Sirene Ambulance Bagi Seorang Opportunist

Kayak by ARO
Kayak by ARO

Menyambung tulisan kemarin mengenai pekerjaan yang tiba tiba membludak padahal moodnya masih dalam suasana liburan. 

Ternyata ada hal lain juga yang telah benar benar membangun diri aku dari tidur panjang selama seminggu liburan yaitu, jalan tol Tangerang – Jakarta yang juga sudah menunjukan keangkuhannya, dengan membuat pengguna jalan antri keluar mulut perempatan tomang sejak dari karang tengah. Padahal rasanya baru saja kemarin merasakan ke kantor tanpa hambatan, sekarang situasi sudah berubah total. Memang benar kata orang orang itu, Jakarta tidak membutuhkan gubernur yang bisa memimpin untuk mengatasi macet, tapi Jakarta hanya membutuhkan lebaran setiap hari. ☺

Yang membuat  hati ini tambah kesel adalah jam berangkat tadi pagi masih belum disesuaikan dengan jam yang biasa digunakan untuk mengantisipasi macet, tapi masih menggunakan jam dengan asumsi jalan tidak macet. Jadi sudah dapat dipastikan pula kalau aku hari ini akan terlambat sampai ke kantor. 

Disaat aku sedang menata emosi akibat kebodohan yang aku lakukan, tiba tiba terdengar suara ambulance dari belakang mobil dan suaranya terdengar semakin keras dan mendekat. Mobil di belakang dan depan aku semua sudah memberikan jalan agar ambulance ini dapat melaju dengan cepat menerobos macet. Entah apakah itu hanya ambulance kosong bersirine atau memang betul betul sedang dalam kondisi urgent.  Kami semua serempak tanpa komando merelakan diri untuk memberikan jalan buat ambulance itu.

Sepersekian detik setelah ambulance itu lewat, terlihat beberapa mobil sudah ada dibelakangnya mengikuti dengan kecepatan yang sama. Melihat seperti kondisi itu ternyata mobil mobil di depan dan belakang mulai bergerak untuk mengambil posisi membuntuti mobil mobil yang mengikuti ambulan tadi. Akupun  terbesit untuk ikut ikutan membuntuti ambulance itu sebagai cara mengatasi keterlambatan. 

Pemandangan seperti itu memang sering terlihat di jalan tol ini, tidak hanya ambulan, bahkan kadang kadang mobil mobil pejabat juga suka menggunakan sirine dan dimanfaatkan oleh pengguna jalan lain yang tidak berkepentingan untuk mengikutinya agar tidak terkena macet lebih lama lagi. 

Kalau saja hari ini aku tidak terlambat pasti godaan itu tidak ada, tapi kali ini berbeda. Kondisi  aku saat ini akan terlambat, sekarang muncul dihadapanku satu kesempatan untuk dapat memacu kendaraan lebih cepat dan memiliki kesempatan untuk sampai ke kantor tidak terlambat. 

Pergulatan batinpun terjadi dan syukurlah akhirnya dimenangi oleh malaikat yang menyuruhku untuk tetap pasrah dan tidak menggunakan kesempatan itu layaknya seorang opportunis.  Tapi lebih memilih bertanggung jawab atas keterlambatan yang sudah dibuat dan menjadi warga Negara yang baik di tengah kemacetan. 

Bodoh memang, tapi biarlah dibilang bodoh dari pada merasa bersalah kepada teman teman pengendara yang sudah berbaik hati memberikan jalan kepada ambulance itu.  Karena saat ini negara membutuhkan banyak sekali orang yang memiliki rasa menghargai antar sesama agar dapat membuat semuanya menjadi lebih teratur, rapih dan baik. 

Pernah ada yang mengalami hal serupa di jalan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s