KORA KORA, DUFAN, Dan Menjadi Muda Lagi

Dibawah ada apa ya? by ARO
Dibawah ada apa ya? by ARO

Kembali ke beberapa tahun lalu, ketika aku kedatangan seorang teman dari Australia ke Jakarta. Dia adalah teman kuliahku, yang dulu pernah berjanji akan berkunjung ke Jakarta.

Pertama kali dia mendarat di Jakarta, pertanyaanku dan teman teman adalah mau dibawa kemana nih teman kita yang baru pertama kali ke Jakarta ini. Dan tanpa berdebat panjang, kita sepakat membawanya ke Dunia Fantasi. 

Sebagai catatan, ini juga adalah kunjungan ke Dufan aku lagi setelah sekian tahun tidak ke sana. Seingat aku, terakhir ke Dufan sewaktu masih duduk di bangku SMA.  Ayo kapan kalian terakhir ke Dufan dan apa permainan yang paling mengesankan buat dirimu?

Permainan di Dufan yang paling berkesan buat aku sampai hari ini adalah Kora Kora (perahu ayun). Dan permainan itupulah yang aku perkenalkan pertama kali ke teman aku dari Australia ini, setibanya di Dunia Fantasi.

****

Karena masih sepi, maka kamipun tidak perlu antri dan mengambil posisi paling ujung belakang. Seingat aku dulu, posisi inilah yang akan memberikan sensasi yang paling menakutkan. Karena kita akan diayunkan paling tinggi dan akan menikmati turun yang paling jauh juga, jadi sensasinya kaki tak menginjak tanah lebih terasa. 

Aku telah duduk dengan nyaman di atas perahu ayun yang belum bergerak ini. Sambil menunggu pengunjung lain menaiki perahu, aku mengamati kondisi perahu yang sudah bertahun tahun aku tidak naiki ini. Dan ternyata memang tidak ada yang berubah sama sekali. Besi pengaman untuk menahan badan kita agar tidak jatuhpun, terasa sudah tidak kencang lagi dan dapat kita gerakan naik turun, dimana akan menimbulkan bunyi menarik jika sudah mulai nanti. Tidak ada hal yang benar benar berubah, sama saja seperti dulu.

Pelan-pelan perahu bergerak… aku menarik nafas dalam dalam, siap siap menikmati sensasi ketika perahu bergerak lebih cepat dan tinggi lagi. Dalam beberapa detik kemudian, perahupun melaju. Mau tahu rasanya? Luar biasa, aku ketakutan sekali. Permainan yang dulunya aku naiki sambil berdiri dan lepas tangan, plus ditambah berteriak kencang kepada petugasnya untuk lagi lagi dan lebih kencang lagi. Dan sekarang aku benar benar menginginkannya secepat mungkin untuk usai.

Diatas sana aku begitu ketakutan, ditambah alat pengaman yang tadi tidak terlalu kencang terpasang menimbulkan bunyi yang dulunya menarik malah sekarang menambah rasa ketakutan itu. Banyak pikiran mengalir di otak dan membuat rasa ketakutan semakin menjadi jadi. Pikiran seperti apakah mesin ini diservis secara berkala dan apakah sudah terjamin keamanannya, juga hal-hal negatif lain yang semuanya membuat tambah menyeramkan. Aku kemudian mencoba memejamkan mata dan hasilnya tetap nol besar. Bukannya berkurang malah rasa takut ini semakin menjadi jadi… Ya betul aku ketakutan diatas permainan yang dulu menjadi favorit aku. Sekarang semua sudah berubah, aku begitu ketakutan dan benar benar ketakutan. Ketakutan karena memikirkan kejadian yang akan menimpa aku apabila terjadi sesuatu dengan permainan kora kora ini. Intinya terlalu banyak pikiran yang menyeramkan yang menghantui aku pada saat diatas permainan itu.

Setelah turun, aku kemudiaan menanyakan hal ini kepada teman teman aku, ternyata mereka juga mengalami hal yang sama. Walhasil seharian kami di Dufan, tidak bermain permainan extreme lainnya dan sebelum malam kita semua sudah meninggalkan Dunia Fantasi. ☹

****

Cerita ini menggambarkan, bagaimana kondisi cepat sekali berubah. Di waktu masih SMA dulu, dimana belum ada pikiran “kotor” yang menghantui, aku nekat menaiki setiap pemainan permainan yang ada di Dunia Fantasi tanpa ada rasa takut sama sekali. Dan sebaliknya, setelah aku bekerja dan memiliki kenyamanan, maka semuanya menjadi berbeda. Mulai tumbuh rasa takut kalau ada apa apa yang menimpa, kuatir kalau kenapa napa nanti dan pikiran pikiran konyol lainnya. Semua ketakutan itu akan membuat aku mengurungkan diri untuk mencoba hal hal yang baru yang mungkin membawa aku menjadi manusia yang lebih baik.

Mungkin begitu juga kali ya, pikiran para pemimpin kita yang sudah tua tua. Yang sudah merasa nyaman diatas sana, sehingga tidak mau berubah lagi. Takut kalau berubah maka kenyamanan yang sekarang dinikmatinya hilang. Itu mungkin sebabnya korupsi tidak mau hilang hilang dari bumi Indonesia ini, wong enak kok ya… tidak ngapa ngapain, bisa cepet kaya.

Coba kita kembali ke 84 tahun lalu, tepatnya 28 October 1928, pemuda dari seluruh penjuru Indonesia bersumpah untuk bertanah air Indonesia, berbangsa Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Dimana waktu itu, Indonesia masih dijajah dan negaranya saja masih belum ada, bahasanya saja masih menggunakan bahasa melayu dan belanda. Mereka, para pemuda sudah berani bermimpi untuk memiliki Negara yang bernama Indonesia dan akan berjanji untuk terus berjuang mewujudkannya. Dan karena mimpi pemuda dululah, akhirnya sekarang kita bisa menikmati kemerdekaan, berdaulat di tanah air Indonesia, berbangsa Indonesia dan berbahasa Indonesia. Coba kalau nunggu yang tua tua beraksi dulu, bisa bisa sampai sekarang Negara kita masih menghadap ke Ratu Belanda sana. ☺

Begitulah mungkin, betapa pentingnya kontribusi pemuda untuk memajukan bangsa ini. Negara ini membutuhkan pemuda yang berani menggerakkan perubahan perubahan kearah yang lebih baik. Pemuda yang nekat bermimpi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera. Pemuda yang mampu berkata tidak apabila ada hal hal yang bertentangan dengan prinsip prinsip kebenaran yang dianutnya. Pemuda yang berani beradu pendapat, ketika para tua tua sudah mulai malas berubah.

Kelihatannya enak deh jadi manusia yang berjiwa muda, jadi aku bisa nekat naik kora kora lagi. Jadi buat yang sudah merasa tua, kayaknya tidak ada pilihan lain selain untuk selalu tetap memiliki jiwa muda, biar sama nekatnya sama yang muda muda. Biar tidak marah marah kalau “dinasehati” sama yang muda muda dan malah bisa ikut menuntun pemuda dalam mengisi pembangunan Negara ini. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s