Jalan Jalan Di Masa Muda, Salahkah?

Tukang Ayam by ARO
Tukang Ayam by ARO

Kembali ke masa kuliah. Lebih satu dekade yang lalu, aku sempat bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restaurant Italia di kota Melbourne. Ini merupakan pekerjaan yang kedua, dimana sebelumnya, aku menjadi penjual sayur mayur di pasar. Sayangnya, pada kesempatan kali ini, aku tidak akan menceritakan kisah ketika menjadi tukang cuci piring. Disini aku hanya ingin memflash back percakapan aku dengan salah satu Chef di restaurant itu.

Di satu waktu istirahat. 

Setelah berpacu dengan banyaknya piring dan gelas yang harus dicuci dan kemudian bisa duduk menikmati sepiring spaghetti seafood, merupakan sebuah kemewahan tersendiri buat aku. Masakan ini memang disediakan khusus oleh Chef untuk aku. Pengalaman rasa ketika menyantap spaghetti itu tidak akan pernah aku temukan lagi sekarang, bahkan disaat  aku sudah mampu membeli yang lebih mahal sekalipun. Rasa manis pada udang besar kupasnya saja masih terbayang sampai sekarang. Mungkin itulah bedanya, makan setelah bekerja seperti kuli dengan makan sekarang ini. 😉

****

Satu pernyataan pendek mengejutkan aku keluar dari mulut Chef.  Dia bilang kalau minggu besok adalah minggu terakhir dirinya bekerja di restaurant ini. Dan alasannya untuk pergi hanyalah karena ia ingin jalan jalan ke Eropa selama dua tahun. Ya. Dua tahun. Ia akan berjalan jalan sambil bekerja di salah satu negara di sana. Asyik kan?

Waktu itu, aku tidak paham sama sekali apa yang ingin dicapai dirinya.  Karirnya sebagai Chef di restaurant juga sangat baik, dan sebenarnya tidak ada satu alasanpun baginya untuk meninggalkan pekerjaan di sini. 

Setelah ngobrol panjang lebar, ternyata Ia memang sudah terbiasa melakukan perjalanan seperti itu. Sebelum ke Eropa, Dia sudah pernah mengunjungi beberapa kota kota besar lain di dunia. Bekerja dari satu restaurant ke restaurant lain untuk menyambung hidup di negeri orang adalah hal yang biasa Ia lakoni.

Dulu aku hanya berpikir, begitu kali ya Bule. Tidak ada keharusan untuk nabung dan berkeluarga, intinya buat Dia adalah hidup harus bahagia.

Kehidupan seperti yang dijalani Chef aku ini memang bisa dibilang menarik. Tapi apa bisa gaya hidup yang seperti itu diterapkan di Indonesia? 

****

Ketika itu, menjalani gaya hidup seperti chef terasa mustahil, paling tidak untuk diri aku.

Beberapa tahun belakangan ini, aku pelan pelan mulai melihat perubahan yang terjadi, terutama pada rekan kerja yang jauh lebih muda dari aku. Mereka kelihatannya sudah mulai menganut moto “hidup itu yang penting bahagia”. Materi atau mengumpulkan uang bukanlah menjadi prioritas utama lagi. 

Sudah banyak sekarang orang orang yang bisa jalan-jalan ke luar negeri di usianya yang masih muda dengan uangnya sendiri. Dan kelihatannya akan semakin banyak lagi.

Aku sempat menduga kalau ini pasti gara gara tiket promo yang diberikan maskapai penerbangan. Tapi semakin kesini, rasanya tidak ya. Aku lebih menyakini kalau ini memang sedang terjadi perubahan gaya hidup. Ya, telah terjadi perubahan pada cara menikmati kehidupan.

Dulu orang bekerja keras dan menabung untuk menumpuk uang, sehingga ketika tua nanti mereka bisa menikmati hasil kerja kerasnya. 

Tapi kenyataannya mungkin berbeda. Banyak dari mereka akhirnya tidak sempat menikmati jerih payah masa mudanya.

Lihat orang tua sekitar kita dan coba tanya berapa banyak dari mereka yang  sudah pernah pergi ke luar negeri. Aku tidak yakin kebanyakan dari mereka bisa menyebutkan satu negara, bahkan mungkin tidak juga Bali. ☺ Dan berapa banyak juga yang akhirnya tidak bisa pergi kemana mana karena sakit sehingga cita cita untuk menikmati hidup di kala tuapun harus pupus. Apalagi kalau ditambah dengan anaknya yang dulu diharapkan bisa membawanya jalan jalan, ternyata masih bercokol di rumah dan menjadi benalu. ☺ 

Memang kejadian menyedihkan itu tidak menimpa semua orang tua dan masih  banyak yang akhirnya bisa jalan jalan juga. Akungnya memang, iika akhirnya mereka berkesempatan untuk pergi pun, kebanyakan dari mereka sudah tidak bisa menikmatinya lagi. Keluhan fisik dari kaki sakit sampai sakit lainnya mulai menghantui, walhasil, perjalanannya menjadi tidak nyaman.

****

Ini tentunya berbeda dengan teman teman yang dari muda sudah jalan jalan kemana mana. Mereka sudah bisa jalan jalan keluar negeri di usianya yang masih muda. Setiap tahun hasil kerjanya disisihkan untuk jalan jalan bahkan bisa dibilang akan dihabiskan untuk jalan jalan menikmati dunia. Slogan yang dianut  adalah “Kapan lagi, mumpung masih muda dan masih sehat harus bisa menikmati dunia”.

Akan tetapi, masalah buat yang muda dan fun ini akan muncul ketika nanti ada kejadian yang membutuhkan uang cukup banyak di perjalanan hidupnya. Mereka akan sibuk berhutang sana-sini karena tidak cukup punya tabungan dan akhirnya kembali lagi merepotkan orang tuanya. ☺

Ya begitulah dunia, semuanya adalah pilihan. Jadi dirimu pilih yang mana? 

Oh… jangan jangan demo buruh yang akan membuat macet, juga gara-gara telah terjadi perubahan gaya hidup? Ah tidak tahu aku…..

Ini ada quate yang pernah beredar di dunia maya dan entah siapa yang buat :

   Pada Masa sekolah, ada tenaga dan ada waktu, tapi tidak ada uang.

   Pada Masa Produktif, ada tenaga dan ada uang, tapi tidak ada waktu.

   Ketika Sudah Tua, ada uang dan ada waktu, tapi tidak ada tenaga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s