Memilih Karyawan Strata Satu atau SMK

Mengapa kepalaku ganti? by ARO
Mengapa kepalaku ganti? by ARO

Akhir akhir ini Karyawan di kantor cenderung mengalami penurunan kadar semangat juang dan tanggungjawab terhadap pekerjaannya. Sialnya tingkahlaku perilaku ini sering ditemukan diri para fresh graduate yang diterima di kantor. 

Dilain sisi, karyawan fresh graduate juga menuntut gaji yang cukup tinggi seolah olah mereka itu memiliki keterampilan seperti layaknya karyawan yang berpengalaman.  Padahal setelah diberikan pekerjaan ternyata mereka semua tidak memiliki semangat untuk belajar, kerjanya maunya cepat saja, tidak memiliki rasa tanggungjawab  dan masih banyak hal hal yang lain yang menyedihkan lainnya.

Ini bisa deh dibilang curhat, tapi sebenarnya dibalik itu semua, ada hal yang membuat aku prihatin terhadap kualitas lulusan universitas Indonesia. Para lulusan srata satu ini terlihat hanya asal lulusan saja. Pengalamanku dari menginteview para pelamar dari beberapa universitas swasta dapat dirasakan penurunan kualitas yang amat sangat. 

Sebagai contoh aku pernah menginteview lulusan salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta dengan IPK hampir menyentuh angka 4. Baru ditanya dua-tiga pertanyaan, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa kemampuannya tidak menggambarkan nilai IPKnya. Bahkan menjelaskan skripsinya sendiri saja tidak dapat dilakukan dengan baik, padahal nilai skripsinya itu A. Ini adalah gambaran kondisi lulusan universitas di Indonesia yang pernah aku lakukan interview, menyedihkan bukan. Nah kalau sudah diterimapun ternyata tidak benar benar bisa bekerja.

Aku pernah membandingkan dengan para lulusan SMK yang juga pernah aku interview dan sudah aku pekerjakan juga di kantor. Hasilnya berbeda sekali. Aku kok lebih percaya dengan para lulusan SMK ini. Mereka terlihat begitu percaya diri dan sudah siap kerja.  Maka tidak heran kalau saat ini banyak anak anak SMK yang berprestasi, coba saja lihat mobil ESEMKA.

Aku tidak tahu apa yang salah dengan ini. Tapi rasanya kampus kampus sekarang sudah seperti pabrik pabrik sarjana tanpa quality assurance yang baik. Pokoknya bisa meluluskan sebanyak banyaknya, kualitas lulusan nomor sekianlah. Sehingga pada saat masuk dunia kerja seperti orang gagap saja tanpa skill yang memadai. Kalau sudah begini, siapa yang salah coba?  Apakah kalian juga merasakan hal yang sama dan berpikiran sepertiku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s