My First Amazon Kindle

Pantai Ayer by ARO
Pantai Ayer by ARO

Aku melihat secarik kertas merah tergeletak di lantai sesaat setelah aku membuka pintu rumah. Aku raih kertas yang berukuran 15 kali 15 sentimeter itu.  Aku bolak balik kertas itu. Coba kuterka kertas apakah itu dan siapa pengirimnya? Aku tidak pernah menerima kiriman berbentuk seperti ini sebelumnya. Ini kali pertama aku menerimanya. Biasa hanya amplop dengan logo perusahaan di sudut kiri dan sudah dapat dipastikan bahwa itu isinya tagihan. ☺

Kiriman unik ini ternyata berasal dari kantor pos yang berisi instruksi untuk mengambil barang kiriman dari luar negeri. Seketika ini juga aku mencoba menerka siapa yang nekat mengirimkan barang dari luar negeri. 

Esok hari…

Untuk tidak membuat rasa penasaran ini berkepanjangan.

Kantor pos Tangerang yang aku tuju sesuai dengan perintah yang terdapat pada kertas itu. Sesampainya disana aku tunjukan surat itu kepada salah satu petugas. Ia seperti sudah mengetahui isinya kemudian menyuruhku untuk menunggu.

Tanpa perlu lama menunggu. Beliau muncul dengan sebuah bingkisan ditangannya. Aku pun disuruh membayar sejumlah uang yang katanya pajak bea masuk dan biaya lainnya. 

Ternyata itu adalah Amazon kindle. Sebuah e-book reader yang sudah lama aku idam idamkan.

Kindle adalah e-book reader dengan teknologi e-inknya. Apa itu E-ink? E-ink adalah tinta elektronik. Ia dapat membuat para pembaca buku digital merasakan pengalaman yang sama seperti membaca buku hasil cetak kertas. Dengan E-ink, e-book reader seperti amazon kindle tidak memancarkan sinar pada layarnya sehingga mata akan lebih nyaman dan tidak cepat lelah. Satu hal lagi kindle dapat dibaca walaupun dibawah sinar matahari.  Dimana hal itu tidak dapat dilakukan jika membaca pada iPad atau Galaxy tab.

Akan tetapi dengan e-ink kita hanya bisa menampilkan layar hitam putih saja. Sehingga sangat tidak disarankan untuk melihat gambar dan video.

Dipasaran ada merek lain, seperti iRiver, Nook dan Sony Reader.

Aku memang sudah lama ingin memiliki Amazon kindle ini.  Pertanyaannya kenapa tidak iPad atau Galaxy tab saja? Aku sudah mencoba keduanya. Rasanya kok kedua alat itu tidak benar benar diperuntukan untuk membaca tapi lebih untuk bermain atau bekerja. Untuk membaca buku dengan banyak halaman aku sarankan belilah e-book reader.

Aku memang suka sekali membaca buku. Termasuk dalam kategori kutu buku, walaupun tak berkaca mata loh. Aku punya budget sendiri setiap bulannya untuk membeli buku.

Aku terbiasa membaca lebih dari satu judul buku pada saat bersamaan. Jangan bingung ! karena maksudnya seperti ini. Aku menaruh satu buku di bawah kasur, satu lagi di kamar mandi dan yang terakhir di tas kerjaku. Rencananya kindle akan menggantikan buku yang aku bawa di tas kerjaku. Harapannya tasku menjadi lebih ringan.

Akan tetapi berdasarkan pengalaman seminggu memiliki kindle, rencana itu tidak berjalan dengan lancar.

Ternyata tidak mudah mencari e-book berbahasa Indonesia yang bisa dibeli secara legal. Malah bisa dibilang tidak ada sama sekali. Yang tersedia di internet hanyalah e-book berbahasa Indonesia yang illegal.

Aku termasuk orang yang berusaha keras untuk membeli barang-barang digital secara legal.  Aku mungkin orang yang tidak pernah mendownload MP3 dari internet. Aku lebih memilih membeli CDnya dari pada harus mendownload.

Tetapi kayaknya idealisme ini tidak bisa dijalankan untuk e-book Indonesia, karena sama sekali tidak tersedia. 

Ini bukan sok idealisme. Tapi memang aku termasuk orang yang malas menunggu dan mencari di internet. Aku bukan pendownload sejati. Begitu istilahnya. Aku malas mencari cari site untuk download, karena biasanya setelah di download ternyata filenya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Aku benci menghabiskan waktu untuk hal seperti itu. 

Jadi kalau ada yang berbayar, ya bayar saja. Hitung hitung bayar biaya aku mencari sana kemari. 

Sebenarnya ketidak tersedian ebook Indonesia bisa dimaklumi. Ketakutan penerbit akan bukunya disebarkan secara illegal memang masih tinggi. Ini bukan masalah teknologinya tidak ada, tapi lebih ke masalah “trust”. Wong sekarang aja tidak dijual versi digitalnya saja bisa ada di internet, apalagi terbit yang versi digitalnya.

Coba lihat industri musik Indonesia yang sudah terkena imbasnya, terutama pada angka penjualan album melalui CD. Mereka mungkin bisa dikatakan sudah hampir mati. 

Bagaimana jika seandainya Gramedia masih nekat juga menerbitkan e-book legal. Aku kok yakin ya, kalau itu akan merusak angka penjualan buku buku cetak mereka plus omzet dari penjualan e-booknya tidak naik seiring dengan menurunnya penjualan buku cetak. 

Nah kemana larinya sisanya? Ya dikerjain oleh orang pintar yang tidak ada kerjaan yang mengillegalkan e-book tersebut sehingga dapat di download secara gratis. 

Pesan aku buat yang suka download, coba hindari download download hasil karya anak Indonesia. Masa mampu berlangganan ring back tone (beli cuma reffnya saja tidak didengar pula) Rp 7000/bulan mampu, sedangkan beli album tidak mampu. Belum lagi menghitung jumlah pulsa yang hilang akibat disedot provider nakal. Coba hitung semua kehilangan itu kemudian ditabung dan dibelikan album lagu yang disukai. 

Nah kalau kasusnya e-book aku akali dengan cara beli bukunya dulu, kalau ada yang versi digital di internet bisa didownload biar bisa dibaca di kindle. Memang terdengar bodoh sih, tapi ga apa apa lah, demi sesuatu yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s