Kebun Binatang Ragunan, Nasibmu Kini

Serius Melukis by ARO
Serius Melukis by ARO

Aku ingin menceritakan hasil jalan-jalan bersama keluarga pada weekend kemarin.

aku punya janji dengan teman sewaktu di SMA dulu. Kami berencana untuk mencicipi tengkleng kuah milik Omah Solo yang berada di Jalan TB Simatupang. Sudah pernah coba? Atau jangan jangan baru denger lagi yang namanya tengkleng itu? Ok tidak apa apa, aku coba jelaskan sedikit.

Penampilan tengkleng kuah milik Omah Solo lebih mirip gule, tetapi kuahnya lebih bening karena hanya sedikit diberi santan. Tengkleng kuah Omah Solo ada dua macam, berisi iga sapi dan kambing dan yang kemarin aku coba adalah yang kambing. 

Setelah mencicipinya untuk pertama kali, tengkleng kuah buatan restauran ini ternyata memang bisa dibilang enak. Selain itu kuahnya tidak menimbulkan bau kambing sama sekali, sehingga pada saat mengalir di mulut terasa sekali segarnya. Dan yang lebih menarik lagi ketika aku sengaja memakan cabe rawit utuh yang memang sengaja disediakan di dalam tengkleng kuah itu, rasa pedas yang dihasilkan mampu menambah cita rasa tengklengnya itu sendiri. Pokoknya Maknyus… dan tidak menyesal bermacet macet ke sana.

Demikian hasil icip-icip tengkleng di omah solo. Sengaja tidak detail detail nulisnya supaya tidak ngiler kalian bacanya.

Setelah puas menyantap tengkleng, salah satu teman aku mengajak ke Kebun Binatang Ragunan, katanya wujud apresiasi kepada anak anak yang telah menemani orang tuanya bernostalgia. Karena itu kamipun sepakat untuk menuntaskan hari Sabtu kami dengan bermain ke Kebun binatang Ragunan, yang memang tidak terlalu jauh dari situ.

Aku terakhir kali mengunjungi kebon binatang ini ketika aku masih berseragam merah putih. Jadi aku benar benar tidak bisa membandingkan antara kondisi dulu dan saat kemarin aku mengunjunginya kembali bersama keluarga. Sudah benar lupa….

****

Pada saat mobil aku berada tepat di pintu masuk Ragunan, petugas penjaga langsung menghampiri dan bertanya, “berapa orang pak?” Sebelum aku sempat menjawab diapun kemudian melanjutkan penjelasannya, “Ini sudah sore pak dan sebenarnya loketnya sudah tutup jadi nanti aku tidak memberikan tiket dan bapak tetap boleh masuk kok.” Karena aku tidak ingin mempersulit kondisi, maka akupun mengiyakan permintaan petugas penjaga itu dengan membayar sejumlah uang sesuai dengan yang telah disebutkannya.

 

Tiba di dalam parkiran Ragunan, ada perasaan yang janggal karena aku tidak mendapatkan bukti apa apa dari si petugas dan sempat terpikir bagaimana caranya nanti aku mengeluarkan mobil ini jika tanpa tanda bukti. Akhirnya, akupun memberanikan diri untuk bertanya ke petugas penjaga lainnya sebagai upaya konfirmasi saja, “Pak, tadi aku beli tiket masuk tapi tidak mendapatkan tanda bukti apa apa dan bagaimana kalau nanti aku mau keluar dengan mobil kalau tidak ada buktinya?” Penjaga itu bukannya menjawab malah menyuruh aku ke bagian sekuriti.  Sampai di depan sekuriti, akupun mendapatkan jawaban yang lebih menggagetkan lagi , “oh itu, bapak nanti kalau keluar tinggal menunjukan STNK saja.” Gubrak…. Aku jadi merasa tertipu. Ya sudah deh, tidak apa apa toh karcisnya tidak mahal, cuma yang masih mengganggu sampai hari ini adalah perasaan bersalah karena telah ikut membantu orang untuk berbuat tidak baik. ☺ 

Sesampainya di dalam, ternyata kebon binatang yang dimiliki Ibu Kota Negara ini bisa dibilang luas. Dan menariknya kita dapat menyaksikan satwa-satwa disana dengan lebih dekat, berbeda dengan di taman safari yang hanya bisa kita nikmati dari mobil saja. Jujur saja, aku lebih suka mengajak anak anak ke kebon binatang dengan konsep seperti di ragunan ini, karena menurut aku anak anak bisa melihat satwa lebih lama dan aku bisa lebih leluasa menjelaskan kepada anak anak mengenai binatang yang sedang dilihat dibandingkan waktu di taman safari. 

Tapi memang kebon binatang ini terbilang kotor dan terkesan tidak dirawat dengan baik. Ini ditunjukan dengan jumlah dan ragam satwa yang sudah tidak banyak dan satwanyapun terlihat kurang sehat dan cenderung kurus kurus. Menyedihkan memang. Tempat yang sebaik ini tapi tidak terawat. 

Coba bayangkan kalau ragunan ini milik pemerintah Singapura, pasti luar biasa jadinya. Tapi bersabarlah saja ya warga Jakarta, pemimpinnya ngurusin macet aja tidak becus apalagi ngurusin kebon binatang yang tidak ada uang buat dimasukin kantong pribadi. ☺

Karena mendadak, maka aku tidak membawa kamera. Tapi lain kali aku akan kembali ke sini lagi dengan review yang lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s