Mitos Melahirkan, Keramas dan Sakit Kepala

Danbo tutup canon by ARO
Danbo tutup canon by ARO

Suatu hari di ruang tunggu sekolah anakku. Seperti biasa, buku selalu menjadi teman yang setia untuk menemaniku menghabiskan waktu sambil menunggu. Hanya saja kali ini, aktifitas membaca aku sedikit terganggu oleh percakapan antara seorang nenek dengan Ibu muda yang juga sedang menunggu cucu dan anaknya.

Topik pembicaraan mereka sangat menarik, hingga aku memutuskan untuk menghentikan sejenak kegiatan membaca novel favorit dan mulai aktif mendengarkan percakapan mereka.

Mereka membicarakan seputar sakit kepala yang konon katanya tidak mungkin dapat disembuhkan. Dan katanya lagi, satu satunya obat yang dapat menyembuhkan sakit kepala ini, hanyalah akan didapatkan pada saat seorang Ibu melahirkan anak berikutnya. Artinya jika anda melahirkan anak pertama dan mendapatkan penyakit sakit kepala ini,  maka obatnya hanya akan didapatkan jika anda melahirkan anak kedua. Penyakit ini hanya diderita oleh wanita saja. Ada yang tahu mengenai penyakit ini dan penyebabnya?

Sakit kepala ini memang bukan disebabkan oleh penyakit kronis seperti kanker atau penyakit yang berhubungan dengan kepala lainnya. Tapi sakit kepala ini hanya disebabkan karena seorang Ibu nekat keramas sebelum 40 hari sejak dia melahirkan bayinya. 

Ya betul, sakit kepala ini katanya akan muncul jika seorang Ibu melakukan keramas sebelum 30 hari sejak melahirkan bayinya. Jadi kata “orang tua” kalau setelah melahirkan, seorang ibu tidak diperkenankan untuk keramas sebelum 30 hari. Apabila tetap dilakukan maka hal ini akan menyebabkan sakit kepala yang menahun. Dan dari hasil pendengaran aku pula, katanya juga, sakit kepala ini hanya akan sembuh pada saat melahirkan anak berikutnya. Tapi dengan satu syarat, ibu tersebut tidak boleh mengulangi kesalahan yang dulu pernah dibuatnya pada saat melahirkan anak pertamanya, yaitu melakukan keramas sebelum 30 hari.

Bagaimana menurut teman teman, apakah hal ini disebut sebagai mitos? Atau ternyata ada diantara teman teman yang membuktikan kebenarannya? 

***

Memang banyak sekali “mitos” seperti ini di masyarakat kita. Ada yang mengikutinya dan ada pula yang sudah tidak mempedulikannya. Buat orang yang lahir dan besar di keluarga yang masih memiliki kepercayaan kultural sangat kuat, sudah barang tentu akan menjalankan sebagian besar mitos mitos seperti itu.  Sedangkan bagi sebagian lain, terutama mereka yang besar dari keluarga yang lebih “modern”, pelan pelan mulai meninggalkan mitos mitos yang belum terbukti kebenarannya.

Apalagi di era modern seperti ini, dimana hampir semua informasi dapat dengan mudah diperoleh, sehingga bisa dibilang hampir semua hal yang tidak masuk logika pelan pelan mulai dapat dijelaskan dengan nalar manusia.  Ada yang bisa menemukan jawabannya dan ada pula yang tidak.

Dan memang sepertinya kapasitas otak kita tidak diciptakan untuk dapat menjawab semua pertanyaan atas setiap kejadian yang terjadi di dunia ini. Ada  hal hal yang tidak sepenuhnya dapat dipecahkan dengan kemampuan pikiran kita. Nah, disitulah akhirnya manusia memuarakan semua pertanyaan pertanyaan yang tak terjawab itu kepada sesuatu yang lebih besar dan agung. Beberapa kelompok menyebutnya Energy dan sebagian besar menyebutnya Tuhan. Apapun nama yang disandingkan untukNya, kepadaNyalah, sebaiknya kita sebagai  manusia seharusnya kembali dan bersandar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s