Perjuangan Hidup Pekerja Dengan Gaji UMR Di Jakarta

Kapal Melabuh by ARO
Kapal Melabuh by ARO

Seorang teman tinggal di daerah Depok, Jawa Barat. Berbekal ijazah SMA, Ia bekerja sebagai “data entry” di sebuah perusahaan multinational di daerah Sudirman.  

Setiap hari Ia harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam dari rumah menuju kantornya. Dalam sekali jalan, hampir semua moda transportasi yang dimiliki kota ini ia pergunakan untuk mengantarkannya sampai ke kantor. Dari Ojek, Angkot, Metro mini, hingga TransJakarta. 

Ia juga harus berangkat pagi pagi sekali sebelum matahari memunculkan senyumnya. Tidak ada kata terlambat berangkat dalam kamusnya. Karena apabila siangan sedikit, selain terlambat masuk kantor, Ia akan dipaksa untuk berdesak desakan di dalam bus dan angkot yang tak jarang membuatnya mengalami pelecehan sexual disana.  Betul, Ia adalah seorang wanita yang terpaksa harus berhenti sekolah demi membantu kedua orang tuanya memutar roda perekonomian keluarga. 

Kota Jakarta memang kejam untuk orang yang tidak memiliki pendidikan cukup tinggi. Itulah Jakarta, walau sudah kejam  tapi tetap seksi untuk ditinggali dengan segala kegelamoran dan kesenjangan sosialnya. Begitu juga dengan temanku ini, Ia tetap bertahan hidup di tengah sulitnya kehidupan ekonomi yang menyelimuti dirinya.

****

Ya, kata yang tepat adalah memang bertahan hidup. Mengapa? Dengan gajinya sebagai “data entry”, dimana itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari tanpa memberikannya kesempatan sekecil apapun untuk menabung. Jika terjadi perubahan yang mendadak dalam kehidupannya, seperti kalau ada salah satu anggota keluarga yang sakit, maka paniklah yang ada, dan hutang sana sinilah solusi yang akan ditempuhnya. 

Gaji bulanannya memang hanya mampu membuatnya “hidup”. Setengah dari gajinya habis untuk transportasi dan makan, kemudian sisanya diberikan kepada orang tuanya untuk membantu adik adiknya melanjutkan sekolah agar kelak tidak seperti dirinya.  Hidup seperti ini sudah berlangsung bertahun tahun dan kelihatannya Ia harus menjalani terus kehidupan seperti ini, tanpa tahu mau dibawa kemana hidupnya kelak. Semua yang Ia lakukan saat ini adalah dalam rangka bertahan hidup. Iya betul. Ia hidup dengan mode bertahan hidup. 

****

Pertanyaannya adalah ada berapa banyak orang yang hidup seperti ini? Ada berapa banyak keluarga yang hidup dari gali lobang dan tutup lobang, yang hanya untuk melanjutkan kehidupannya? 

Hidup dalam sebuah “penjara” tanpa pernah merasakan kalau hidup itu sebenarnya indah dan tidak serumit yang dialaminya. 

Memang betul, ada segelintir orang yang berhasil meloloskan diri dari “penjara” hidup ini. Tapi itu tidak bisa langsung dijadikan patokan yang kemudian bisa disimpulkan dengan sebuah kalimat motivasi “kalau mau berubah pasti bisa”. No, it’s not that simple. 

Buat sebagian besar orang merubah nasib diperlukan “Tangan Tuhan”. Siapa “Tangan Tuhan” itu? 

Bisa orang-orang yang punya hati baik yang suka rela menolong mereka untuk berubah. Atau pemerintah sebagai Wakil Tuhan dimuka bumi ini yang memang berkewajiban untuk membantu mereka. 

Aku yakin dalam hati kecil mereka pasti menginginkan perubahan. Tapi kondisi seperti “penjara” seumur hidup ini telah menjeratnya terlalu lama dan membuat mereka benar benar tidak mampu bergerak sekarang. Jadi semangat dan keinginan untuk berubah saja tidak cukup untuk membuat mereka melangkah. 

****

Tulisan ini sebenarnya memang terpicu dari berita mengenai tuntutan buruh DKI agar Pemerintah menaikan UMR (Upah Minimum Regional) mereka. 

Dimana akumelihat nasib buruh buruh itu didalam diri teman akuini. Buruh yang memang sudah bertahun tahun terjebak dalam lingkaran kehidupan seperti yang dialami teman akuitu. Buruh yang sedang mencoba peruntungan untuk menyelamatkan dirinya dari sebuah lingkaran setan yang telah menjeratnya selama bertahun tahun.  Dan saat ini mereka sedang mencoba keluar dari lingkaran itu dengan bersuara lebih keras. 

Karena merekapun akhirnya sadar kalau Pemerintah Negara ini adalah penganut slogan “Biarkan saja, nanti rakyat pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk selamat.” Jadi kalau mereka tidak teriak sekarang, mana mungkin ditengok oleh pemerintah.

Semoga saja teriakan mereka kali ini didengarkan oleh Yang Maha Kuasa dan dikabulkan tentunya, agar kelak mereka juga mampu memperoleh hidup lebih baik lagi. 

Pastinya diluar sana akan ada yang setuju dan tidak setuju mengenai kenaikan gaji buruh ini. Ada yang mempertanyakan tingkat daya saing produk Indonesia terhadap serbuan produk import dari Negara lain. Dan ada yang mulai menghitung kemampuan perusahaan untuk memperkerjakan buruh dengan gaji setinggi itu. Apapun itu argumennya pasti semua ada pembenarannya. Siapa yang paling benar? Tanyakan pada hati nurani saja.

Aku disini sebenarnya tidak sedang membela para buruh. Aku hanya prihatin saja dengan kondisi rakyat yang senasib dengan temanku itu. Dan karena aku bukan siapa siapa, maka bantuannya hanya bisa seperti ini saja yaitu menjadi “provokator hati”. 

Jikalau mau sok sokan memberikan solusi akhirnya juga mengambang di udara saja.  Karena berbicara solusi itu gampang, tapi kalau tidak mampu mengimplementasikanya, maka itu hanya akan menjadi bau mulut yang akan menyakiti lebih banyak orang lagi. Lebih baik begini saja. Ya khan… ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s