Memotivasi Dengan Pujian atau Penghinaan, Mana Pilihanmu?

Melukis by ARO
Melukis by ARO

Pagi ini saya mendapatkan pesan singkat dari Adya. Dia adalah teman saya. Adya sangat mencintai anak-anak dan ia juga perhatian sekali dengan proses pendidikan mereka baik itu di keluarga maupun di sekolah.

Kali ini Adya menceritakan kepadaku sebuah cerita untuk dapat dituliskan di blog ini. 

Cerita ini bermula dari keluhan seorang anak kepada dirinya. Kita sebut saja nama itu adalah  Andi.

Andi adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia terlahir sebagai anak yang cukup pendiam dan sangat cerdas. Kecedasaannya ia tunjukan dengan beberapa prestasi yang telah diperolehnya, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Andy selalu mendapatkan ranking satu di sekolahnya mulai dari pendidikan dasar sampai SMA. Beberapa prestasi diluar sekolah seperti menjuarai lomba debat tingkat nasional, olimpiade matematika tingkat national dan akhirnya ia pun dapat menghirup sejuknya udara salah satu negara di eropa karena prestasinya di bidang matematika. Karena itu pula akhir

nya ia mendapatkan bea siswa di salah universitas terkenal di Amerika. 

Melihat semua prestasi yang telah diperoleh oleh Andi, orang tua mana yang tidak bangga dengan dirinya. Tidak ada satu orang tuapun di dunia ini yang tidak bangga melihat dirinya.

Tapi ternyata tidak dengan Andi. Ini terungkap ketika terjadi sebuah pertengkaran kecil antara Andi dengan Ayahnya mengenai pilihan jurusan di Universitas nanti.  Dalam debat mulut antara anak dan ayah itu, keluarlah kata kata dari mulut Andi yang patut menjadi perhatian kita semua. 

“Ayah selama ini tidak pernah bangga dengan Andi, padahal Andi sudah melakukan apapun untuk membuat Ayah bangga, tapi selama ini dengan segala prestasi yang telan Andi terima,  tidak pernah satu kata pujianpun keluar dari mulut Ayah.” 

Ayahnyapun terdiam tak mampu menjelaskan apa apa lagi sambil melihat anaknya itu meninggalkan dirinya yang berjalan menuju kamarnya. 

Berkaca dari cerita diatas, ada baiknya buat kita untuk bertanya sudah berapa banyak kata kata pujian yang kita keluarkan untuk anak, istri, orang tua, teman, orang orang lain sekitar kita.  Kata kata yang seperti apa yang sering keluar dari mulut kita ini?

Untuk kasus kasus tertentu, memang kata kata yang merendahkan dapat memacu semangat kita, tapi kemungkin besar terdapat kandungan amarah dan dendam di dalamnya. Itu adalah metode pendidikan anak jaman dulu. 

Pendidikan saat ini lebih menekankan pada pembangunan pemikiran pemikiran positif. Dengan pujian pujian yang diberikan kepada lawan bicara diyakini dapat membantu mereka untuk berpikir lebih positif dan  meningkatkan rasa percaya diri untuk melakukan hal hal yang lebih baik lagi.

Jangan sampai kasus Andi terjadi kepada anak, orang tua, teman dan orang orang sekitar kita. 

Luka bekas paku pada kayu akan selalu berbekas sampai kapanpun. Maka belajarlah untuk lebih banyak berkata kata positif kepada siapapun juga. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s