Multiple Intelligence dan Cara Mendidik Anak

Air Mancur by ARO
Air Mancur by ARO

Suatu sore ketika aku sedang mengunjungi rumah salah satu teman, aku melihat anaknya keluar dari kamar dengan membawa tas dan kemudian berpamitan. Ada rasa ingin tahu yang kuat ketika melihat anak tadi, akupun kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada teman aku perihal kepergian anaknya itu, “mau kemana anakmu itu?” Sang Ayahpun menjawab, “anakku mau berangkat les matematika.” Akupun langsung memuji anak itu, “wah pinter dong matematikanya anakmu itu ya?” kemudian si ayah menjawab, “ya tidak dong, kalau pinter ya pasti aku tidak leskan dia matematika.” Akupun terdiam tidak melanjutkan percakapan tadi karena pernyataan teman tadi telah membawa aku kepada sebuah pertanyaan, “memang hari gini masih ada ya orang tua yang ngelesin anaknya, padahal jelas jelas anaknya tidak suka matematika?”

Memang sih, nilai jelek itu bisa disebabkan banyak hal, tidak melulu karena anaknya bodoh matematika. Bisa jadi karena cara mengajar gurunya yang tidak baik. Tapi untuk tulisan kali ini, aku ingin mengkondisikan kalau anak ini memang tidak suka dengan matematika sehingga nilai akedemis disekolahnya tidak begitu baik. 

Aku coba ceritakan pengalaman seorang teman SMP aku dulu, dimana ia selalu mendapatkan  angka merah untuk pelajaran matematika di raportnya. Sedangkan untuk pendidikan seni lukis angka delapanlah yang selalu menghiasi setiap lembar raport sekolahnya.  Akibatnya teman aku ini, setiap sore diharuskan untuk selalu berangkat ke tempat les agar dapat meningkatkan nilai matematikanya.  Walhasil segala upaya sudah dilakukan ternyata nilai matematika teman aku tidak juga menunjukan tanda tanda perbaikan. Aku dulu dapat merasakan kesedihnya teman aku itu. Ketika kami sedang asyik bermain dan dia sudah harus mandi untuk siap siap pergi les. Tekanan dari orang tua agar dia mendapatkan nilai bagus pada pelajaran matematika telah membuat dia jarang bermain dengan teman temannya.

Dua cerita diatas memiliki kemiripan tapi eranya yang berbeda. Menurut aku sudah tidak jaman kalau orang tua masih berpikiran seperti itu. Sudah kuno. Karena sebaiknya orang tua sudah harus memiliki cara pandang yang lebih terbuka apalagi sekarang akses terhadap informasi sudah sedemikian mudahnya. Pendidikan anak jaman sekarang lebih memfokuskan pada kelebihan si anak dibandingkan kekurangannya. Jadi kalau nilai seni lukis anak kita bagus, maka anaknya lebih baik dileskan seni lukis saja dan tidak perlu repot repot mengeleskan matematika yang nota bene otaknya tidak nyandak. ☺

***

Sebagai referensi, apakah ada yang pernah dengar mengenai teori kecerdasan yang bernama

yang dikemukakan oleh Howard Garner, dari Harvard University. Teori ini percaya bahwa setiap anak memiliki kecenderungan kecerdasan dari sembilan kecerdasan yang telah diidentifikasi oleh dirinya yaitu cerdas bahasa, cerdas matematika (logis), cerdas visual spasial, cerdas musik, cerdas gerak (kinestesis), kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal,  cerdas alam, cerdas spritual.

Melihat ragam kecerdasan itu maka dapat diartikan bahwa sebenarnya tidak ada satu orang anakpun yang terlahir didunia ini tanpa kecerdasan. Semua pasti memiliki kecerdasannya masing masing dan Tuhan menciptakan mereka unik dan akan saling melengkapi satu sama lain.

Karena itulah kita sebagai orang tua dituntut untuk lebih jeli lagi melihat kecerdasan yang dimiliki anak sehingga dapat dikembangkan dengan lebih baik untuk kepentingan si anak.  Sekali lagi, untuk kepentingan si anak bukan orang tua.

Dengan adanya teori multiple intelegences ini, maka definisi anak cerdas itu bukan melulu anak yang pinter matematika atau fisikanya. Karena sekarang olahragawanpun bisa dibilang cerdas dan kecedasannya dinamakan kecerdasan kinestesis.

Jadi sekarang tidak perlu minder kalau kalau anaknya memiliki nilai matematika yang kurang baik. Tapi temukanlah potensi si anak dengan memperhatikannya dengan lebih seksama lagi. Jangan jangan anaknya memiliki kecerdasan yang lain.

Eh, tapi ngomong ngomong kalau melihat kenyataan bahwa ajang Pekan Olahraga Nasional dan SEAGAMES saja dijadikan ladang korupsi.  Dan ditambah juga dengan kenyataan bahwa para petinggi organisasi olahraga bukannya memikirkan bagaimana memajukan cabang olah raga tapi malah saling sikut untuk berebut kuasa. Kira kira orangtua mana yang tega melihat anak yang  jelas jelas memiliki kecerdasan kinestesis untuk berkarir dibidang olahraga di Negara ini. Bisa bisa madesu (masa depan suram). ☺ 

Tapi tenang saja semoga suatu hari lahir seorang pemimpin yang benar benar memiliki kecedasan kinestesis yang tulus mengabdikan diri buat dunia olahraga Negara ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s