Antara Idelisme, Steve Job dan Menjadi Kaya

flower by ARO
flower by ARO

Hampir sepuluh tahun yang lalu tepatnya tanggal 6 October 2011 aku pernah menulis sebuah salam perpisahaan untuk salah satu manusia yang aku kagumi di jagat ini, yaitu Steve Job. Ada yang tidak kenal? Ituloh CEOnya Apple Inc. Iya, beliau sudah 8 tahun lalu menghadap Sang Kuasa. Mungkin sekarang di dunia lain itu juga sedang demam iPhone dan iPad karena yang buat sudah disana.☺

Aku sebenarnya tidak pernah punya tokoh selain orang tua aku yang bisa aku jadikan panutan. Jadi kalau teman-teman bertanya kepada aku mengenai siapa tokoh panutan yang menginspirasi hidup aku selama ini, diluar orang tua aku tentunya. Aku tidak punya jawaban persisnya. Tapi aku bisa menyebutkan figur seperti apa sih yang bisa menginspirasi aku.  Aku mengidolakan orang orang yang memperjuangkan idealismenya hingga akhir hayatnya. Kalau aku boleh menyebutkan beberapa nama, salah satunya adalah Soe Hok Gie, Gus Dur dan tentunya Steve Job ini.

Aku mungkin mengenal Steve Job tidak terlaulu lama, tidak lebih dari 15 tahun. Definisi mengenal aku adalah benar benar mengikuti sepak terjangnya, membaca buku mengenai dirinya, mengikuti beritanya, dan menonton setiap presentasinya pada acara Apple Inc. Dan buku bibliography beliau adalah salah satu buku yang aku baca sampai habis. Karena jujur saja tidak semua buku seperti itu aku baca sampai habis. ☺

Jadi kali ini, Steve Job lah yang aku mau bicarakan sebagai sebuah tribute buat dirinya.

****

Mungkin posting ini sedikit terlambat dan teman-teman pasti sudah banyak membaca tulisan tulisan dari blog blog lain yang membahas mengenai Steve Job. Karena aku sendiri juga sampai cape membacanya. ☺

Buat teman teman yang sudah bosan membaca mengenai ini, tidak apa apakan kalau membaca pemikiran aku mengenai dirinya. Dijamin deh pasti akan ada manfaatnya. Hehehe sejak kapan tulisan di blog ini ada manfaatnya ya? ☺

Diposting mengenai Steve Job kali ini, aku mau menyoroti keidealismean beliau. Karena Steve Job memang terkenal sebagai orang yang pemarah, sombong, keras kepala, tidak mau mendengarkan konsumennya, dan masih banyak sikap yang “buruk” yang sering disandangkan ke dirinya. Bahkan dia sempat dikeluarkan dari perusahaan yang dia dirikan sendiri karena kekerasan kepalanya itu.

Ya betul, beliau adalah orang yang sangat idealis dan berpendirian keras dan itupulalah salah satu alasan aku mengaguminya. Memang banyak orang yang Idealis di dunia ini, tapi yang sukses tidak banyak. Orang yang kaku itu selalu gagal di dalam dunia bisnis, dan selalu kalah kalau dibandingkan orang orang yang bisa “membawa diri” mereka dengan baik. (baca: opportunist)

Berkaca pada diri sendiri, aku ini memang orangnya juga idealis dan gambaran aku mengenai orang idealis itu pasti bakal matinya miskin. Tapi aku sudah siap kok. Aku siap lahir batin pada saat aku memilih untuk menempuh jalur ini. ☺  Nah sebagai orang yang Idealis, aku merasakan susahnya mewujudkan apa yang aku benar inginkan, apalagi jika sudah menyangkut orang lain dan tergantung dengan orang lain. Itu bisa bikin frustasi sendiri apalagi hidup di Indonesia yang bikin KTP saja harus nyogok.

Tapi setelah melihat Steve Job mata aku terbuka, ternyata tidak demikian juga. 

Dalam hal inilah, sebenarnya aku terkagum kagum dengan sosok Si Innovator yang perfeksionist begitu julukan yang diberikan dunia kepada Steve Job. Aku rasa beliau memang pantas dianugrahkan sebutan seperti itu. 

Coba siapa yang pernah beli produknya Apple? Kalau yang sudah pernah membeli produk apple pasti bisa merasakan sifat perfectionistnya beliau. Karena dia akan memperhatikan setiap detail produknya dari kotaknya, isinya, penataannya dan semua detail yang tidak dipikirkan oleh kita. Membeli produknya Apple itu rasanya seperti dikonsumenkan. Apa itu dikonsumenkan? Mirip seperti di dimanusiakan nah kalau ini dikonsumenkan. ☺

Saat ini aku menggunakan Macbook. Macbook yang aku pakai ini adalah Macbook kedua dan rasanya aku tidak akan bisa kembali ke laptop merek lain. Terserah kalian mau bilang apa? Tapi itulah kepuasaan yang sama rasakan. ☺ Mulai khan keras kepalanya kelihatan. 

****

Coba sekarang bayangkan bagaimana caranya memimpin perusahaan sekelas itu dan kemudian bisa mempengaruhi orang orang didalamnya untuk memiliki idealisme yang sama dalam hal penciptaaan sebuah produk.  Ah mungkin aku berlebihan kalau perusahaan ya. Gini saja, siapa yang pernah menjadi ketua panitia baik acara tujuhbelasan di kampung atau acara perpisahan sekolah. 

Ketua panitia yang idealis biasanya akan memperhatikan setiap detailnya dengan baik. Ia akan memastikan setiap detail rundown acara, detail dekorasinya, kondisi konsumsinya dan masih banyak yang lainnya. Tentu dia tidak kerja sendirian, punya anggota panitianya. Nah bagaimana caranya mewujudkan keinginan membuat acara yang perfect dengan sedikit cela dengan bantuan anggota team yang notabene memiliki motivasi yang berbeda. Susahkan?

Ok… coba renungkan dulu ya dan aku mau lanjutkan dengan menceritakan sedikit pengalaman aku memimpin sebuah project pembuatan sebuah aplikasi dan mungkin saat ini sedang kalian gunakan. ☺

Aku sudah pernah merasakan bagaimana susahnya memimpin orang untuk menciptakan sesuatu yang perfect sampai ke tangan konsumen.  Pengalaman aku, kita sering melupakan hal yang menurut kita tidak penting dan mau gampangnya saja. Walaupun itu manusiawi. Kecenderungan manusia maunya enak, artinya ngapain mikir dan buat yang susah kalau seperti ini saja sudah cukup. Ya sudah….  Pokoknya laku dan ada yang beli, kemudian urusan selesai. 

Pengalaman aku memimpin anggota tim seperti itu dalam project ternyata tidak mudah, walhasil, akhirnya pasrah saja karena tidak bisa berbuat apa apa. Marah marah sudah, berantem sudah, menjadi keras kepala sudah, menggunakan kekuasaan sudah, tapi hasilnya sama saja. Tidak berhasil juga.

Berkaca dari pengalaman itupulalah aku kemudian bertanya tanya, kok bisa ya Steve Job melakukan itu ya? Aku tidak percaya kalau jawabannya karena dia yang punya perusahaan sehingga bisa semena mena dengan bawahannya. Aku sudah di dunia professional selama hampir 20 tahun dan pernah bekerja dengan beberapa pemimpin perusahaan besar di Indonesia. Tapi aku kok tidak yakin mereka bisa melakukan hal yang dilakukan oleh Steve Job. Mereka cenderung lebih manut sama bawahannya yang selalu mengatasnamakan pasar sebagai dasar argumentasinya.

Steve Job memiliki kemampuan mewujudkan semua yang dia pikirkan dan inginkan. Peduli setan konsumennya mau ngomong apa. Dia adalah salah satunya orang yang tidak percaya dengan “customer research” dan mengatakan konsumen tidak tahu apa apa dan perusahaan yang lebih tahu konsumen maunya apa. 

Itu tuh yang sebenarnya susah. Kebanyakan orang idealis itu tidak akan pernah bisa melakukan hal ini. Menjadi orang idealis itu penuh dengan godaan. Apalagi dalam dunia bisnis itu godaannya bisa dibilang tidak ada hitungannya. Dan Steve Job menurut aku bisa melaluinya dengan baik. Pertama, dia bisa membuat orang yang bekerja dengan dirinya untuk berpikir sama gilanya seperti dia. Kedua membuat orang yang sudah “gila” itu bekerja untuk dirinya dan menghasilkan produk yang sangat luar biasa. 

Coba bayangkan bagaimana manusia sekeras dia mampu memaksakan kehendaknya sehingga bisa mendorong anak buahnya bekerja dengan baik untuk menghasilkan produk produk yang simple dan mudah dipakai oleh seorang anak kecilpun plus design yang sangat cantik.

Ada yang bilang, itu mah bukan hebatnya Steve Job sendirian, pasti ada designernya yang hebat dan juga tim teknikal lainnya. Betul sekali tidak ada yang salah dengan argumen itu. Tapi aku berani yakinkan tanpa arahan pemimpin sekelas Steve Job, aku rasa pasti produk yang dikeluarkan tidak akan sehebat saat ini. 

Arahan dan nilai yang ditanamkan beliau untuk membuat produk yang special dan tidak asal asalan itu bukan perkara mudah. Pemimpin yang bisa “memaksakan” kehendak dan anak buahnya tidak resign itu saja sudah hebat banget, apalagi sampai bisa menciptakan satu produk yang bisa merubah cara dunia berkomunikasi dan kemudian ditiru perusahaan lain. Luar biasa bukan.

Aku benar benar merasa kehilangan figur pemimpin kelas dunia yang bisa dicontoh.  Steve Job telah membuat aku yakin bahwa menjadi orang idealis itu juga bisa sukses. Tidak perlu manut manut ikut angin dan arah. Apalagi mengikuti kemana uang mengarah. Itu lebih memalukan lagi. 

Dan buat teman teman yang “beragama” sama dengan aku yaitu “agama” idealisme. Jangan menyerah untuk mempertahankan apa yang kita percaya dan yakini kebenarannya. Mending mati dengan harga diri daripada mati ikut ikutan orang. Mending mati miskin daripada hidup kaya tapi tidak bangga dengan diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s