Menjadi Tua dan Tidak Berdaya, Persiapkanlah Dari Sekarang!

Keith Martin by ARO
Keith Martin by ARO

Hari ini aku ingin mengujungi teman lamaku.  Aku jatuhkan pilihanku pada kemeja putih dengan corak garis garis vertikal hitam tipis dan celana panjang hitam yang paling layak pakai. Kemeja ini adalah kostum kebesaran yang hanya akan aku gunakan kalau ada acara diluar rumah. Ini adalah kemeja terbaik sisa sisa waktu aku masih bekerja sebagai pegawai kantoran. 

Sepatu hitam merek Bally sudah aku semir dari kemarin. Setelah  sekian lama, ia tergeletak begitu saja di dalam rak sepatu usang milikku. Semoga tidak jebol sol sepatunya, bisiku harap harap cemas. Mengingat ini sepatu sudah lama sekali tidak dipakai dan biasanya  sepatu seperti itu, lem solnya  sudah tidak rekat lagi, akibatnya mudah sekali copot.

***

Hari ini aku berencana mengunjungi teman lamaku yang tinggal di daerah kebon jeruk. Sudah hampir setahun lebih aku tidak bertemu dan bercakap cakap dengannya. Ia adalah teman baikku sejak sma dulu. Semoga hari ini ia tidak pergi kemana mana, harapku dalam hati. Aku sengaja tidak memberitahukan kepadanya karena mau membuat kejutan ulang tahun untuknya.

Kuperiksa dompetku dulu sebelum keluar rumah.  Di dalam dompetku ternyata hanya tinggal 20 ribu saja, sedangkan sisanya hanyalah kertas catatan yang tidak penting yang selalu kusimpan rapih hinga membuat dompetku terlihat tebal.

Waduh, tinggal 20 ribu saja uang di kantongku, apakah cukup  ya buat ongkosku kesana? Tanyaku sambil berhitung dalam hati. Aku mulai mencari cari tambahan di dalam celana yang sehari-hari yang aku pakai, mungkin saja masih tertinggal receh receh yang dapat aku kumpulkan. Ternyata tersisa satu lembar 10 ribuan saja. 

Coba kuhitung kira kira berapa biaya yang aku perlukan untuk sampai ke kebon jeruk.. Aku terduduk dan berpikir cukup lama. Akhirnya aku putuskan  tetap pergi dengan uang 30 ribu di kantong. 

***

Aku berhasil mendapatkan tempat duduk di barisan belakang pojok dekat jendela bis jurusan bekasi-grogol.  Sudah lama sekali aku tidak naik bis seperti ini menuju Jakarta. Hampir semua yang aku lihat di jalan sudah berubah. Bangunan ruko ruko dan mall sudah banyak di sepanjang jalan. Jalananpun rasanya lebih ramai dari biasanya.  Sejak pensiun dari pekerjaanku sebagai pegawai kantoran 10 tahun lalu, kondisi keuanganku bisa dibilang tidak baik. Aku hanya mengandalkan uang pensiunku yang tidak seberapa dan uang kiriman anakku yang juga tidak rutin datang padaku. Aku memang sudah tidak berdaya secara keuangan, aku hanya bisa hidup pas pasan. Mobil yang biasa aku pergunakan untuk hari hari ke kantor dulu sudah habis aku jual untuk biaya hidupku sehari hari. 

Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa sampai pada kondisi seperti ini.  Entah salah strategi dalam mempersiapkan masa tuaku ini atau entahlah.  Bahkan hari inipun aku harus nekad untuk pergi mengunjungi temanku dengan uang pas pasan.

Grogol…. Grogol… teriak kernet bis yang aku tumpangi dan menyadarkan aku dari lamunan. Aku harus segera turun dan pindah ke angkot untuk sampai ke Kebon Jeruk. Tidak terlalu sulit untuk cari angkot jurusan itu dari Grogol. Akupun berdesak desakan dengan karyawan yang hendak pergi ke kantor. Mereka wangi wangi seperti aku dulu, dan hidup merekapun terlihat berkecukupan. Akupun mencoba coba mengingat ingat gaya hidupku diwaktu muda dulu. Menurutku aku kehidupanku tidak terlalu berbeda dengan mereka. Memang aku sedikit lebih berfoya foya mungkin.

Akhirnya aku pun turun dari angkot persis di depan gang menuju rumah temanku itu. Aku berjalan kaki menyusuri jalan kecil itu dimana aku kenal dengan baik karena sudah berulang kali kembali kesini.  

***

Aku sampai di depan rumah berwarna putih krim dengan pagar tinggi berwarna merah tua.  Aku yakin itu adalah rumah teman smaku dulu. Aku mengunjunginya di natal tahun lalu. 

Tapi aneh kenapa pintu pagar rumah terkunci rapih sekali dan tidak terlihat adanya tanda tanda kehidupan disana.  Aku mulai merasa was was, jangan jangan tidak ada orang di rumah ini, kataku dalam hati.  Aku beranikan diri untuk menekan Bel rumahnya dan seketika terdengar musik mengalun dari dalam rumah itu. Anehnya tak satu orangpun yang keluar dari rumah ini. Setelah sekian lama menunggu di depan rumah, akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan rumah itu. Belum lagi jauh kaki melangkah, teriakan seorang wanita dari dalam rumah memanggilku. 

Bapak siapa? Mencari siapa? Tanyanya kepadaku. 

 Bapak Rico ada? Saya temannya hendak berkunjung main, jawabku. 

Maaf Pak, Opa Riconya sedang pergi ke Yogyakarta bersama semua keluarganya. Jawabnya menjelaskan.  Apakah Bapak punya no telepon handphonenya? Tanyanya kepadaku lagi.

Ia mba, saya punya nomor handphonenya. jawabku. Tapi aku memang sudah lama tidak memiliki handphone.  Aku bahkan tidak mampu membeli pulsa untuk selalu menghidupkan handphoneku.  Baiklah Mba, saya permisi dulu, sampaikan salam saya ke Bapak Rico ya. Terima kasih. Lalu aku pun meninggalkan rumah itu.

***

Aku berjalan lemas dan tertunduk. Salahku memang tidak telepon dulu sebelum berkunjung, keluhku menyesali kejadian ini.  Aku menyusuri jalan Kebon Jeruk sambil menyesali kebodohanku ini. Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke Bekasi. Astaga…. Tiba aku tersadar bahwa uangku hanya tinggal 10 ribu saja. Bagaimana aku bisa pulang sampai ke Bekasi dengan uang segitu saja? Aku benar benar merasa bodoh sekali sekarang. Makin tampak tak berdaya aku ini. Aku adalah seorang manager salah satu perusahaan besar dulu, sekarang untuk pulang ke Bekasipun aku tidak punya uang. 

Akhirnya aku putuskan untuk  meminta belas kasihan dari orang yang lewat di jalan. Siapa tahu ada yang mau memberikan uang untuk aku kembali. 

Aku bertemu dengan beberapa orang dijalan dan meminta tolong tapi semua tidak ada yang mau menolongku padahal aku hanya meminta uang sebesar 10 ribu saja. Mereka memandangku seolah olah aku adalah penipu.  Habis sudah harga diri ini. Tapi mau dikata apa, seperti inilah hidup di Jakarta. Tidak ada yang percaya satu sama lain. Semua orang memiliki susahnya sendiri.

***

Akhirnya akupun menemukan seorang pemuda yang mempercayaiku dan memberikan aku ongkos untuk pulang. Beribu-ribu terima kasih aku ucapkan terima kasihku kepada anak muda itu. 

Semoga anakku yang sudah aku besarkan dengan kerja kerasku selama ini dapat berperilaku baik seperti pemuda itu. Yang mampu memberi tanpa perlu tahu apakah ia sedang ditipu atau tidak. Dia begitu ikhlas memberikan uangnya kepadaku.  Dia memberi lebih dari pada yang aku minta. Semoga Tuhan membalas budi baik orang seperti itu.

Sepanjang perjalanan pulang ke Bekasi, aku merenungkan kembali kehidupanku waktu muda. Apa salahku hingga aku harus menjadi seperti ini? Aku terlalu mengandalkan apa yang sudah aku miliki saat itu. Aku tidak berhitung dengan baik.  Aku harus memberitahukan kepada anakku pengalaman aku ini, semoga kelak ia tidak menjadi seperti aku saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s