Sekolah Menjadi Orang Tua, Perlukah?

Tidak Sekolah by ARO
Tidak Sekolah by ARO

Sebelum memulai, aku mau menceritakan sedikit latar belakang yang mendasari tulisan ini. Sejak kelahiran putri aku yang pertama 2,5 tahun yang lalu, aku serasa terhipnotis dengan semua keajaiban-keajaiban yang Tuhan tunjukan melalui kehadiran seorang bayi ke dalam keluarga kecilku ini.

Ritme kehidupan yang aku jalani tadinya datar datar saja (business as usual), sekarang secara drastis berubah dan terlihat lebih berwarna. Rumah yang tadinya sunyi karena hanya dihuni berdua dengan istriku, sekarang sudah bersuara mewarnai rumah bahkan seluruh komplek perumahaanku. Aktifitas rutin yang dilakukan di rumah yang tadinya itu itu saja, juga ikut berubah. Kami berdua “dipaksa” untuk berubah secara cepat dan hebatnya kami menikmati setiap hal yang terjadi.

Sebagai pasangan muda. cie muda dan tinggal jauh dari keluarga, aku mendadak merasa bodoh sekali. Ternyata banyak sekali ketidaktahuan aku mengenai cara cara merawat seorang anak dengan baik. Kalau kata orang tua dan juga orang yang sudah perngalaman, perasaan yang aku alami saat ini adalah wajar dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Katanya juga, manusia dilahirkan secara naluriah untuk bisa melakukan itu semua dan termasuk merawat seorang anak hingga dewasa.  

Tapi begitulah diri aku. Tidak bisa aku duduk diam dan menerima filosofi itu begitu saja. Aku tetap berprinsip kalau aku sedikitnya harus memiliki pengetahuan dasar untuk menjadi orang tua yang baik dengan memahami proses tumbuh kembangnya seorang anak itu.

****

Hari hari berlalu dengan cepat, pertumbuhan anakku juga semakin cepat dan aku semakin tertakjub-takjub. Kondisi ini, semakin menuntut aku mencari sebanyak mungkin informasi dengan cepat untuk mensuplai otak ini dengan pengetahuan-pengetahuan “parenting”, baik dari buku, bertanya pada orang tua dan teman, sampai ke internet. 

Sebenarnya upaya ini hanya untuk pembekalan otakku agar memiliki “background of thinking” mengenai prinsip prinsip dasar membesarkan seorang anak manusia, sehingga nantinya aku bisa mengkoneksikan semuanya dalam sebuah praktek kehidupan yang jelas jelas ada di depan mata.

Dan pencarian informasi itu, masih terus berlanjut hingga hari dan mungkin akan terus berlanjut dan entah sampai kapan. 

Buat aku belajar itu menyenangkan. Dan ternyata semakin aku mencari dan belajar, rasanya aku semakin cinta dengan dunia pendidikan anak. Mungkin sebenarnya ini bagian dari pelampiasan aku yang dulu gagal mengambil jurusan psikologi ketika kuliah. 

****

Menurut aku, pembekalanku untuk berprofesi sebagai orang tua itu amat sangat kurang dibandingkan dengan persiapan aku menjadi seorang professional di tempat kerja. Aku sekolah sampai kuliah untuk kerja, tapi disisi lain aku tidak pernah mengambil kursus untuk menjadi orang tua yang baik. Dimana sebenarnya persiapan untuk menjadi orang tua sama level pentingnya bahkan jauh lebih penting. Kalau aku coba analogikan dengan pekerjaan kantoran, pada saat aku memutuskan menjadi orang tua, maka tanpa disadari kita otomotis memiliki “proyek” membesarkan anak agar menjadi orang yang berguna buat orang tua, agama dan bangsa (begitu kan? Biasanya doanya).

Tapi mana mungkin berhasil dengan baik kalau kita tidak dibekali ilmunya.

Ehhhhh… Anda salah Applaus…! Orang tua kita dulu saja tidak pake belajar, bisa buat kita seperti sekarang ini, jadi ngapain repot repot mikir. Let it flow saja.

Aku tidak menyalahkan orang orang yang berpikiran seperti, karena aku juga adalah salah satu produk dengan metode itu.  Tapi berkaca dari diri sendiri, masa sih kita sebagai orang tua tidak mau membuat anaknya “lebih baik” dari diri sendiri. Definisi aku untuk “lebih baik” itu bukan lebih kaya dan lebih pinter (sisi akademis), tapi “lebih baik” definisi aku adalah agar anak itu menjadi manusia yang lebih bahagia daripada diri aku.

Seperti apa sih lebih bahagia itu? Lebih bahagia itu menurut aku adalah seorang  anak manusia diharapkan memiliki “freedom to choose” untuk melakukan sesuatu yang dirinya senangi, tidak terpaksa karena sebuah keadaan kultural yang  menekannya dan mengotori isi kepalanya. Rumitnya, hidup bebas seperti burung dan percaya kalau Semesta Alam akan melengkapi semua kebutuhannya kelak.

Sebenarnya semua dipulangkan kepada diri sendiri apakah dibutuhkan persiapan atau tidak menjadi orang tua itu. Kalau merasa perlu carilah informasinya. Kalau menurut aku sih perlu banget., bagaimana dengan Anda? Ada masukan lain?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s