Perpaduan Antara Bisnis dan Kejujuran, Apakah Bisa?

Tukang Ketoprak by ARO
Tukang Ketoprak by ARO

Long weekend memang paling asyik karena kita mendapatkan waktu untuk bisa mengerjakan hal hal yang sudah lama tidak dilakukan. Aku memang selalu menunggu kesempatan seperti ini, karena aku tergolong orang yang jarang cuti, jadi kalau mendapakan cuti bersama seperti ini kok rasanya senang sekali.

Untuk mengisi liburan panjang kali ini, akupun berencana untuk mengurusi tanaman di samping rumah yang memang sudah lama sekali tidak aku perhatikan dengan baik. Pikir aku mumpung sekarang ada kesempatan jadi aku mau mengganti semua pot tanaman adenium yang sudah tidak cukup lagi, akibat batangnya yang sudah membesar.

Akupun pergi ke salah satu toko pot dekat rumah. Entah kenapa toko pot kalau di hari liburan seperti ini selalu banyak pengunjungnya. Mungkin banyak juga orang yang senasib dengan aku, suka tanaman tapi karena keterbatasan waktu baru bisa mengurusinya dengan baik jika ada liburan panjang seperti ini.

Setelah aku mengambil beberapa pot dengan ukuran yang sudah aku rencanakan beli dari rumah beserta media tanamnya, akupun mengantri untuk membayar.

Disela sela waktu mengantri, aku mendengar percakapan seorang Ibu pembeli dengan pemilik toko di depan meja kasir. 

Begini kurang lebih percakapannya.

“Ci, boleh minta bon kosong tidak?” tanya Ibu pembeli tadi kepada pemilik toko. “Untuk apa Ibu? Aku kan sudah memberikan bon asli pembelian dari toko ini” tanya Enci pemilik toko. 

Tanpa perasaan malu malu Ibu tadi menjelaskan maksud dan tujuannya ia meminta bon kosong, “Ya buat nanti aku kalau mau menagihnya ke kantor.” Kelihatannya Enci itu sudah paham betul maksud dari penyataan itu, dan kemudian iapun menjawab, “Maaf Ibu, aku hanya bisa memberikan bon resmi yang sudah dicetak dari sistem toko ini, bon kosong tidak dapat diberikan begitu saja, nanti aku tidak bisa mempertanggungjawabkan isinya”.

Ibu pembeli terdiam sejenak sambil berpikir dan kemudian  ia melanjutkan membujuk Enci pemilik toko untuk memberikan bon kosong yang dimaksud, “Ayolah Ci, aku jamin toko enci tidak akan kenapa-napa?”. Enci itu lalu menjawab dengan tegas dan mulai sebel kelihatannya, “Maaf sekali lagi Ibu, Bon kosong tetap tidak dapat aku berikan”. Melihat situasi ini, Ibu pembeli itu tidak kehilangan akal Ia mulai mengancam dengan tidak jadi membeli semua barang yang sudah diikat dan siap dibawa keluar itu, ” kalau Enci tidak mau kasih bon kosongnya, aku tidak jadi saja belanja semua barang ini di sini”. Sambil menunjuk barang yang cukup banyak yang sudah ia akan beli.

Kali ini Enci pemilik toko yang gantian terdiam, sejenak iapun terlihat bimbang. Jika ia tetap menolak memberikan bon kosong itu, ia dapat dipastikan akan kehilangan uang yang cukup banyak di pagi hari dan tentunya juga pembeli ini tidak akan kembali lagi. Dan ini akan sangat merugikan tokonya. Akhirnya iapun menjawab, “maaf Ibu, aku tetap tidak akan memberikan bon kosong, dan tidak apa apa pula jika Ibu tidak jadi membeli disini. 

Jawaban itu membuat aku kaget sekaligus kagum sambil senyum senyum sendiri.

Karena malu akhirnya Ibu pembeli itu pergi meninggalkan toko itu tanpa membayar dan kelihatannya ia marah besar. Tanpa menunggu lama, Enci itupun langsung menyuruh karyawannya untuk membongkar semua barang yang sudah di bungkus dan mengembalikan ke tempat semula.

Melihat itu akupun makin kagum sama Enci ini. Ketika giliran aku membayar, akhirnya aku tanyakan kepada Enci itu apa alasan yang membuatnya untuk tetap menolak memberikan bon kosong kepada Ibu pembeli tadi. Padahal menurut aku tidak ada ruginya dia tetap memberikan bon itu. Kesempatan mendapatkan uang sebanyak itu kan bukan perkara mudah untuk toko sekecil ini.

Enci itupun menjawab, “tidak perlu kita kuatirkan rezeki akan datang dari mana, tapi menjadi orang jujur jauh lebih penting dari sekedar uang yang akan kita terima. Aku takut sama Tuhan. Dan aku percaya kalau rezeki akan Dia berikan kepada kita yang selalu ada dijalannya. Aku percaya kalau orang jujur juga bisa maju dalam usahanya dan menjadi kaya. Bukan Jujur itu ajur kata orang jawa, sambil ketawa.

Akupun seperti biasa cuma bisa manggut manggut tanda setuju. Setelah membayar, akupun izin pamit  sambil menenteng pot yang baru saja dibeli. Sambil berdoa, semoga semakin banyak yang seperti ini di negara ini. Negara ini butuh orang seperti Enci ini lebih banyak lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s