Membeli Waktu Dengan Bekerja Keras, Perlukah?

Diatas Becak by ARO
Diatas Becak by ARO

Aku pernah menulis mengenai seorang Ibu yang mengeluh kalau anaknya susah makan. Ibu itu yang kebetulan teman aku, Adya namanya. Baguskan namanya? katanya sih artinya hadiah, mungkin dimaksudkan kalau ia adalah hadiah dari Sang Kuasa kepada keluarga.

Beliau mengetahui bahwa percakapan antara aku dan dia di chat beberapa waktu sudah menjadi artikel dan ternyata komentar-komentar dari pengunjung membuatnya menjadi lebih tenang menghadapi anaknya yang susah makan itu.

Dengan alasan itulah, ia menghubungi aku kembali untuk menceritakan pengalaman menariknya ketika memberikan ASI selama 2 tahun untuk anaknya.

***

Cerita ini bermula dari sebuah cita cita sebelum Adya ini menikah dengan suaminya. Adya selalu memimpikan untuk  menjadi seorang ibu rumah tangga professional. Dan ternyata iapun beruntung sekali bertemu seorang yang sangat mencintai dirinya dan dapat memahami keinginannya untuk menjadi Ibu rumah tangga. Ia ingin sekali merawat dan mendidik anaknya dengan tangannya sendiri tanpa bantuan baby sitter, seperti yang dilakukan kebanyakan orang.

Ia sangat mengidolakan Ibunya yang memang telah membesarkan dirinya tanpa bantuan baby sitter atau pembantu rumah tangga. Mungkin dulu Ibunya tidak mampu membayar pembantunya, tapi tidak dengan dirinya yang memang dalam kondisi mampu membayar baby sitter professional, dan  Ia tetap tidak mau menggunakannya.

Yang lebih hebatnya lagi, ternyata Ibu Adya sudah berhenti kerja sejak memutuskan untuk punya memiliki anak. Dia tinggalkan semua jabatan yang sudah capai, terakhir jabatannya adalah seorang  marketing manager di salah satu perusahaan asing di Jakarta. 

***

Kemudian aku coba tanya kenapa kok sampai nekat meninggalkan itu semua, terutama hinggar bingar pertemenan dunia perkantoran dan memutuskan dalam sebuah kesendirian tanpa teman dan keramaian di rumah.  Jangan jangan nanti kerjaan kamu hanya nelponin suamimu karena kesepian dan hal hal yang mendukung lainnya. Apakah  kamu yakin bisa menjalani ini semua?

Ia pun menjawabnya dengan jujur, “terus terang aku benar benar kehilangan itu semua di hari hari pertama aku di rumah, tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Aku mendadak menjadi orang bloon tanpa arah. Tapi sering berjalannya waktu aku bisa menikmatinya, banyak kegiatan yang dulunya aku mau lakukan tapi tidak bisa, sekarang sudah bisa dilakukan. 

Setelah beres beres rumah dan menunaikan pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga, aku bisa menikmati kesendirianku mengerjakan hal hal yang aku senangi. Apalagi sekarang sudah ditemani bayi kecil yang lucu, yang mampu menghilangkan semua rasa cape ketika bersamanya.”

Ia pun menikmati setiap detiknya bersama seorang anak yang di cintainya dan benar benar menikmati pekerjaannya sebagai Ibu rumah tangga.

***

Akhirnya aku nekat untuk menanyakan hal yang paling sensitif yaitu masalah keuangan. Bagaimana dengan keuangan kamu sekarang? Dulu ada dua income sekarang tinggal satu, gimana mengatasi kekurangan income sebesar itu?

Ia menarik nafas dalam dalam kemudian tersenyum dan mulai menjelaskan. “Beginiloh mikirnya. Berapun uang yang kita miliki tidak akan cukup membeli semuanya. 

Kita bisa membeli cinta, membeli senyum anak kita, membeli ketulusan pertemenan kita, membeli semua yang kita inginkan dan semua hal bisa kita beli. Tapi kita butuh banyak uang untuk membeli itu semua atau kita tidak butuh uang sama sekali untuk membeli itu semua. Karena pada dasarnya yang kita beli adalah waktu.

Tuhan memberikan waktu sama buat semua manusia yaitu 24 jam. Lebih dari 50 persen waktu kita habis untuk mencari uang dan isitrahat. 

Nah, dengan memiliki pembantu kita mulai membeli waktu sedikit, sehingga kita tidak perlu mengerjakan beberapa hal karena sudah dikerjakan oleh pembantu. 

Nanti kalau punya duit lebih banyak lagi, kita mulai membeli waktu untuk bisa meninggalkan pekerjaan kita untuk menikmati waktu yang lebih lama dengan keluarga kita, dan kita akan membeli dan terus membeli waktu sehingga kita sanggup memberikan cinta dengan tulus, perhatian dengan sepenuh hati kepada orang orang yang kita cintai. Akhrinya kalau di hitung hitung kita sebenarnya tidak punya banyak uang juga khan.

Jadi sebenarnya untuk melakukan itu semua, kita tidak butuh banyak uang, tapi yang dibutuhkan hanya sebuah kesadaran bahwa mengapa kita harus mencari uang sebanyak itu untuk membeli waktu toh sebenarnya sudah disedikan gratis oleh Sang Pemilik Waktu itu sendiri. 

Kita hanya butuh sedikit waktu untuk berhenti dan menyadari itu semua, kalau ternyata yang dicari selama ini hanya bermuara pada satu hal. Yaitu kebahagian hidup kita, jika melihat orang lain bahagia juga. Dan bahagia itu bukan karena uang, tapi waktu yang kita berikan untuk orang yang kita cintai. Jadi jangan buang buang waktu untuk mencari uang sebanyak banyak sehingga mampu membeli waktu dan kemudian baru memberikan perhatian yang berlebih kepada mereka. Aku takut itu sudah terlambat.

Wow… aku sampai tidak sanggup berbicara lagi.. aku ada diruang antara mengerti dan tidak mengerti.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s