Wahyu Menabrak Nenek-Nenek Di Jalan

Tatapanmu by ARO
Tatapanmu by ARO

Yu… Yu… denger denger dirimu habis nabrak nenek nenek di jalan? Tanyaku kepada Wahyu. “Wus.. bukan nabrak tapi menyerempet sedikit?” Tegasnya kemudian sambil tersenyum. “Lah bedanya apa toh? khan sama saja.” Tanyaku lagi. “Aku juga tidak tahu apa bedanya tapi rasanya bedalah” jawabnya sambil tertawa tanda kemenangan karena telah mengerjai diriku.

“Jadi piye… piye… ceritane?” kejarku lagi (kepo mode on). “Sudahlah, aku males menceritakan ulang kejadian itu,” balasnya enggan. “Ayo lah, kali kali bisa buat tulisanku di blog” aku menyembah nyembah sambil berlutut kemudian guling guling kayak anak kecil agar Wahyu mau cerita.

“Yo wes, aku ceritakan nih. Kamu duduk baik baik disana? Sambil nunjuk  salah satu kursi yang letaknya tidak beberapa jauh dari diriku.

“Tadi pagi mau ke klien, tapi baru saja jalan kurang lebih 50 meter dari kantor, persis di depan warung tegal. Dipinggir jalan, aku melihat seorang ibu berjalan miring seperti orang pincang begitu. Untungnya mobil masih pelan, setelah moncong mobilku melewati si Ibu, tiba tiba terasa ada yang telah menabrak spionku. Dan seketika itu juga mobil aku hentikan. Aku melihat apa yang telah menabrak mobilku barusan. Seingatku, aku berjalan tidak terlalu pinggir dan memang sengaja menghindari Ibu yang berjalan miring tadi. Tapi ternyata aku salah. Aku melihat Ibu itu sedang terduduk di bahu jalan, sambil memegang tangannya. Kelihatannya beliau kesakitan. Aku segera bergegas keluar dari mobil dan menghampiri beliau dan melihat kondisinya.  Tangannya bengkak dan terlihat terkilir. Kelihatannya bukan karena benturan dengan spionku tapi akibat beliau terjatuh.”

Orang-orang sekitar situ sudah ramai mengerumuni untuk melihat kejadian itu. Diantara kerumunan itu ada seorang tukang ojek membelaku, “ini bukan salah mobilnya, tapi Ibu ini yang jalannya miring miring”. Aku tetap diam saja dan berpikir keras bagaimana menyelesaikan masalah ini dan akhirnya aku putuskan untuk membawa Ibu ini ke rumah sakit. Sebelumnya diantar ke rumahnya yang tidak jauh dari kantor. 

Setelah sampai di rumah, keluarga Ibu itu memutuskan membawa ke tukang urut saja, mungkin hasil konsultasi dan saran dari tetangganya juga. 

“Terus, dirimu disuruh ganti? tanyaku lagi. “Iya”, jawabnya pelan. “Loh khan bukan dirimu yang bersalah kok di suruh ganti”. komentarku tanda tidak setuju.

“Betul sebenarnya memang bukan salahku, tapi bagaimanapun pasti ada andil salahku pada kecelakaan ini. Bagaimanapun mobilku telah menyenggol Ibu itu sampai tangannya terkilir, setidak tidaknya aku coba membantu meringankan beban Ibu itu dari sisi biaya pengobatan. Coba bayangkan kalau kejadian ini menimpa orang tua kita?”  jelasnya lagi agar aku sedikit berpikir.

Aku hanya mengganguk tanda setuju sambil bertanya, “Dirimu  disuruh bayar berapa ke Ibu itu?” Wahyu menjawab, “permintaan keluarganya sebagai ganti rugi pengobatan sebesar x jt”. Aku langsung terkejut melihat angka yang begitu besar untuk masalah terkilir yang bukan disebabkan oleh dirinya, “Wah pasti “dikerjain tuh dirimu Yu, masa ke tukang urut saja sampai juta juta gitu sih”

Wahyu seperti biasa hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa apa dikerjain juga, yang penting aku sudah bertanggung jawab. Mau dibohongin atau dikerjain sama mereka, itu sudah urusan mereka dengan Tuhannya. Bagian aku hanya bertanggung jawab saja. Toh uang bisa dicari lagi. Yang penting Ibunya sembuh. Selesai”.

Sayapun duduk terdiam tak membalas jawabannya itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s