Prestasi Akademis dan Kesuksesan Tidak Berhubungan

Tertidur Sejenak by ARO
Tertidur Sejenak by ARO

Dulu sewaktu booming Facebook, aku menemukan teman teman lama aku disana. Dari SD sampai kuliah. Hampir semua teman dekat dulu, sudah terhubung dengan account Facebook aku. Facebook sudah seperti buku kontak aku di internet. Jadi kalau mau mencari teman teman lama tinggal login ke Facebook saja, maka aku bisa menghubungi teman-teman dengan mudah.

Sekarang ada messenger (BBM, Whatapp, LINE, dan Telegram)   dengan ini semua akupun berhasil mengumpulkan mereka. Aku punya group-group berisi teman teman dari SD sampai kuliah juga disini.

Bedanya dengan Facebook? Dengan Facebook frekuensi komunikasi dengan mereka tidak terlalu sering, sedangkan dengan messanger rasanya komunikasi itu terasa lebih intens. Dengan messanger sudah beberapa kali pula reuni reuni kecil kecilan diadakan, dimana dengan Facebook hal itu sedikit lebih sulit untuk bisa terealisasi dengan baik, setidak tidaknya untuk aku.:)

Akhir-akhir ini, terjadi percakapan yang begitu sering pada messanger group aku. Kami berencana untuk mengadakan sebuah reuni untuk teman kelas satu sma dulu. Dari situ, kamipun mulai mengabsen satu-satu nama teman kita yang belum bergabung di group ini, masing masing mencoba mengingat-ingat nama anggota satu kelas kita. Ada yang ingat, ada juga yang tidak.

Yang mengejutkan aku adalah ketika salah satu teman menyebutkan beberapa nama yang sudah berpulang ke hadiratNya. Nama-nama itu begitu terkenal sehingga kita tidak perlu cape cape membongkar folder lama yang tersimpan di memori kepala ini untuk mengingat ingat muka mereka. Selain mereka itu anak berprestasi di sekolah secara akademis, mereka juga bintang bintang olah raga semasa sekolah dulu.

Yang menambah keheranan dan  sekaligus membuat aku cukup sedih adalah penyebab kepulangan mereka. Mereka semua berpulang karena tersangkut masalah narkoba.  Dimulai dengan cerita mereka mengalami gangguan jiwa sebelumnya, sampai akhirnya overdosis. Mereka anak anak berprestasi dulunya, para juara-juara kelas dan juga atlet berprestasi, malah sudah ada yang terjun ke dunia profesional. Tapi narkobalah yang membuat mereka kehilangan semua dan negara ini tentunya kehilangan putra putri terbaik mereka.

Disisi yang lain, teman teman yang dulunya aku tahu itu bandel dan sering menjadi langganan dipanggil guru BP karena ketahuan merokok di sekolah, bawa pil koplo ke sekolah, bawa minuman keras ke sekolah sampai ikut tawuran antar sekolah malah kelihatannya lebih sukses dibandingkan mereka yang berprestasi di sekolah dulu. Mereka semua malah bisa dibilang sukses dan menjadi manusia yang berguna atau setidak tidaknya tidak merepotkan negara. Mereka ada yang jadi pengusaha, ada yang udah jadi manager bahkan jadi pendeta.

Lalu pertanyaan aku adalah kenapa mesti terbalik… ? kenapa mesti seperti itu? apa yang salah? perlukah kita menjadi nakal dulu sehingga berhasil nanti dikemudian hari. Tidak bisakah kita terus berprestasi dan sukses sampai tua?

Akupun tidak tahu ini salah siapa? akupun tidak bisa menjawab itu semua. Tapi yang jelas kita harus berusaha menjaga jarak dengan narkoba ini.  Tapi bukan dalam tatanan dimusuhi habis habisan sampai akhirnya kita tidak punya waktu untuk belajar mengenalnya sebagai sebuah pengetahuan.

Kata orang bijak:

Pelajari sebanyak-banyaknya mengenai “musuh” kita,  maka kita akan dengan “sadar” melakukan apapun untuk mengalahkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s