Etika Merokok di Tempat Umum

nathan road by ARO
nathan road by ARO

Silakan Ibu…. Berapa orang? Tanya pelayan wanita kepada sekelompok Ibu-Ibu yang berjalan masuk ke dalam restauran. Empat orang dan non-smoking, jawab salah satu Ibu. Baik ibu,  empat orang non-smoking sebelah sini, kata pelayan sambil menujuk meja untuk empat orang dan diikuti oleh rombongan Ibu-Ibu menuju meja itu.

Buku menu pun segera diberikan oleh pelayan kepada mereka yang sedari tadi tidak berhenti berbicara itu. Setelah menjelaskan singkat isi buku menu, pelayan wanita itu izin meninggalkan mereka yang tidak terlalu memperhatikan buku yang baru saja diberikan sambil menitipkan pesan, “Ibu, Aku Apriani… jika Ibu sudah siap untuk order bisa memanggil aku” demikian jelasnya sambil menunjukan tag nama yang terdapat di dada kirinya. Ia pun pergi meninggal meja tersebut dan melayani tamu tamu lain yang sudah sedari tadi menunggu di depan pintu restaurant

Restauran sudah mulai terlihat penuh hanya tinggal tiga meja dari dua puluh lebih meja yang tersedia. Semua pelayan modar mandir sibuk melayani pengunjung. 

Tiba tiba terdengar teriakan yang memanggil nama Apriani.  Apriani pun menolehkan kepala ke arah suara itu berasal. Oh dari empat ibu ibu tadi ternyata katanya dalam hati sambil menghampiri mereka. Dengan ramah ia menanyakan kepada salah satu Ibu yang tadi memanggilnya, apakah sudah siap melakukan order sambil mengeluarkan kertas order dan pulpen di depan dadanya siap mencatat semua pesanan Ibu itu. Tetapi tanpa disangka-sangka, Ibu tersebut malah marah-marah sambil menunjuk nunjuk tamu lain yang merokok dan asapnya terlihat masuk terhembus angin mengenai muka Ibu itu. Dan rupanya ia sangat terganggu. 

Katanya area non-smoking… kok  malah ada tercium asap rokok disini…? Tanyanya kepada Apriani sambil melirik matanya ke orang yang merokok tersebut. Apriani pun dengan cepat cepat meminta maaf dan berinisitf untuk mengusulkan pindah meja ke area yang lebih steril.   Apesnya Apriani tidak melihat ada meja yang kosong, semua tempat sudah penuh, hanya tersisa satu tempat dan itupun ada perokok di dekatnya. 

Memang restauran ini hanya membagi tempatnya menjadi dua area. Area luar untuk smoking dan dalam untuk non-smoking. Hanya saja tempatnya tidak benar benar terpisah dalam artian tidak ada penyekat yang memisahkan kedua area tersebut. Untuk area smoking hanya dipasang alat penghisap debu diatapnya sedangkan non-smoking tidak ada.  Sehingga apabila ada angin dari luar ke dalam maka asap rokokpun dengan mudah berhembus ke dalam memasuki area non-smoking.

Belum selesai pelayan itu memikirkan solusi terbaik sudah terdengar lagi panggilan cukup keras dari Ibu yang lain. Apriani…. Bagaimana ini restaurant kamu? Panggilkan managernya aku mau bicara!!! Marah Ibu itu kepadanya dan seketika menghilangkan konsetrasinya. Segera ia meninggalkan meja itu dan datang bersama dengan manager restaurannya. 

Berhadapan dengan manager, Ibu tadi semakin marah. Bagaimana Anda sebagai manager bisa teledor seperti ini? Harusnya Anda tidak memperbolehkan merokok di restauran ini, apalagi fasilitasnya pemisahnya hanya exhaust fan diatas sana, sambil menunjukan telunjuknya ke atas. Lihat asap rokok dengan mudah masuk ke area non-smoking dan coba perhatikan berapa banyak anak anak kecil di dalam restauran ini. Tuh… malah ada bayi juga di dalam, lanjutnya sambil menunjuk ke arah keluarga dengan bayi. Ini sangat keterlaluan…, sedikit berteriak dan kemudian terhenti sejenak sambil mengatur nafas amarah. Anda tahu asap rokok lebih bahaya apabila terhirup oleh orang yang tidak merokok, lanjutnya. Manager restaurant itu hanya berdiri terdiam dengan tangan di depan sambil mengangguk tanda mengerti.

Ayo, kita pergi…!!! ajak Ibu itu kepada temannya. Mereka pun meninggalkan restauran itu dan membiarkan manager tersebut tetap berdiri dimeja tadi.

Entah kenapa tiba – tiba Ibu itu menghentikan langkahnya dan melihat ke perokok tadi yang sedang asyik merokok. Entah setan apa yang merasuki Ibu itu, dihampiri meja perokok itu dan mulai ia memaki lelaki yang mulai tampak bingung itu. Anda punya otak apa tidak ya? Ini di dalam ruangan dan banyak anak kecil, kok tega sih kamu merokok di dalam ruangan seperti ini? Apa yang ada di pikiran Anda? Janganlah Anda jadi perokok egois, pikirkan orang lain sekitarmu sebelum merokok. Tahan sedikit bisa khan? Tanyanya ketus. Perokok terdiam seribu bahasa, entah karena kaget atau bingung mau menjawab apa kepada Ibu yang sedang berdiri marah marah didepannya.

Melihat kejadian itu para perokok lain di dalam ruangan itu, satu satu dengan malu malu mulai mematikan putung rokok mereka. Mungkin takut kena damprat hal yang sama oleh Ibu yang sedang kesetanan itu.

Melihat lawan bicaranya diam saja dan rasanya sudah puas marah, Ibu itupun keluar dari restauran diikuti ketiga temannya. 

Sepeninggalan rombongan Ibu-Ibu, kegiatan restauran normal seperti semula tapi anehnya tidak ada satupun pengunjung yang berani merokok lagi. Entah karena rasa bersalah atau karena malu. Entahlah…. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s