Menitipkan Orang Tua Ke Panti Jompo, Keterlaluankah?

Tertidur by ARO
Tertidur by ARO

Tulisan kali ini juga masih bercerita sekitar liburan Idul Fitri kemarin. Masih ingat dengan artikel mengenai kerinduan aku kepada keluarga disaat mendengar suara takbir? Ternyata kali ini Tuhan mendengarkan doa aku, karena di malam takbir ini, orang tua, adik semata wayang dan semua keponakan aku berkenan untuk bermalam di rumahku. Jadi malam takbir kali ini aku kembali ditemani keluarga sambil menikmati makan malam bersama.

Keesokan harinya, kami memang berencana mengunjungi salah satu panti jompo di daerah Jonggol dekat Bogor. Ini adalah usul orang tua aku, entah ada angin apa yang membawa mereka untuk kesana. Ya sudahlah kita nikmati saja, mungkin nanti ada manfaatnya. Toh.. yang terpenting sekarang adalah bahwa kami sekeluarga bisa jalan jalan bersama kembali dan kemana tujuannya sudah tidak penting lagi.

Tepat disaat semua teman-teman muslim menjalankan sholat Id, aku sekeluaga melakukan perjalanan ke panti jompo itu.  Sejujurnya aku sedikit segan untuk pergi kesana, karena aku memikirkan bagaimana dengan anak dan keponakan yang kemungkinan akan membuat keonaran di sana. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, tidak apa-apalah, aku membawa mereka mengunjungi panti jompo ini. Mungkin mereka juga bisa membawa kecerian tersendiri buat nenek kakek yang kesepian di sana. Setidak tidaknya anak-anak ini bisa menjadi obat kangen mereka kepada cucu-cucunya. Mungkin…

***

Benar dugaan aku, sesampainya di panti jompo yang dituju, tidak sampai lima menit krucil krucil ini sudah mulai berlari larian di dalam rumah panti yang bisa dibilang cukup luas ini. Memang namanya anak kecil, mau dimanapun tempatnya asalkan ada tempat untuk kejar kejaran sudah cukup bisa membuat mereka bahagia. Jadilah panti jompo yang tadinya sepi tiba tiba dipenuhi dengan suara anak anak berlarian kesana kemari dan penghuni panti jompopun terhibur dibuatnya.

Di saat anak anak sedang bermain di komplek panti jompo yang lebih menyerupai rumah ini, aku pun menyempatkan diri berbicara dengan salah seorang nenek di ruang tengah sambil menonton TV.  Ngomong ngomong soal nonton TV disini ya, ternyata pernah nenek nenek ini katanya berantem gara gara rebutan nonton. Walaupun sudah nenek nenek mereka juga tetap mau nonton acara favorit mereka bukan. Nah celakanya TV cuma satu dan ternyata selera mereka tidak kompak. Jadi deh mereka bertengkar mulut hingga suster suster penjaga melerainya. Benar kata orang jika sudah tua, manusia cenderung kembali menjadi bocah lagi. 

Kembali percakapan aku dengan salah satu penghuni panti jumbo yang cukup mengesankan dan perlu aku tulis disini yang mudah mudahan dapat dijadikan bahan renungan buat kita semua, terutama untuk aku.

Begini kurang lebih hasil ngobrol-ngobrol aku dengan nenek yang  sudah berumur 73 tahun. Aku membuka pembicaraan dengan bertanya kepada nenek yang aku panggil oma itu, “Oma, betah disini?” Ia pun menjawab dengan suara yang bisa dibilang cukup jelas dan aku tidak mengalami kesulitan untuk memahaminya, “Lumayan lah, disini aku banyak teman untuk bercerita. Sedangkan kalau di rumah anakku hanya ditemani suster, jadi rasanya sepi sekali tidak ada teman yang menemani.” Mendengar jawaban seperti itu, akupun diam diam kagum dan hanya mengulang ngulang jawaban Oma tadi,     “Oh Oma, betah disini ya? Lebih ramai ya?”. Karena tadinya perkiraan jawaban yang akan aku terima lebih banyak keluhan seperti layaknya penghuni panti jompo pada umumya. 

Biasanya penghuni panti jompo yang aku kunjungi selalu merasa dibuang oleh anaknya. Karena setelah ditaruh di panti,  anak anak mereka terus lupa mengunjungi orang tuanya. Tapi Oma kali ini berbeda, ia berpikir lebih positif dari oma oma lainnya.

Terlepas dari pro dan kontra mengenai penyerahan pengasuhan orang tua ke panti jompo, pemikiran positif yang ditunjukan oleh Oma tadi membuat aku sangat terkagum kagum. Dan seperti itulah seharusnya kitapun menghadapi semua kondisi kehidupan ini.  Kita harus mampu menerima dan mau mengerti semua kondisi yang terjadi di sekitar kita, termasuk ditinggalkan oleh anak anak kita nanti karena mereka sibuk mengejar cita cita mereka. Bukan mengeluh dan  menghina kalau anak yang sudah dibesarkannya adalah anak durhaka karena sudah menitipkan dirinya di Panti Jompo. 

Karena kalau aku pribadi, mungkin sudah harus menyiapkan mental untuk bisa berada di panti itu kelak. ☺ Tapi harus ada fasilitas internetnya supaya blog ini masih terus bisa update. ☺  

Nah kalau untuk orang tuaku, semoga aku suatu hari nanti diberikan kemampuan untuk mengurus mereka sendiri dengan ikhlas sebagai wujud pengabdian aku sebagai seorang anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s