Pembangun Infrastruktur dan Tradisi Mudik

Tukang Es Keliling
Tukang Es by ARO

Seorang pemuda gagah melintas di jalan setapak pedesaan yang berbatu dan belum teraspal sama sekali.  Pemuda dengan rambut klimis itu mengenakan tas punggung, kaca mata hitam, baju yang berwarna cerah dan baru, membuatnya terlihat modern. Ia terlihat sangat kontras ditengah lingkungan pedesaan itu. 

Pemuda itu terlihat menikmati dirinya menjadi pusat perhatian orang orang yang tinggal di rumah sekitar jalan yang dilaluinya. Pemuda yang bernama Misni (bukan nama sebenarnya) ini memang baru saja pulang dari Jakarta menuju kampung halamannya di salah satu desa di kota Tegal yang sudah ia tinggalkan selama 1 tahun terakhir ini.

Sekarang dia kembali dan membuat pangling semua penduduk kampung dan keluarganya.

***

Misni yang dulu lusuh, kumuh dan kotor saat ini menjelma menjadi sosok laki-laki yang gagah, bersih dan tampan. Apa gerangan yang terjadi pada Misni setelah ia melancong ke Jakarta selama setahun? Begitu pertanyaan yang terlintas di benak penduduk yang sekarang melihatnya melintas.

Keluargapun dibuat bangga oleh pemilik nama lengkap Sumisni ini. Kepulangannnya ke kampung yang dicintainya, membawa berkah berlimpah bagi keluarga dan sanak saudaranya.

Teman dan saudara  melihat Misni sebagai seorang yang sukses. Sedikit demi sedikit tertanam di benak mereka bahwa Jakarta adalah sumber rezeki dan tempat yang layak dikunjungi untuk merubah nasib.

***

Itulah cerita singkat mengenai Mudik yang akan segera dilakukan oleh puluhan juta penduduk Indonesia dalam waktu dekat ini. 

Aku tertarik menulis dengan tradisi mudik ini,  Aku rasa ini adalah sebuah “pesta travelling” terbesar yang pernah terjadi di dunia dalam satu waktu yang singkat. Bisa masuk record dunia loh. Ini ditunjukan dari jumlah yang terus meningkat dari tahun ke tahun, angka bisa berkisar 20 jutaan pemudik setiap tahunnya.

Semua aspek  dan lini kehidupan disiapkan untuk menghadapi acara besar tahunan ini. Semua orang tanpa terkecuali merasakan dampaknya, mau itu positif ataupun negatif.

***

Mudik  berasal dari bahasa Betawi yaitu “udik” yang artinya kampung, kemudian diartikan pulang ke kampung halaman ini dilakukan sebagai tradisi bagi sebagian penduduk Indonesia terutama jawa tengah.

Jakarta sebagai kota yang mengalami “exodus” paling besar di banding kota kota besar lain di Indonesia, dalam waktu sangat singkat berubah  menjadi seperti kota mati. Penduduk Jakarta yang masih tinggal, akan menikmati lenggangnya jalan selama beberapa hari itu. Indah banget rasanya. Menikmati perjalanan di Jakarta tanpa macet dan angka polusi yang menurun drastis.

Disaat yang sama Gubernur  DKI Jakarta juga menyiapkan strategi jitu untuk mengurangi jumlah penduduk yang kemungkinan akan datang kembali ke Jakarta. Aturan aturan untuk membendung arus balik nantinya siap diterapkan, dari razia KTP, pemeriksaan di terminal kedatangan dan lain lain. Hal ini disebabkan, arus balik sudah menjadi momok pemerintah kota Jakarta, para pemudik pulang dan kembali membawa teman dan meningkatkan lonjakan penduduk secara signifikan. 

***

Nah lanjutkan ceritanya si Misni dari Tegal ini. Setelah memperoleh ketenaran sesaat di kampung halamannya, hari harinya dilalui dengan dada terbusung tinggi karena menjadi topik pembicaraan teman-temannya.  Sukses stori Misni membawa rezeki ke desanya itu menjadi pertanyaan yang selalu diajukan, mungkin kalau ia harus mengarang cerita agar terlihat lebih sungguh, ya pasti akan dilakukan oleh pemilik nama Tony kalau di Jakarta. 😉 Ibaratnya sudah kepalang basah, ya basah sekalian. Wis kadung. ☺ 

Cerita Misni,membuat teman-temannya tertarik untuk ikut ke Jakarta. Walhasil, 2 temannya berhasil di rekrutnya dan dijanjikan pekerjaan setibanya di Jakarta nanti.

Pikir temannya itu, lebih baik pergi ke Jakarta daripada di Kampung yang terlihat tidak bermasa depan ini.

***

Waktunya pun tiba, setelah berpamitan Misni pun pamit dengan 2 temannya menuju kota untuk siap-siap menjadi Tony kembali dan melakukan aktifitas rutinnya di Jakarta.

Setibanya di Jakarta, ternyata  teman-temannya dibuat kecewa,  ternyata Tony adalah hanya seorang pemulung yang mendirikan rumah jadi jadian di bawah kolong jembatan. Tapi ada daya temannya itu, sudah terlanjur tergiur oleh bualan Tony dengan terpaksa mengikuti jejak Tony menjadi pemulung.  Mereka berharap suatu saat akan menjadi pahlawan seperti Tony pada saat pulang mudik tahun depan. Hitung hitung sekarang Tony pun memiliki 2 anak buah untuk meningkatkan omzet dari memulungnya. Hebatkan!!

Sampai dengan perjumpaan dengan mudik berikutnya, sudah bisa dipastikan mereka akan kembali membawa murid baru sebagai anak buahnya lagi. Begitulah lingkaran setan ini berputar, tak tahu kapan berhenti.

Ya memang ini masalah klasik yang harus diselesaikan oleh Negara ini. Pemerataan pembangunan di desa desa adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini, sehingga tidak hanya Jakarta sebagai kota yang bisa menghidupi orang orang Indonesia ini.

Sekarangkan udah ada Menteri Khusus kalau tidak salah untuk mengurusi ini. Semoga kementrian ini dapat bekerja cepat dan efektif sehingga cita cita untuk mempercepat pembangunan di daerah-daerah benar benar terlaksana.

Semoga semakin sejahtera penduduk desa. Selamat Mudik semoga sampai di tempat tujuan dan bertemu dengan sanak keluarga. Jangan lupa hindari membawa korban baru ke Jakarta ya ! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s