah mall dan mobil dipakai sebagai ukuran kesejahteraan rakyat di sebuah kota? Tidak tahu aku, au ah gelap.

Dulu hanya ada bis umum biasa yang setia mengantarkan aku ke sekolah dan ngapel, sekarang sudah ada TransYogyakarta dengan haltenya yang keren. 

Apakah ini juga pertanda majunya sebuah kota yang ditunjukan dengan kepemilikan transportasi umum yang memumpuni buat penghuninya? Mungkin juga… mungkin tidak kalau ternyata tidak terawat. Nah yang ini hanya waktulah yang menjawabnya.

Ya sudahlah, bagaimanapun keadaan Yogyakarta hari ini, kota ini sudah memiliki tempat tersendiri di hati aku. Jiahhhh…..

Aku selesaikan dulu tulisan yang mulai ngaco ini, yang kemungkinan akan semakin ngawur jika dilanjutkan terus. Semoga berkenan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s