Happy Mother is a Good Mother (Seorang Ibu Harus Selalu Bahagia)

Tatapanmu by AROTatapanmu by ARO
Tatapanmu by ARO

Masih ingat dengan tulisan aku yang berjudul MEMBELI WAKTU? Artikel yang bercerita mengenai Adya, teman aku, yang memilih menjadi Ibu rumah tangga hanya untuk mengasuh anaknya tanpa pembantu atau baby sitter. 

Melihat banyak sekali respon dari para Ibu Ibu terhadap tulisan itu, baik yang mendukung ataupun yang tidak mendukung, maka di artikel kali ini Adya memiliki cerita dari seorang Ibu yang memiliki prespektif lain dari dirinya.

Silakan membaca dengan seksama…. ☺

***

Adya memiliki teman seorang wanita karir yang sangat sukses.  Sebut saja namanya Sinta. Ia adalah seorang Direktur salah satu perusahaan ternama di Indonesia.  Hari-hari Sinta dihabiskan di kantor demi mengejar karir dan mimpinya. Menurut dia, bahwa wanita juga harus bisa sukses seperti lelaki dan tidak melulu harus selalu menjaga anak di rumah. Wanita juga harus bisa tampil cantik dan tidak dasteran saja di rumah. ☺ 

Jadi karena prinsip itulah Sinta akhirnya merelakan anaknya di rawat oleh baby sitter di rumah. Setiap hari sebelum ke kantor, ia mengatur semua kebutuhan anaknya dengan detail dan memberikan “petuah” itu kepada baby sitternya. Dengan begitu, Sinta dapat memastikan bahwa anaknya mendapatkan perhatian dan asupan yang berkualitas dari baby sitternya. Ia juga memperhatikan penggunaan alat alat seperti sendok, odol, sabun dan segala hal yang menurutnya dapat mendukung tumbuh kembang anaknya. Setiap di kantorpun ia juga tidak pernah luput untuk memantau kondisi anaknya.  Ia sangat mencintai anaknya tapi ia juga mencintai pekerjaannya. Saat ini ia merasa bisa mengatur semuanya itu dengan baik.

Tapi dibalik kesuksesan seorang Sinta tenyata dia dulu pernah mengalami sebuah dilema yang mungkin bisa dijadikan pelajaran buat kita semua.

***

Suatu hari Sinta mendapatkan titah untuk pengembangan diri ke luar negeri dari atasannya. Ia dianjurkan untuk mengambil kursus bisnis di salah satu universitas terkenal di Amerika selama enam bulan. Sinta merasa sangat senang mendapatkan kesempatan itu dari kantornya, ini membuktikan kalau usahanya dengan meninggalkan anaknya dirumah selama ini tidak sia sia.

Ternyata diketahui bahwa ia tidak sepenuh senang dengan berita itu. Sinta merasa galau dan bingung, karena dengan kepergiannya nanti selama enam bulan ke Amerika maka ia harus meninggalkan anaknya dan mempercayakan sepenuhnya kepada suami atau baby sitternya.

Ia tidak mau membiarkan anaknya tidak melakukan rutinitas yang sudah ia pastikan kualitasnya. Karena seperti masalah klasik rumah tangga lainnya, biasanya suami adalah orang yang sering merusak ritme dan konsistensi yang sudah diterapkan oleh Ibu kepada anaknya. Sinta tidak mau itu terjadi.

Sinta berpikir keras untuk memastikan itu tidak terjadi. Akhirnya sampailah ia pada sebuah kebuntuan. sehingga ia menceritakan masalah ini kepada Adya temannya. 

Sinta meminta masukan bagaimana kalau ia ingin membawa anaknya ikut ke Amerika bersamanya selama 6 bulan. 

***

Adyapun kagum dengan kekerasan hati sabahatnya ini. Maka dengan tenang ia bertanya kepada Sinta, “Sin, apakah kamu mengajak anakmu itu karena kamu atau karena anakmu?” Ditanya seperti itu Sinta diam saja tidak menjawab. Adyapun melanjutkan pertanyaannya, “Apakah kamu sadar bahwa saat ini anakmu sudah punya kehidupan yang bahagia di sini, seperti kehidupannya di sekolah, kebersamaan dengan Ayahnya dan teman teman di sekolah musiknya? Kamu yakin kalau keputusanmu itu adalah terbaik untuk anakmu?” Sinta masih diam. 

Adya makin diatas angin melihat temannya tetap terdiam, iapun bertanya kembali, “Apakah kamu merencanakan ini hanya karena kamu ingin menghilangkan rasa bersalahmu saja? Karena kamu merasa dengan meninggalkan anakmu selama itu keluar negeri maka kamu merasa dirimu tidak menjadi Ibu yang baik?”

Melihat Sinta yang masih tetap diam saja, Adyapun menjelaskan, “kamu harus merelakan salah satunya, tidak bisa dua duanya. Mana yang bisa membuatmu bahagia sebenarnya?” Sinta menjawab lirih namun tegas, “Aku mau sekolah ke Amerika, ini cita cita aku tapi aku juga mau anakku baik baik saja.” 

Mendengar jawaban dari sahabatnya itu Adya tersenyum dan  menambahkan, 

“kalau sudah begitu, maka pergilah ke sana. Biarkan anak anakmu disini di jaga oleh ayah dan baby sitternya. Anakmu pasti di tangan orang yang baik.

Oh ya satu hal lagi Sinta, Happy Mother is a Good Mother.  Jadi kalau kamu bahagia maka anak anakmu juga akan merasakan kebahagian itu. Ibu yang bahagia akan lebih mudah memberikan kebahagian kepada anak anaknya.

Ia bukan urusan dekat atau jauh Ibu dari anaknya, tapi masalah ketulusan yang akan seorang Ibu berikan kepada Anaknya.

Jadi mau menjadi 100% ibu rumah tangga atau wanita karir sekalipun kuncinya adalah seorang Ibu harus selalu bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s