Mudik, Menyambut Kebahagian atau Kematian

Ulat by ARO
Ulat by ARO

Aku tahun ini tidak mudik tapi mau nulis tentang mudik. Agar tulisan ini terlihat lebih terstruktur dan menyerupai dengan tulisan tulisan ilmiah lainnya, maka sebaiknya aku mulai dengan definisi. Ilmiah.. begini kok dibilang ilmiah….:)

Begitu dulu waktu kuliah aku diajarkan, agar selalu memulai tulisan dengan definisi sebelum menuju ke inti masalah untuk menunjukan kalau aku mengerti tentang apa yang akan aku tulis. Preet….:)

Masalahnya sekarang aku tidak mengerti tentang definisi mudik. Jadi dengan bantuan Wikipedia aku menemukan arti mudik.

Ternyata mudik itu berasal dari bahasa jawa “Mulih Dhisik” yang artinya pulang dulu. Nah mau bener atau tidak itu artinya silakan dicari sendiri untuk lebih detailnya.

Tapi buat aku pribadi, kalau mendengar kata kata mudik maka yang langsung terbayang di kepala aku adalah naik bis, bermacet macet ria, duduk diam selama 24 jam, pantat sakit dan perasaan tidak sampai sampai tempat tujuan.

****

Itu adalah kesimpulan hasil dari sebuah pengalaman aku ketika dulu mudik Yogyakarta-Cilegon dan Cilegon-Yogyakarta. Setiap tahun aku pasti harus pulang, karena membantu orang tua menjaga toko dan hukumnya wajib. 

Nah gambaran mengenai kemacetan yang sampai hari ini masih menghantui aku adalah ketika mudik dan macet di alas roban. 

Ceritanya begini.

Nah setiap pulang kampung dari titik awal perjalanan dimulai, aku biasanya sudah pasti tidur di dalam bis. Ini sebagai upaya agar perjalanan terasa lebih cepat, apalagi Yogyakarta-Cilegon dengan bis akan memakan waktu kurang lebih 12-14 jam. Tetapi khusus untuk pulang di musim mudik ternyata waktu tempuh bisa jadi berbeda. 

Ini adalah mudik pertama kali aku. Setelah tertidur cukup lama. Aku pun bangun dan melihat ke arah jendela, ternyata kondisi sudah gelap dan aku sudah sampai di alas roban dan bis sedang berhenti. Karena masih ngantuk akupun melanjutkan tidur tanpa memperhatikannya lebih detail lagi.

Dikarenakan posisi tidur yang tidak terlalu nyaman di bis, akupun terbangun lagi dan tanpa disadari aku sudah tidur selama dua jam sejak terbangun pertama kali. Akupun melihat keluar jendela bis lagi, ternyata bis masih di tempat yang sama seperti tadi. Sementara supir-supir bis sudah turun dan ngobrol dengan sesama supir sambil merokok.  Jalan ini benar benar macet. Akhirnya yang biasanya aku sampai di Cilegon itu jam 4 pagi kali ini jam 4 sore baru sampai, itu artinya sudah 24 jam aku di perjalanan, karena dari Yogya jam 4 sore juga.

****

Itu pengalaman mudik aku yang akan selalu diingat. Jadi lumrah menurut aku, kalau sekarang banyak para pemudik itu nekat naik motor pulang kampung walaupun itu tidak nyaman dan sangat berbahaya. 

Memang dengan mengendarai motor, biaya bisa relatif lebih murah.

Jika dulu sudah ada trend pulang kampung naik motor, pasti aku juga akan memilih moda transportasi itu. Habis mana tahan di dalam bis yang tidak jalan jalan itu. Bangun, tidur, bangun, tidur, bangun, tidur, eh ternyata masih disitu situ saja.

Tapi ngomong ngomong mengenai mudik Idul Fitri kemarin dan setelah membaca halaman utama koran kompas terbitan kemarin. 

Ternyata jumlah yang tewas tahun ini selama masa mudik yang hanya kurang lebih 15 hari itu, telah menelan korban sebanyak 908 orang. Banyak banget yang meninggal di jalan. 

Berdasarkan data statistik yang tertulis di koran kompas itu, ternyata dari tahun 2007-2018 rata rata jumlah yang tewas ketika mudik setiap tahunnya adalah sebanyak hampir 700 jiwa. Bukan main main angkanya?

Pertanyaannya ngapain aja pemerintah selama ini? Nah kalau melihat apa yang sudah dilakukan negara selama ini untuk mengatasi kondisi itu, kok rasanya tidak terlalu banyak inisiatif yang bisa benar benar mengatasi masalah itu dengan tuntas.

Malah terkesannya negara ini hanya diam diam saja. Atau mentang mentang jumlah penduduk Indonesia banyak, maka hilang 1000 setiap tahunnya seperti ini ya tidak apa apa, khan masih banyak. Begitu?

Tapi kok pendekatan ini berbeda ketika negara mengatasi flu burung. Padahal yang meninggal akibat flu burung tidak sebanyak yang mudik. Tapi reaksi negara cepat sekali, bahkan mengeluarkan uang trilyunan buat mengatasi masalah itu. Bedanya apa itu? Uang ini khan yang dikorupsi mas N.. itu ya.

Ah sudah lah aku tidak tahu, bingung. Sebagai blogger nulis saja lah, kali kali ada yang lebih pinter mikirnya. Otakku tidak nyampe. ☺

Yang jelas aku butuh pemimpin yang benar-benar bisa membela rakyatnya. Bukan yang memamerkan angka pertumbuhan ekonomi macro, sedangkan rakyat masih susah buat makan dan hidup. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s