Surat untuk Takita

Belajar Jalan by ARO
Belajar Jalan by ARO

Maaf Takita, aku baru bisa membalas suratmu sekarang, surat yang sebenarnya sudah lama aku terima. Sebuah kehormatan buat diriku karena telah disurati oleh dirimu. Oh ya, sebelum bercerita panjang lebar, aku ingin memperkenalkan diri dulu. Ada petapah pernah bilang “tak kenal maka tak sayang”. 

Aku memiliki nama yang cukup unik. Kata orang tuaku nama ini diberikan oleh seorang pastor pada saat diriku dibaptis secara Katolik ketika baru lahir dulu. Susahkan mengucapkan namaku itu? Karena itupulalah dari kecil banyak sekali kejadian salah penulisan atas namaku ini. Waktu SD namaku ditulis pada raport sekolah dengan Apolus, terus di SMP namaku ditulis Appalaus dan untungnya semua ijasahku tertulis dengan nama yang benar. Dulu aku sempat tidak terlalu bangga dengan nama ini. Nama yang harus aku ulang ulang ketika berkenalan dengan orang lain. Tapi sekarang aku bersyukur sekaligus bangga karena telah dikarunia nama unik itu oleh kedua orang tuaku. Coba cari di seluruh dunia pasti cuma aku yang punya nama itu. ☺

Jadi agar mudah buat Takita, aku boleh dipanggil apa saja, senyaman lidahmu mengucapkan saja. Apapun panggilannya nanti aku akan tetap nengok untuk dirimu, kalau sampai tidak nengok, ditoel saja ya, kali kali aku sedang melamun. ☺

Cukup ya perkenalan dengan diriku, kalau ada hal yang butuh ditanyakan lebih lanjut bisa lewat jalur pribadi saja ya. ☺

****

Nah sebagai balasan dari suratmu, aku mau sedikit bercerita mengenai masa kecilku dulu ketika masih belajar membaca dan menulis.

Kalau bercerita mengenai masa kecilku dulu, tidak elok kalau tidak menceritakan sosok dibelakang diriku yang selalu mendukung setiap langkah kecilku hingga aku bisa sampai seperti sekarang ini. Dia adalah Ibuku. Ibu yang telah melahirkan aku ini bisa dibilang wanita yang sangat mengagumkan. Beliau bisa dibilang tidak menyenyam pendidikan formal sama sekali, Takita. Jadi aku berani bertaruh kalau kemampuan menulis dan membaca Takita pasti bukanlah tandingannya. 

Betul Takita, Ibuku ini memang tidak bisa membaca dan menulis, tapi percaya tidak kalau sampai hari ini, aku masih ingat bagaimana beliau mengajarkan aku menulis dan membaca. Bisa dibayangkan, bagaimana seorang yang tidak bisa membaca dan menulis mampu mengajarkan seorang anak untuk membaca dan menulis. Itulah hebatnya Ibuku, Takita.

Dari Ibuku aku belajar, ternyata tidak perlu menjadi manusia serba bisa dulu untuk bisa memberi. Tapi hanya butuh sedikit cinta dan ketulusan yang akan selalu memberikan kekuatan untuk tetap bisa memberi kepada orang lain. Dengan alasan itupulalah, aku, si bukan siapa siapa ini selalu berusaha hidup untuk berguna buat orang lain. Karena aku percaya untuk berguna bagi orang lain kita tidak perlu menunggu untuk menjadi siapa siapa dulu. Seperti Takita sekarang, kecil kecil sudah bisa menginspirasi banyak orang. ☺

Maaf, aku malah ngelantur ceritanya nih. Yuk kita lanjut dulu dengan cerita utamanya.

Takita pasti bertanya tanya sekarang, bagaimana Ibuku bisa mengajarkan aku menulis dengan kemampuan yang tidak dimilikinya.

Ibuku tuh sedikit sedikit bisa menggambar walaupun dia bukan pelukis. Loh kok malah menggambar apa hubungannya? 

Begini… Dulu kalau belajar menulis, kita selalu diberikan contoh oleh Ibu guru baik itu dalam bentuk huruf, kata atau kalimat. Nah biasanya Ibu guru telah terlebih dahulu menulis dibaris paling atas lembar buku tulis dan muridnya disuruh menyalin tulisan yang sama pada lembar buku itu. Aku harus menulis kata atau kalimat yang sama berkali kali sesuai contoh dari Ibu guru. Dan setiap kali aku mengalami kesulitan menulis, Ibuku tanpa komando akan mengenggam tanganku yang berpensil dan menuntun tanganku sambil melihat tulisan diatasnya. Buat diriku memang terlihat sedang menulis, tapi buat Ibuku, aku yakin dia sedang menggambar. Iya menggambar, tepatnya sedang menggambar tulisan contoh itu.  Begitu terus dilakukan sehingga akhirnya akupun bisa menulis seperti sekarang ini. Jadi bayangkan Takita, seorang Ibu yang buta hurufpun bisa mengajarkan anaknya untuk menulis.

Dengan pengalaman itu Takita, aku juga mau minta tolong sama Takita untuk memberitahukan kepada teman-teman semua untuk tidak menyerah terhadap kondisi apapun itu.  Mungkin saat ini ada diantara teman teman Takita yang memiliki orang tua yang juga tidak mampu membaca dan menulis sehingga mereka saat ini merasa tidak punya tempat untuk bertanya dan belajar. 

Katakanlah dengan lantang kepada mereka Takita, apapun kondisi orang tua kita, selama kita ada kemauan pasti disana Tuhan yang akan selalu memberikan jalan buat keberhasilan kita. Maka berhentilah mengeluh dan menangisi kondisi kita saat ini dan tentunya teruslah bermimpi.

Mungkin ini saja yang aku bisa ceritakan dan buat Takita sendiri ayo jangan pernah berhenti bermimpi untuk mendukung orang tua bercerita kepada anaknya. 

Oh iya, aku sekarang setiap hari juga selalu meluangkan waktu untuk bercerita kepada anakku yang masih berusia 2,5 tahun. Dan aku sangat menikmati momen ketika ia mempertanyakan hal hal aneh yang aku ceritakan dan melihatnya dilain hari mengulang cerita yang aku ceritakan kepada bonekanya. Luar biasa rasanya, Takita.

Terima kasih sudah menginspirasi banyak orang dan tetaplah seperti itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s