Masihkan Kita Peduli?

Banjir Rawa Buaya by ARO
Banjir Rawa Buaya by ARO

Hari minggu adalah hari yang menyenangkan buatku. Hari dimana aku bisa bersenang-senang menikmati jalan jalan bersama keluarga kecil saya. Jalan mondar mandir tak tentu arah, kadang ke mall, taman dan paling sering ya ke toko buku. 

Tapi ada satu ritual yang sering aku lakukan sebelum meninggalkan komplek perumahan sebelum pelesir ke taman dan mall-mall di Jakarta yaitu mampir ke Sekolah Pelita Harapan. Eh bukan mampir, tapi persisnya memandangi sekolahnya dari luar saja. ☺ Buat apaan? Ya tidak buat apa apa sih sebenarnya. Hanya aku suka saja. Aku memang bercita-cita untuk menyekolahkan anakku di sekolah seperti ini. Aku tuh terkagum kagum sama gedung dan fasilitasnya. Karena itulah kenapa sekolah ini mahal sekali biayanya, konon katanya ada lapangan berkuda dan kolam renang yang ukuran olimpiade .

Jadi konsep berpikirnya begini, dengan aku sering melewati dan memandanginya, kata orang-orang pinter, itu namanya menvisualisasi mimpi. Nah dari proses memvisualisasi mimpi itu akan mendorong alam bawah sadar untuk bergerak mewujudkan mimpi itu dan diharapkan Sang Kuasa turut membantu mengabulkannya. Begitu… dan sialnya aku percaya itu… sudah pernah kejadian juga masalahnya  hahaha ☺. Tentunya ya jangan dilihatin saja, tapi juga ada usaha keras yang membuat diri ini diberi kemampuan untuk mewujudkan. Meleset meleset  ya paling paling punya sekolah sekelas itu… ☺ Kayak gitu kok dibilang meleset ya. ☺

Sudah cukup intermezzo yang ngelindur ini. Kembali ke inti cerita.

***

Di sepanjang jalan menuju sekolah itu sebenarnya banyak sekali pemandangan yang bagus selain sekolah itu yaitu rumah yang besar dan bagus. ☺ Sejujurnya yang paling aku suka dengan tempat ini adalah pohon pohon yang rindang di sepanjang jalannya dan cenderung tidak banyak kendaraan lalu lalang. Jadi rasanya adem gitu dihati. 

Memang biasanya setiap sabtu dan minggu pagi, jalan ini digunakan sebagai tempat olahraga buat keluarga penduduk sekitar. 

Oleh karena malas bangun pagi dan bersepeda, akhirnya siang sianglah aku ke sini dan naik mobil pula. ☺

Di sepanjang jalan dekat sekolah, tiba-tiba aku melihat seorang anak muda yang sedang memperbaiki sebuah banner iklan jualan property yang terjatuh. Awal-awal aku menyangka kalau dia adalah petugas yang sedang memasang banner itu. Tapi setelah aku amati dengan seksama ternyata anak muda itu sedang memperbaiki banner yang jatuh tertiup angin dan ia bukanlah petugasnya.

Sebagai seorang blogger sejati dan bukan siapa siapa juga,☺  aku pun tergerak untuk memastikan pemandangan aneh ini. Kali kali jadi satu artikel buat di blog. Akhirnya akupun memberanikan diri untuk bertanya kepada anak muda ini yang memang terlihat sedang sibuk memperbaiki banner itu. Begini kira kira percakapan yang dipersingkat. ☺

“Mas, Kamu disuruh memasang banner ini?” tanyaku. Ia pun menjawab, “tidak”.  Aku pun bertanya lagi, “Memang Kamu dibayar buat menjaga banner ini tetap berdiri?” Ia pun tetap menjawab, “tidak”. Saking penasarannya, aku pun  mencecer dengan pertanyaan lain dengan nada sedikit guyon, “memang yang punya banner ini saudara Kamu? Atau jangan jangan Kamu yang menjatuhkannya?” Ia pun tetap menggelengkan kepala. 

Ditanya seperti itu, iapun memasang muka bingung dan aku juga tidak mau bertanya lebih lanjut lagi apalagi dengan pertanyaan menuduh seperti itu. ☺ Tapi aku ganti dengan pertanyaan lain yang lebih menantang yaitu, “Untuk apa kamu berdirikan banner itu, kalau kalau kamu tidak dibayar oleh perusahaan ini?” 

Ia pun menjawab, “kasian pak, masa aku melihat banner ini jatuh di depan mata, terus aku diam saja. Tidak ada salahnyakan kalau aku bantu mendirikannya lagi, toh cuma sebentar saja dan tidak butuh tenaga banyak.” 

Moral dari cerita ini, adalah sebuah kepedulian kepada sesama yang sudah hampir hilang di kota besar seperti di Jakarta. Kita semua seolah seolah sudah terbawa oleh sistem yang membuat kita semua sibuk sehingga tidak memiliki  waktu lagi untuk saling peduli satu sama lain. 

Mari kita galakan kembali rasa kepedulian ini dengan berbuat hal hal kecil untuk lingkungan kita. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s