Belajar Dari Tukang Parkir

Taksi Hongkong by ARO
Taksi Hongkong by ARO

Buat aku weekend kalau harus ke Mall rasanya menyebalkan banget. Mall lagi… Mall lagi. Kapan kira kira ada inisiatif pembangunan taman secara besar besaran di kota kota seluruh Indonesia? Jangan Mall terus yang dibangun. Bisa bisa tuh jumlah Mall lebih banyak dari sekolah loh. 

Memang benar, rekreasi ke Mall tidak selalu buruk. Banyak juga permainan dan acara dengan kualitas yang baik disuguhkan kepada pengunjungnya. Menariknya lagi, hampir semua acara itu kebanyakan diberikan secara cuma cuma. Mall pelan pelan mulai menjelma menjadi taman bermain buat keluarga, surga edukasi buat anak-anak dan “one stop solution” buat semua kebutuhan keluarga.

Karena itulah setiap akhir pekan tiba, Mall tidak pernah sepi dari pengunjung. Mall berubah menjadi taman berAC, yang penuh sesak dengan lalu lalang orang yang berwindow shopping ria. ☺ 

Tingginya jumlah pengunjung Mall tentu saja berdampak pada sulitnya mencari tempat parkir kendaraan, terutama mobil. Pengunjung tak jarang dipaksa untuk berputar putar cukup lama di areal parkir, hanya untuk sebuah spot kosong. Antrian panjang mobil di ruang bawah tanah Mall pun tak terelakan lagi dan sudah merupakan pemandangan yang lumrah.

****

Disinilah sebenarnya peran seorang petugas parkir di sebuah Mall. Mereka mengatur dan membantu para pemilik mobil untuk menemukan lahan parkir yang kosong. Petugas parkir di Mall memang selalu terlihat antusias membantu pengendara mobil.  Akungnya kalau diperhatikan baik baik, petugas cenderung lebih mendahulukan pengendara mobil premium dibandingkan mobil sejuta umat.  Tentunya perilaku ini dipicu oleh perolehan jumlah tips setelah membantu selesai mencarikan lahan parkir yang kosong.

Pemandangan “salam tempel” antara pemilik kendaraan dengan petugas parkir sudah menjadi hal biasa di sejumlah areal parkir Mall. Praktek seperti itu sudah berlangsung lama dan kelihatannya sudah mengakar dalam sekali. Management Mall pun sudah menyadari hal ini dan sudah ada beberapa yang “melarang” petugas parkirnya menerima tips dari pengunjung. Inisiatif yang jelas terlihat dilakukan adalah dengan menuliskan “No Tipping” pada seragam petugas. 

Tulisan “No Tipping” begitu jelas tertera pada bagian belakang seragam. Pertanyaannya seberapa efektifkah itu? 

****

Tulisan “No Tipping” pada seragam tidak semerta merta menghilangkan kebiasaan lama yang sudah mendarah daging ini. Ada urusan perut yang terlibat disana, ada budaya serba cepat juga, dan bahkan sudah ada mata rantai baru yang terbentuk. Tidak ada yang bisa disalahkan, dan hanya dibutuhkan kesadaran bersama untuk bisa memutuskan mata rantai itu. Semua komponen yang terlibat diharapkan mulai berkaca, bukan saling menyalahkan. 

Petugas yang menerima tips pada saat menggunakan seragam bertulisan “No Tipping” bisa dikategorikan sebagai tindakan korupsi. Sama seperti korupsi yang dilakukan oleh para tikus tikus Senayan dan elit politik korup lainnya. 

Kata orang bijak : orang berbuat salah karena tidak tahu itu salah, maka baik baik saja. Tapi kalau orang tahu itu salah dan tetap berbuat, baru itu masalah.

Betul, mereka tahu salah tapi tetap berbuat. Hanya saja mungkin untuk kasus petugas parkir, kita masih bisa mentolerir perbuatannya dengan berbagai pembenarannya. Manusia Indonesia memiliki tolerasi yang sangat tinggi, betul? ☺

****

Hanya saja jika dipikir pikir baik baik, pembenaran yang sering diberikan itu akan berdampak pada sesuatu yang tidak baik di masa yang akan datang.
Coba bayangkan….

Kalau kebiasaan tukang parkir itu diceritakan kepada istri dan anaknya. Perilaku tidak baik ini pasti secara perlahan akan tertanam dalam benak anggota keluarga, terutama anaknya. Anak petugas parkir ini adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Anak yang ketika dewasa akan berhadapan dengan praktek serupa dengan jumlah yang lebih besar lagi. Anak yang akan melumrahkan tindakan ini karena dulu orang tuanya biasa melakukannya tanpa perasaan bersalah.

Korupsi yang terjadi di Negara ini dimulai dari komponen terkecil yaitu keluarga. 

Kita tidak perlu ilmu pembangun karakter yang keren keren untuk dicekokin ke dalam kepala anak kita. Kita tidak membutuhkan ceramah yang panjang panjang untuk membuat anak berbuat jujur. Kita tidak perlu memaksa anak untuk membaca ayat ayat suci agar mengerti kalau korupsi itu dosa. Anak hanya butuh contoh. Dan kita semua sadar betul kalau anak adalah mesin fotokopi paling canggih yang pernah diciptakan. 

Memulai perilaku jujur dari dalam rumah dan orang tua sebagai role modelnya adalah langkah awal dari pemberantasan korupsi. Dan selamatlah Negara ini dari keterpurukan karena korupsi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s