Menjadi Kuli dan Belajar Menikmatinya

Pekerja keras by ARO
Pekerja keras by ARO

Ini adalah cuplikan teks pidato Presiden Soeharto ketika mengundurkan diri dari Jabatan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sejak beberapa waktu terakhir, saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara …

Dengan memperhatikan keadaan diatas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan Pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan Pernyataan ini, pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998 …

Pidato selengkapnya dapat di cari sendiri di google ya.

Masih teringat jelas ketika kata “berhenti” terucap dari mulut Presiden Soeharto waktu itu, hampir semua mahasiswa Indonesia di seluruh pelosok dunia seketika bersorak gembira. Termasuk aku waktu itu yang menyaksikannya di kantin kampus salah satu Universitas di Australia. Jiwa muda ini langsung bersorak gembira, serasa menang perang dan bersiap menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya. Sok banget ya ☺ biarin deh. Hasilnya ternyata seperti sekarang ini hiks… 

Tapi apa mau dikata, kebahagiaan mendengar pengunduran diri Presiden Soeharto ternyata hanya berlangsung sekejap saja. Kondisi ekonomi Indonesia saat itu semakin memburuk dan itu bisa dilihat dengan semakin menurunnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Walhasil, akupun mulai mendengar satu satu teman-teman mahasiswa di Australia berpamitan pulang kampung tidak melanjutkan kuliahnya. 

Ancaman pulang kampungpun tidak hanya melanda teman teman aku saja, tapi aku dan teman teman satu apartmen juga dihantui ketakutan yang sama. Ditemani siaran mengenai Indonesia di saluran TV ABC Australia, hari itu akusemua seperti biasa berkumpul di ruang tengah, membicarakan masa depan akudi Australia.  Akhirnya akuputuskan untuk tetap melanjutkan kuliah disini dengan semua resikonya. 

Termasuk dengan pilihan untuk mencari pekerjaan part time di sini, untuk menambah nambah uang kiriman orang tua yang sudah mulai seret. 

Teman teman diluar sana yang juga memutuskan untuk tetap tinggal di Australia sudah ada yang terlebih dahulu memulai bekerja. Ada yang bekerja sebagai tukang antar pizza, tukang cuci piring, waiter, dan masih banyak lagi yang lain. Bahkan ada pula yang tiba tiba mulai aktif dengan kegiatan gereja. Bukan karena taat, tapi karena makanan. Karena biasanya disetiap acara gereja selalu diakhiri dengan acara makan makan. Lumayan hitung hitung perbaikan gizi dan mengurangi biaya hidup.

Tuhan memang baik, tidak terlalu lama dari akumemutuskan untuk tetap tinggal, akupun sudah diberikan pekerjaan sebagai tukang sayur di Victoria Market. Ini adalah pasar traditional yang paling terkenal di siantero negara bagian Victoria. Aku bekerja kepada seorang imigran cina juragan sayur dan buah. Tugasku adalah membantu dirinya berjualan sayur pada hari sabtu dan minggu dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. 

Sehingga setiap Sabtu dan Minggu, aku sudah harus memulai aktifitas dari jam 5 pagi, dimana biasanya aku masih meringkuk dibawah selimut. Kali ini sudah harus bangun membuat sarapan roti untuk ganjal perut dan lari mengejar tram (kereta listrik) yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah. Waktu tempuh dari rumah ke Victoria market kurang lebih memakan waktu 45 menit. 

Sambil terkantuk kantuk dan menikmati kehangatan di dalam tram, akhirnya sampai juga di pasar. Akupun langsung di giring ke gudang penyimpanan buah dan sayur milik boss untuk memindahkan isinya ke pasar untuk dijual. Jarak antara gudang dan pasar kurang lebih sejauh 300 meter. Jika sedang beruntung salah satu dari akubisa naik mobil ke pasar ikut boss dan yang sial akan membawa barang barang dagangan menggunakan trolley folk lift tangan (aku lupa namanya, dulu sering dipakai sama tukang angkut drum minyak tanah) sampai ke tempat tujuan.

Seumur umur aku baru pertama kali menggunakan alat itu, tapi aku sudah disuruh mengangkat barang barang yang besar dan disusun tinggi sekali. Bahkan susunannya saja bisa membuat aku tidak bisa melihat jalan di depannya. Kadang saking beratnya, setelah sampai di pasar untuk mengangkat tuasnya saja butuh upaya tersendiri (walaupun suatu hari ditemukan cara mudahnya).

****

Setelah selesai membawa semua barang dagangan ke pasar, akupun menyusun semua buah dan sayur agar tampak menarik dan dipasangi harga diatasnya sebelum dijual

Ngomong ngomong mengenai harga, kalau berjualan disini harus pinter matematika. Ini aku kasih ilustrasinya agar mudah dimengerti, misalnya harga toge itu 100 gramnya adalah $1.2, sedangkan orang-orang yang beli selalu bilangnya “handfull (satu tangan penuh)”. Nah kalau toge seukuran handfull itu ditimbang, maka beratnya kurang lebih 65 gram, jadi berapa kira kira harganya? Susahkan. Pake kalkulator saja mencetnya lama, apalagi menghitung pake otak.

Disatu sisi boss aku sudah terampil menghitung seperti itu, tanpa perlu repot repot sebuah angka sudah keluar dari mulutnya. Sedangkan aku baru melihat angka jarum timbangan di huruf 65 saja langsung bingung. Balok balik, lihat timbangan dan tumbukan toge sambil memproses hitungan itu di kepala, biar tidak kelihatan tolol, dahipun dikerutkan biar ketahuan kalau sedang mikir. Kalau terpaksanya ngasal, maka satu angkat keluar dari mulut, mau bener atau tidak urusan nanti, yang penting konsumen tidak menunggu dan akupun tidak terlihat oon. ☺

Kondisi harga seperti itu ada dibeberapa barang dagangan lain, seperti sayur bayam dan cabe. Coba bayangkan kalau belinya banyak macem sayur yang memiliki hitungan serupa, bisa gila jumlah jumlahinnya kan? 

Kesulitan itu ternyata bukan aku saja yang ngalamin, hampir semua teman satu apartment mengeluhkan masalah itu.

Begitulah cerita harga yang membingungkan aku, tapi akhirnya kamipun menemukan rumus praktisnya untuk memudahkan perhitungan. 

****

Lanjutkan cerita….

Setelah semua barang tersusun rapih dan toko sudah siap menyambut pembeli. Maka akupun disuruh berdiri seharian di toko tanpa tempat duduk itu, kalau lagi sial salah satu dari aku disuruh ikut sama boss ke pasar dan bantu angkut angkut belanjaan lagi. Kondisi berdiri selama hampir 12 jam diawal awal kerja merupakan siksaan tersendiri karena mampu membuat badan ini serasa meriang akibat telapak kaki yang sakit sekali. Rasanya seperti demam, ini tidak mengada ngada, rasanya masih terasa ketika aku menuliskan ini. ☺ 

Untuk mengurangi rasa sakit, aku biasanya izin ke toilet dan duduk duduk di sana meluruskan kaki. Nah sialnya setiap keluar dari toilet kepergok sama anaknya si boss. Hehehe makin runyam kalau kalau dilaporin bapaknya, biasanya disogok dengan sebatang rokok. ☺

Selama kerja disana, hal yang paling menyenangkan yang selalu teringat sampai saat ini adalah waktunya makan. Makan selalu disediakan oleh boss berikut dengan kotak makanan plastik sebagai piring. Akuboleh mengisi nasi suka suka hati, tapi sayurnya tetap dibatasi karena kelihatannya jatah lauk sudah dihitung dengan baik sesuai dengan jumlah karyawannya. 

Rasa lapar yang sudah ditahan dari pagi karena hanya makan roti tawar saja plus ditambah kerja angkut angkut selama setengah hari membuat maag di perut ini terasa sakit menahan lapar. Karena pengambilan sayur dibatasi maka jumlah nasipun yang harus diakali. Agar kotak makanan ini bisa memuat nasi lebih banyak, maka nasi harus di tenet (ditekan-tekan) ke dalam kotak hingga padat dan baru diisi dengan sayur sayur diatasnya. Sehingga kotak nasi itu penuh sekali sampai mau tumpah keluar, tapi tidak perlu malu karena semua orang disana melakukan hal yang sama. Kalau malu malu malah bisa gila nanti nahan lapar sampai sore. 🙂

Ketika melihat tumpukan nasi ditangan dan memakan nasi sebanyak itu, yang terlintas dipikiran aku adalah kalimat hinaan yang bisa diucapkan orang ketika melihat orang membawa banyak makanan dipiring, “makan kok kayak kuli”.

Sekarang baru sadar, kalau memang begitulah seorang kuli, mengeluarkan tenaga banyak, sehingga makanpun harus banyak.  Karena kejadian itulah, sekarang aku kalau melihat kuli makan banyak hanya senyum senyum saja dan mengingat kejadian waktu itu. 

Seperti itulah kalau akumenjadi kuli kasar yang memang membutuhkan karbohidrat lebih banyak dari orang lain. Dan hanya makanlah kegiatan yang paling bisa membawa kegembiraan buat mereka. 

Satu hal lagi yang menyenangkan dari kerja menjadi tukang sayur di Victoria market adalah ketika menerima gaji di akhir hari. Rasanya demam karena kaki sakit, langsung reda seketika. Sesampai dirumah mandi air panas dan duduk duduk memegang beberapa lembar uang 50 dollaran (kalau tidak salah dulu warna kuning). ☺

Oh ya masih ada satu lagi deng… yaitu ngambilin buah buah mahal untuk dimakan gratis, seperti plum dan peach. 

Tulisan ini dipersembahkan untuk teman teman senasib waktu di kuliah di Melbourne Australia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s