Donor Darah Untuk Seorang Penakut

Memotong Ayam by ARO
Memotong Ayam by ARO

Lagi mau nulis yang santai santai mengenai aktifitas keluarga seperti blogger blogger lain yang sering menceritakan kehidupan sehari harinya melalui blog mereka. ☺

Aku dapat merasakan kebahagian dan keharmonisan kehidupan keluarga mereka hanya dengan membaca tulisan-tulisan pada blog mereka. Dan menurut aku itulah indahnya ketika kita berbagi sesuatu yang indah kepada orang lain. Semoga seperti itu terus ya. Amin. ☺

Eih.. mau ngomong apa sih ini… sudah jangan panjang panjang pembukaannya, langsung tanjap gas ke inti topik.

Intinya adalah aku berdonor darah hari minggu kemarin. Titik. Itu Intinya. Selesai. ☺

Supaya cerita donor darah ini terasa lebih menarik maka aku tambahkan bumbu bumbu yang menghiasinya, selain supaya tulisan ini sedikit lebih panjang dan tentunya juga semoga teman teman mendapatkan sesuatu dari membacanya. Yeaaahhh.. dapat apaan…☺

***

Aku lanjutkan lagi cerita mengenai Donor Darah kali ini.

Setelah kelewatan 2 kali acara donor darah di kantor, aku rasanya kangennnnnn…… banget di ambil darahnya. Ini dia nih… kalau orang yang takut jarum mau “membohongi” orang agar mereka juga ikut donor darah. ☺ Padahal kemarin yang dua kali kelewatan itu juga memang disengaja, alias kabur…. ☺

Di tusuk jarum kok kangen. Tapi jujur nih… aku benar benar seneng donor darah loh.. Rasanya setiap kali melihat brosur, iklan dan flyer pemberitahuan acara donor darah, hati ini pasti terusik. Ciyeee mantap ya.  Apalagi sudah lama sekali tidak donor darah. Dan sesuai catatan di buku donor aku, terakhir menyerahkan diri kepada para “Vampire” PMI itu adalah di bulan December tahun lalu. Tapi kalau ingat jarumnya…. Eiiiiih, bikin merinding. ☺

Nah kebetulan minggu lalu, di gereja diadakan acara donor darah. Katanya kalau bulan puasa jumlah stok darah itu menurun, jadi gereja perlu menggalang para umatnya untuk menutup kekurangan itu. Tapi sebenarnya gereja ini rutin setiap 3 bulan melakukan acara donor darah dan seperti biasa aku juga selalu berhasil melarikan diri terus. Hehehe ☺

***

Rencana donor darah kali ini tidak boleh gagal lagi karena itu jauh jauh hari sudah aku sampaikan niat ini kepada istri dan anakku. Jadi donor darah kali ini aku ditemani istri dan anak aku. Biasanyakan kalau donor darah selalu di kantor.

Nah karena kali ini bersama keluarga, maka rasa takut akan jarum sebisa mungkin tidak kelihatan di depan mereka. ☺ Maklum kepala keluarga… ehm.. ehm.. rapihkan kerah baju. Jadi dengan rasa takut yang aku sembuyikan itu, akupun langsung mendaftarkan diri ke petugas donor darah.  Ini juga sebenarnya bagian dari trik & tip Donor Darah aku untuk mengurangi rasa takut itu. ☺ 

Sebelum berangkat ke gereja, aku sudah memberitahukan istri dan anak aku kalau nanti mau melakukan donor darah. Supaya mereka nanti juga bisa mengingatkan aku supaya tidak menyelonong boy pulang pura pura tidak tahu karena ketakutan. ☺

Kelihatannya usaha itu membuahkan hasil.  Istri aku diam-diam kelihatannya tertarik juga dengan donor darah, karena sebelumnya aku sering menceritakan manfaat Donor Darah kepada dirinya. Jadilah hari ini dia yang dengan getol mengingatkan aku kalau nanti setelah Misa di gereja ada Donor Darah. Hebatnya lagi tanpa ada unsur unsur pemaksaan dari aku, akhirnya istrikupun nekat melakukan donor darah ini untuk pertama kalinya. Plok… plok… Ini mungkin karena aku yang memasang muka tidak takut sama sekali ya. Gede rasa mode on. ☺ Buat suami suami, mungkin kalau takut sebaiknya harus tetap berani kalau di depan istri dan anak.

Resmi deh kami berdua hari ini jadi pendonor darah. Semoga bisa rutin ya.

***

Sedangkan Anak semata wayang aku yang masih berumur sembilan tahun dengan setia menemani kami berdua. Ketika aku dicus sama jarum dan terbaring diam diatas kasur portable milik PMI itu, muka anakku terlihat iba menghampiri aku dan bertanya “Papa, kenapa? Lagi apa?” Aku tersenyum menjawab, “Papa lagi donor darah. Kamu mau?” Ia menjawab “mau” dengan tegas walau aku yakin ia tidak mengerti akibatnya di tusuk jarum sebesar jarum jait karung hehehe… nakutin mode on ☺.

Tanpa terasa Donor Darahpun selesai. Lega rasanya hati ini. Plong… gitu. Indomie, susu dan telurpun sudah habis dilahap. Sesampainya di mobil,  anakku melihat tangan aku yang tertempel handyplast dan ia tiba tiba ngomong seperti yang aku ajari tadi “Nanti aku, kalau sudah besar baru boleh Donor Dalah”. Akupun tersenyum gembira, calon donor darah akan bertambah satu lagi.

Ayo teman teman yang masih takut sama donor darah, masa kalah sama anak aku ☺ 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s