Do what I say and Don’t Do What I Do

Mbecak by ARO
Mbecak by ARO

Judulnya menarik tidak tuh?  Kalimat itu dulu aku dengar pertama kali dari seorang dokter. Beliau adalah dokternya kantor aku yang dulu. Kantor aku yang lama memang memiliki dokter yang diberi wewenang untuk menerbitkan resep jika ada karyawan yang sakit. Tapi bukan untuk penyakit yang berat berat, paling paling hanya penyakit sekelas batuk, flu, dan demam seperti itu. Penyakit lebih berat dari itu, karyawan disarankan untuk mengkonsultasi ke dokter rumah sakit terdekat.

Waktu itu aku konsultasikan batuk yang tidak kunjung sembuh ke beliau.  Akupun langsung dibuatkan resep obat batuk racikannya dan sekaligus dinasehati untuk berhenti merokok secara total (dulu aku perokok, sekarang sudah tidak lagi). Ketika dinasehati itu aku hanya manggut manggut, sambil dalam hati berkata, “Berhenti merokok, lihat nanti aja deh ya Dok.” ☺ (bandel mode on).

Obat racikan dokter ini memang terkenal sangat manjur di kalangan kantor, karena baru beberapa hari saja aku meminumnya, batukpun perlahan-lahan mereda. Jadi akupun sudah bisa “standby” lagi di smoking room kantor. ☺

***

Pada saat aku sedang di ruang pesakitan itu, tiba tiba dokter ini masuk ke dalam ruangan. Ketika melihat sosok beliau yang sudah berada dihadapan, akupun malu sambil dalam hati berkata, “mampus nih, pasti dinasihatin lagi”. 

Tidak disangka ternyata beliaupun mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya. Akupun yang tadinya ketakutan, seketika itupun langsung tersenyum dan bertanya, “lah Dokter merokok toh? Kok kemarin menasihati aku untuk berhenti?” Sambil tersenyum dokter itu menjawab, “Do What I Say, Don’t Do What I Do”.  Akupun lanjut bertanya, “apaan tuh maksudnya Dok?”

Dokter nyentrik ini pun menjawab, “lakukan saja apa yang aku katakan, dan jangan lakukan apa yang aku lakukan. Karena aku juga manusia bisa buat salah dan tidak tahan godaan, maka jangan anggap kalau yang semua aku sarankan ke pasien pasti aku lakukan.” ☺

Dulu aku menganggapnya sebagai guyonon seorang dokter, tapi kalau dipikir pikir dengan baik ucapan dokter yang notabene teman aku ini, benar juga. 

***

Manusia pada dasarnya adalah tempatnya salah dan lalai. Tidak ada satupun manusia yang hidup saat ini yang tidak pernah berbuat salah.  Pasti semua pernah buat salah. 

Oleh karena itu, aku tuh saat ini bersyukur banget  kalau Tuhan tidak menampilkan semua kesalahan di depan lawan bicara aku. Coba bayangkan, kalau pada saat aku berbicara dengan teman teman dan keburukan aku semua terdisplay di samping kanan badan aku dan bisa dibaca dengan jelas oleh lawan bicara. Kemudian tidak ada satupun kesalahan yang luput tak tertulis disitu. Semua terlihat dengan jelas dan juga dilengkapi fasilitas “search”nya juga, sehingga mampu mencari-cari kesalahan aku sesuai dengan topik yang sedang aku bicarakan. 

Kalau aku lagi menasehati orang agar rajin ke gereja, maka absen ke gereja akupun bisa langsung dicari disana dan dilihat oleh lawan bicara aku. 

Kalau sudah begitu, masih sanggupkah aku menasehati lawan bicara aku. Aku sih malu, tidak tahu kalau orang lain. Eh mungkin di negara kita ini ada yang tidak malu loh, buktinya sudah ketahuan korupsi saja masih bisa ketawa ketawa.

***

Sekarang coba bayangkan juga, gimana kalau para pendeta, pastor, usthad dan para motivator yang sekarang sering nongol di Tv itu, dapat diperlihatkan semua kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini. Bisa bisa tidak ada satu orangpun orang di dunia ini yang akan berani nongol di TV. Hilang deh satu mata pencarian di dunia ini.

Maka dari itulah aku benar benar berterima kasih kepada Tuhan yang masih mau menutup nutupi semua dosa, cela, dan salah aku. Sehingga aku masih bisa sok sok-an menasehati orang kalau dibutuhkan. Coba kalau tidak, mana mungkin bisa melakukan semuanya dengan tenang. ☺ Termasuk nulis nulis hal hal yang tidak karuan di blog ini.

Jadi semua orang itu pasti pernah berbuat salah, termasuk orang orang yang kita kagumi dan selalu kita turuti semua nasihat baiknya. 

Apabila suatu hari ditemukan ada hal yang mengecewakan dari mereka, maka kitapun tidak seharusya menjauhi dan memusuhi  mereka, apalagi sampai ikut ikutan melupakan semua nasihat yang selama ini sudah diberikannya. 

Tapi ada baiknya untuk tetap mendengarkan nasihatnya dengan sebuah kesadaran dan kedewasaan yang lebih sempurna, sehingga sebagai seorang pendengar nantinya masih tetap bisa memilah milah mana yang baik, mana yang tidak, untuk dicontoh dan dilakukan. 

Intinya semua ini tergantung dari diri kita sendiri dalam memilah milah informasi yang diterima dan kalau ngefans jangan sampai benar benar buta. Kalau cinta juga jangan sampai cinta buta. 

Oleh karena itu, buat para pengunjung blog ini, camkan dengan baik prinsip ini sebelum membaca semua cerita yang tertulis diblog ini yaitu “Do what I say and Don’t Do What I Do”. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s