Kekuatan Dari Kata Maaf

Tatapan matamu by ARO
Tatapan matamu by ARO

Berhubung baru saja kita semua merayakan Idul Fitri, maka akupun masih mau menuliskan hal hal yang berhubungan dengan hari kemenangan ini. Idul Fitri sarat akan makna buat masyarakat Indonesia terutama umat Muslim. Buat aku pribadi, ada satu kegiatan yang selalu menjadi perhatian aku ketika menjelang hari Idul Fitri, yaitu saling maaf memaafkan. Ini adalah kegiataan yang menurut aku sangat luar biasa hebatnya apabila dilakukan dengan tingkat ketulusan yang tinggi dan bukan hanya sekedar sebuah seremonial belaka. Dan tentunya aku juga yakin teman teman muslim akan menfaatkan kesempatan itu dengan baik. ☺

Sehubungan dengan maaf memaafkan, aku ingin berbagi pengalaman yang telah memampukan aku untuk memahami kekuatan sebuah kata maaf apabila diutarakan dengan baik dan tepat.

Berikut adalah pengalaman aku yang berhubungan dengan permintaan maaf baik yang aku terima dari orang lain maupun aku mintakan kepada orang lain. 

Cerita Maaf Ketika Masa SMP

Kejadian ini terjadi ketika upacara bendera hari senin yang memang secara rutin dilakukan setiap minggunya di sekolah. Barisan siswa berseragam putih biru lengkap dengan topi dan dasi telah rapih menunggu upacara bendera di mulai. Aku ada disalah satu barisan itu bersama teman-teman kelas dua SMP lainnya. Di tengah tengah upacara berlangsung, tiba tiba ada yang usil menoel noel kepalaku dengan keras sekali tapi ketika aku tengok ke belakang teman yang noel itu pura pura tidak tahu. Akupun kembali melihat ke depan lagi dan tidak mempedulikan tindakan itu. Akan tetapi belum lama nengok ke depan, ternyata kepala aku sudah di toel lagi, begitu terus hingga kelima kalinya. Hingga akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku copot sepatu dan langsung aku pukulkan ke muka teman yang menoel kepala aku tadi. Dia diam saja kaget tanpa balas.

Nah kebetulan waktu itu adalah musimnya berantem. Jadi memang tiap sore selepas sekolah selalu saja ada anak anak duel di lapangan voli depan sekolah dekat sawah. Karena itulah teman aku yang dipukul mukanya pakai sepatu tadi mengajak aku untuk melanjutkan pertarungan ini nanti setelah pulang sekolah. Aku pun yang sudah terlanjur membuka pertikaian ini, pantang mundur menyetujuinya. Disepanjang waktu di kelas, kepala ini tidak henti hentinya berpikir mengenai perkelahian sore nanti. Antara takut dan berani, karena kalau dipikir pikir teman aku itu badannya lebih besar dan rasanya belum tentu aku bisa memenangi perkelahian nanti. ☺

Lonceng tanda istirahat pun berbunyi. Aku dan teman-teman keluar dari kelas untuk mencari makanan di kantin. Tanpa disangka sangka ada tangan memegang bahu ini dari belakang, hingga aku harus menghentikan langkah dan melihat terlebih dahulu. Ternyata dia adalah teman yang mengajak aku berantem nanti sore. Akupun langsung bertanya dengan emosi “ada apa? Mau berantem sekarang aja apa?” Ditanya seperti itu teman aku ini hanya diam saja, kemudian memberikan tangan sambil mengucapkan “Maafkan aku”. Mendengar itu, akupun kaget dan langsung otomatis menjawab, “oh tidak apa apa, sudah dimaafkan kok”. Akupun langsung berjalan pergi meninggalkannya. Tapi hari itu bukannya aku merasa menang, tapi aku tiba tiba merasa malu sekali dengan teman aku tadi. Aku benar benar kagum dengan keberaniannya untuk meminta maaf. Hasilnya sampai hari ini akupun masih bisa mengingat mukanya dengan baik dan menaruh rasa hormat yang tinggi kepada dirinya.

Cerita Maaf Ketika Masa SMA.

Ternyata aura jagoanku terbawa sampai SMA. Sehingga di SMApun aku hampir berkali kali terlibat dalam perkelahian dengan teman SMA dan salah satunya yang akan aku ceritakan ini. 

Entah karena apa aku juga tidak ingat lagi, aku akhirnya bertengkar mulut dengan teman kost sewaktu di SMA dulu. Tapi untunglah teman-teman kost waktu itu melerainya, jika tidak pasti bisa berantem beneran. 

Setelah kejadian itu, berhari hari kami berdua tidak berbicara walaupun sering sekali berpapasan muka. Rasanya tidak enak, tinggal satu atap tapi tidak saling menyapa. Ada gengsi untuk minta maaf. Tapi aku ingat kejadian waktu SMP dulu, ketika permohonan maaf bisa memperbaiki hubungan pertemanan. Maka tanpa pikir panjang akupun mendatangi kamar teman aku tadi dan langsung minta maaf kepadanya. Ternyata iapun menyambutnya dengan baik dan hubungan kami seketika menjadi baik. Dan hebatnya sampai hari ini, kami masih berhubungan baik.

Cerita Maaf Ketika Masa Bekerja

Sebagai fresh graduate di salah satu anak perusahaan Astra, idealisme masih dijunjung tinggi. Dan memang waktu itu aku memang terkenal sebagai orang yang jeplas jeplos tidak memikirkan perasaan orang lain. Eh sampai sekarang sebenarnya juga masih sih. ☺ Hanya saja pasti yang aku ucapkan biasanya untuk kebaikan bersama. Ya… memuji diri sendiri.. tidak apa apalah ya… sekali kali. 

Ceritanya waktu itu aku sedang mengerjakan salah satu proyek milik perusahaan dan ini adalah salah satu proyek andalan dan tidak boleh gagal. Karena itulah aku mengerjakannya dengan sebaik baiknya dan sesempurna yang aku bisa berikan. Tapi seperti sebuah kehidupan, kerja di kantor tidak bisa lepas dari orang lain,  hingga suatu hari akupun terlibat pertengkaran mulut akibat ketidaksabaran melihat terhadap cara kerja rekan aku yang cenderung tidak koorporatif. 

Maka akhirnya terjadilah saling bentak di kantor, akupun akhirnya meninggalkan dirinya dan kembali ke meja dengan amarah. Tidak beberapa berselang, aku dikejutkan oleh kehadiran teman aku dan meminta maaf atas kejadian tadi. Padahal sebenarnya akupun sudah mau minta maaf, tapi ternyata keduluan. Singkat cerita akhirnya pekerjaan kami selesai dengan baik dan hubungan pertemanan kita juga menjadi semakin baik.

Dari semua pengalaman itu, aku sekarang memahami betul jika meminta maaf adalah bukan tanda kekalahan. Meminta maaf menurut aku adalah sebagai sebuah kemenangan. 

Aku merasakan setiap kali keduluan meminta maaf, maka ada perasaan kalah dalam setiap keonaran yang aku buat.:)  Sekarang kalau bisa aku harus lebih dahulu meminta maaf.  Entah itu aku ada posisi yang bersalah atau yang benar, pokoknya minta maaf dulu untuk memperbaiki keadaan. 

Aku menyakini dengan meminta maaf, maka itu adalah awal dari sebuah langkah menuju hubungan pertemanan yang lebih baik.

Sebagai tambahan ini ada sebuah kisah dari Siddhartha Gautama (Budha). Konon ceritanya ada musuh yang membenci dirinya dan menodongkan pisau kepadanya. Maka Budha mengatakan kepada musuhnya tadi “lakukanlah yang kamu kehendaki, jika itu akan membuat dirimu menjadi lebih baik”. Musuhnya pun meletakan pisaunya dan meninggalkan dirinya.

Maka jangan ragu ragu ya untuk minta maaf, karena hal itu pasti berujung pada sebuah kebaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s