Pengalaman Dipecat Ketika Bekerja, Belajar Yuk!

Team work by ARO
Team work by ARO

Aku rasa mayoritas orang akan sependapat dengan quote dibawah ini:

Memberikan seratus persen tenaga dan pikiran ke dalam pekerjaan yang sedang ditekuni adalah kunci mencapai sukses. 

Semua orang pasti pernah mendengarnya, membacanya bahkan sedang belajar menerapkannya. Tentunya definisi sebuah kesuksesan akan dikembalikan pada masing masing individu yang menjalaninya. Tapi pada intinya apapun yang dilakukan dengan tulus dan sepenuh hati pasti akan menuaikan hasil yang setimpal dan memuaskan. 

Keyakinan seperti ini baru aku pahami kebenarannya ketika masih duduk di bangku kuliah. Sebuah pengalaman yang tidak terlalu baik pernah aku alami semasa itu. Masih ingat tulisan aku mengenai pengalaman bekerja sebagai tukang cuci piring? 

 

****

Sekarang aku ingin menceritakan pengalaman ketika menjadi seorang pencuci piring part time pada sebuah restaurant Italia di Melbourne. Mencicipi pekerjaan ini, sebenarnya sudah ada lama di dalam benak aku sejak pertama kali memutuskan berkuliah di Negara orang. 

Sejujurnya aku penasaran dengan cerita orang yang berkata seperti ini:

 mencuci piring pada restaurant luar negeri itu menggunakan mesin dan kita tidak perlu repot repot lagi untuk bilas orderdil dapur yang berminyak.”

Dengan berbekal rasa ingin tahu itu, aku menerima tawaran seorang teman untuk bekerja di restaurant itu. Aku bekerja di shift malam, dari jam 6 sore sampai jam 12 malam, 3 kali seminggu. Upahnya lebih tinggi dari pekerjaan aku terdahulu sebagai tukang sayur. 

****

Hari pertama bekerja disana, atasan aku menjelaskan semua detail job diskripsi yang harus aku lakukan selama kurang lebih 6 jam di restaurant itu.

Berikut adalah kurang lebih job deskripsi pekerjaan sebagai seorang pencuci piring. ☺

Satu. Aku diwajibkan untuk mengawali pekerjaan dengan membersihkan toilet tamu terlebih dahulu. Didalamnya termasuk ngoset kloset, mengganti tissue dan memastikan toilet selalu dalam keadaan kering dan bersih dari waktu ke waktu. 

Dua. Aku berkewajiban mencuci semua piring, gelas dan peralatan masak yang dibawa oleh waiter ke dapur dengan sebaik mungkin.

Tiga. Aku harus memastikan piring dan gelas itu benar benar kering sebelum diserahkan kepada Chef untuk digunakan kembali.

Empat. Sebelum pulang, pastikan semua peralatan sudah dicuci bersih dan kemudian diletakkan pada posisi semula.  

Lima. Sebelum pulang, jangan lupa untuk kembali mengepel toilet dan dapur sampai bersih.

Begitulah kurang lebih Job diskripsi yang dijelaskan kepada aku sebelum memulai pekerjaan. 

****

Akupun memulai pekerjaan dengan ngoset, mengepel toilet, dan tentunya tidak lupa juga memastikan ketersediaan tissue di dalamnya.

Waktu mencucipun tiba….

Di dalam ruang kerja berukuran 3X2, aku dihadapkan dengan 2 buah zink (bak) cuci piring dan sebuah mesin pencuci piring. Ketika melihat mesin itu, hati aku langsung senang dan berbisik “ini dia nih mesin yang katanya otomatis itu.” Tapi apa gunanya kedua zink ini ya? 

Setelah aku dijelaskan panjang lebar bagaimana seharusnya aku nanti mencuci  dan menggunaan mesin itu. Diketahuilah bahwa mesin itu hanya digunakan untuk mensterilkan semua hasil cucian yang sudah aku lakukan secara manual sebelumnya. ☺ Dan dapat aku simpulkan bahwa tidak ada yang otomatis. Semua piring dan gelas kotor harus dibilas, disabunin dan dibilas lagi. 

Terjawab sudah rasa penasaran aku selama ini.

****

Aku bekerja cepat sekali, secepat jumlah piring kotor yang masuk ke dapur. Saking sibuknya tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat dan jarum jam sudah mulai menunjukan jam 12 malam.

Laju piring dan gelas kotor masuk ke dapur sudah berkurang dratis dan mulai digantikan dengan panji berminyak, wajan, dan peralatan masak besar yang digunakan Chef sedari pagi. Dengan waktu yang tersisa, aku harus bekerja extra cepat untuk dapat menyelesaikan semua pekerjaan itu tepat jam 12 malam, tidak boleh tidak.

Setelah itu, aku masih harus lari secepat kilat (sprint) ke stasiun kereta melalui jalan menanjak untuk mengejar jadwal kereta terakhir menuju rumah, yaitu jam 12.15.  Andaikan aku gagal naik kereta itu maka taksilah alternatif satu satunya dan sia sia pulalah semua jerih payah selama 6 jam tadi. Semuanya menguap untuk biaya taksi doang.

Seperti itu aku harus bekerja selama berbulan bulan. Akhirnya waktu liburpun tiba dan restaurant pun tutup untuk beberapa waktu. 

****

Waktu liburan usai. Dan aku sedih karena tidak dipanggil kembali untuk bekerja di restaurant itu. Dan yang membuat aku lebih sedih lagi, ternyata hanya aku sajalah yang tidak dipanggil lagi, sedangkan teman aku masih disuruh masuk kerja. 

Ada apa ini? Begitu tanya aku dalam hati.

Lalu aku mencari tahu apa yang telah aku lakukan hingga akhirnya aku tidak dipekerjakan lagi. Aku minta teman aku menjelaskan secara rinci apa yang dia lakukan selama bekerja di sana. Agar aku bisa tahu kekurangan dan kesalahan yang telah aku lakukan tanpa disadari, hingga kedepannya bisa lebih baik lagi. Jujur saja, aku tuh yakin sekali sudah mengerjakan semua dengan sebaik mungkin. Tapi kan baik menurut kita belum tentu baik untuk orang lain.

Akhirnya aku menemukan jawabannya.  Ada satu kesalahan yang aku lakukan. 

Aku tidak mengeringkan piring yang sudah bersih sebelum diberikan ke Chef (job no.3). Ini memang salah tapi aku tidak sengaja melakukannya. Dalam hal ini, aku memang tidak teliti. 

Piring yang sudah keluar dari mesin steril biasanya memang cenderung lebih kering. Dan aku meletaknya semua piring itu bertumpuk. Nah ini awal masalahnya, tumpukan paling atas selalu tampak kering, jadi aku berasumsi bahwa piring dibawahnya juga sama. Ternyata aku salah. Piring itu masih basah dan Chef harus mengeringkannya setiap kali mau menyajikan makanan. Hasilnya itu memperlambat kerja Chef. 

Itulah kesalahan fatalnya dan harus aku tebus dengan sebuah kenyataan pahit kalau aku tidak dipekerjakan kembali.

Pelajaran itu masih berbekas sampai hari ini.  Tapi jangan takut gagal, semua orang pernah mengalaminya. 

Kegagalan bukan akhir dari segalanya, tapi tidak berbuat apa apa setelah mengalami kegagalanlah yang sebenarnya membuat orang menjadi benar benar gagal akhirnya.(Aro)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s