Muda Tawuran, Tua Berbicara

Sepeda Othel di Museum Fatahillah by ARO
Sepeda Othel di Museum Fatahillah by ARO

Pada saat membaca berita di koran mengenai adanya korban tewas pada tawuran antar pelajar beberapa waktu lalu, aku sebenarnya langsung kepikiran untuk menuliskan topik ini. Tapi karena seperti biasa tulisan seperti ini butuh pemikiran yang lebih dalam dari pada sekedar nyerocos asal-asalan. Padahal sejujurnya aku juga sedang dalam proses mau menulis asal asalan. ☺

Sudah banyak orang pintar membicarakan bagaimana cara mengatasi tawuran. Dari presiden, menteri sampai polisi semua membicarakan solusi tapi sayangnya sampai saat ini masih saja ditemukan tawuran dimana-mana. Tidak jarang semua diskusi dan pembicaran itu, hanya menjelma menjadi sebuah iklan gratis berskala nasional terkait tawuran. Dan yang lebih parah lagi setelah mereka (orang yang merasa tahu seperti aku ini) bicara bukannya bertindak tapi malah memanfaatkan sebagai ajang jualan diri untuk pencitraan.

Dan yang lebih memperkeruh suasana lagi, sebagian besar pelontar solusi selalu memojokan pelajar yang terlibat tawuran itu dan seolah olah merekalah satu satunya biang masalahnya. 

***

Pelajar yang terlibat tawuran itu biasanya memang dinomorsekiankan di lingkungan sekolah layaknya para pesakitan, karena memang merekalah yang dianggap tidak berprestasi, merekalah yang selalu membuat keonaran, mereka yang selalu mendapatkan nilai jelek di hampir semua mata pelajaran dan mereka dengan segudang hal hal jelek lainnya. Seolah olah para pelaku tawuran ini adalah sampah masyarakat yang patut ditunjuk-tunjuk dan perlu di karantina.

Ingat menunjuk itu tiga jari menghadap ke diri kita sendiri. Jadi yang perlu ditanyakan sebenarnya adalah apakah kita sebagai orang yang lebih tua yang katanya lebih bijak sudah meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka? Mau berteman dengan mereka? Memperhatikan setiap ledakan gejolak jiwa muda mereka? Memfasilitasi keinginan mereka? 

Kalau itu sudah, maka kita memang pantas menjadi orang pertama yang menyalahkan mereka. Menunjuk nunjuk mereka. Kalau belum berhentilah menyalahkan mereka.

***

Melihat dan mendengar para pendiskusi solusi berbicara, kok rasanya sepertinya mereka itu tidak pernah muda saja. Oh alah… jangan jangan mereka mereka yang sekarang menjabat itu adalah kutu buku semua dulunya, sehingga tidak pernah merasakan perasaan menjadi “anak anak bandel” di sekolah. Bagaimana mereka bisa membuat solusi untuk tawuran kalau mereka tidak pernah mau jadi salah satu dari mereka. 

Coba deh pikirkan logikanya, bagaimana caranya pihak berwenang di negara ini mampu mengatasi tawuran kalau mereka sendiri tidak pernah mau meluangkan waktu untuk mendengarkan para pelajar itu. Setidak tidaknya sebelum ngomong panjang lebar, turun kebawahlah untuk menyapa mereka yang tawuran. 

Sekali lagi menyapa mereka yang tawuran dan bukan mengundang pelajar ke seminar. Karena yang datang ke seminar seminar itu adalah anak anak yang notabene tidak ikut tawuran. Yang ikut tawuran mana mau datang ke acara seperti itu. Mereka punya dunianya sendiri, dunia kebebasaan sekaligus pencarian jati diri tanpa arahan. 

Jadi kalau memang berniat untuk membantu para penerus bangsa ini untuk bisa ikut berkontribusi, ya jangan dengan seminar atau pidato pidato kosong. Tapi turun ke bawah dan bicara sama mereka. Rangkul mereka dengan hati. Jangan ngomong yang menyawang nyawang terus.  Mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh difasilitasi bukan disuruh suruh untuk mengerjakan hal hal yang mereka tidak suka apalagi kalau mereka sekarang di tunjuk tunjuk seolah olah merekalah yang paling bersalah. 

***

Mulai sekarang bicara lah dengan mereka. Setelah itu pasti ada ribuan dan jutawan solusi yang bisa mengatasi masalah tawuran. Tapi sesuai dengan keinginan mereka, bukan maunya kita kita yang cuma pinter ngomong ini. 

Sekali lagi mereka disini adalah para pelajar yang terlibat dalam tawuran. Yang memang bermasalah di sekolah, dan aku yakin sekolah sudah tahu itu dan sayangnya pihak sekolah selalu memakai kaca mata kuda dan terus berpura pura tidak tahu. Karena sekolah sekarang ukuran keberhasilannya adalah berapa persen kelulusan Ujian National, bukan seberapa besar kontribusi anak-anak didiknya kepada masyarakat kelak.

Apalagi coba dengar deh solusi yang akan dilakukan yang katanya akan membuat acara “cuci otak” para pelajar itu dengan mendatangkan motivator kondang. Itu sama saja buang buang waktu dan uang. Kenapa aku bilang seperti itu, ayo siapa yang pernah ikut training motivasi dan terus siapa yang bisa melakukan apa yang dikatakan oleh motivator itu. Memang hidup itu segampang cangkemnya si motivator itu. 

Menurut aku, ini adalah masalah anak muda dan harus diselesaikan dengan solusi anak muda juga. Bukan dengan solusi solusi  dengan pemikiran kita sebagai orang tua. Prinsipnya menurut aku adalah masalah itu hanya bisa diselesaikan sendiri oleh yang buat, tugas orang yang berada diluar lingkaran hanya boleh menfasilitasi dan mendukung mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s