Sudah Nabung Berapa Kamu?

Danbo Dengan Bunga by ARO
Danbo Dengan Bunga by ARO

“Sudah punya tabungan berapa kamu?” Pertanyaan itu diajukan oleh Papi, tepat setelah setahun aku resmi menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan multinational. Pertanyaan sederhana yang untuk sebagian orang tidak berarti apa apa, tapi tidak buat aku. 

Pertanyaan Papi ini membuat aku kembali berhitung. Ternyata selama satu tahun kerja ini, aku memang tidak menabung sama sekali. Bagaimana nanti kalau mau menikah? Bagaimana nanti kalau ada apa apa yang tidak bisa ditanggung kantor? Bagaimana kalau nanti mau punya usaha sendiri? Ya. Semua pertanyaan itu harus bisa dijawab kalau mau disebut pribadi yang mandiri. 

Sejujurnya pertanyaan itu telah membangunkan aku dari sebuah “tidur” selama satu tahun lamanya. Tidur karena aku telah berfoya foya menghabiskan gaji yang diterima setiap bulannya. Setiap bulan gaji yang aku terima pasti habis tidak bersisa. Untungnya tidak sampai gali lobang tutup lobang. ☺

Pertanyaan sederhana dari Papi ini, telah membuka mata aku lebar lebar. Aku tidak tahu, apakah Papi sengaja bertanya itu supaya anaknya mulai berpikir untuk menabung, atau itu hanyalah pertanyaan sambil lalu saja. Apapun maksud dibelakang pertanyaan itu sudah tidak penting lagi, karena aku sudah berhasil dirubahnya. 

Ini sebenarnya bukan pertanyaan pertama Papi yang merubah hidup aku. Dulu ketika masih duduk dibangku SD pernah juga. Sewaktu kenaikan kelas 5 SD, Mami membawa rapor aku  ke papi dan menemukan kalau aku hanya berhasil mendapatkan ranking 40 dari 44 siswa di dalam kelas. Masih teringat jelas, ketika itu Papi bertanya kepada aku, “Kok cuma bisa melewati 4 orang saja?”

Pertanyaan itu sama sederhananya dengan pertanyaan “sudah nabung berapa?” tapi hasilnya sama luar biasanya. Sejak saat itu, aku termasuk pelajar yang disegani di kelas dalam hal prestasi. ☺ Aku seperti ditemukan kuncinya sehingga kemudian memiliki semangat untuk berprestasi di sekolah. Hingga hari ini, aku selalu hidup untuk mencapai apa itu yang terbaik. 

Dengan tulisan ini, aku hanya ingin berterima kasih kepada Papi. Dan juga ingin Papi aku tahu, kalau pertanyaan-pertanyaan sederhana itu telah menyadarkan anaknya untuk lebih bertanggung jawab atas hidup yang sedang dijalaninya ini. 

Sekali lagi terima kasih kepada Papi karena sudah diingatkan. Mungkin Papi selama ini merasa tidak memberikan nasihat apa apa, tapi itu bukan berarti anakmu ini tidak belajar apa apa darimu. 

Tulisan ini didedikasikan untuk Papi…  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s