Ke Jakarta Aku Kembali

Patung Selamat dating Jakarta
Ke Jakarta Aku Kembali by ARO

Definisi urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kata urbanisasi hanyalah salah satu dari bahan pelajaran yang perlu dihafal karena biasanya keluar pada soal ujian.

Setelah dewasa kata urbanisasi sudah menjelma menjadi sesuatu yang lain, apalagi kalau ditanyakan kepada Pemerintah khususnya Gubernur DKI Jakarta. Seharusnya urbanisasi bukan lagi menjadi sekedar kata yang hanya perlu dihafalkan, melainkan sudah menjadi masalah besar yang perlu dicarikan jalan keluarnya. 

Pembangunan tidak merata dan masih terpusat pada kota kota besar di Indonesia, membuat Jakarta masih menjadi tempat favorit untuk mengadu nasib memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup. Jakarta menjadi satu satunya tumpuan dan harapan bagi siapa saja yang menginginkan perubahan nasib itu. 

Di Jakarta tersedia berbagai lapangan pekerjaan yang dapat digeleluti untuk menghasilkan uang. Dari pengusaha sampai pengemis semua menggantungkan nasibnya kepada Jakarta. Seolah olah, di Jakarta mencari uang itu gampang. Pengemis saja bisa kaya, apalagi pengusaha. Berdiri berdiri di pinggir jalan saja bisa mendapatkan uang, ngorek ngorek tempat sampah saja bisa beli rumah, bunga jatuh dari pohon bisa di jual, bantu dorong mobil mogok juga bisa mendapatkan uang. Pokoknya hampir semua hal, kalau di Jakarta pasti bisa diuangkan.

Siapa yang tidak tergiur dengan segala kemudahan itu.

****

Karena itulah, banyak orang dari desa datang ke Jakarta dengan cita cita menjadi kaya dan memiliki uang banyak. Orang yang datang ke Jakarta sangat beragam kesiapan dirinya. Dari orang yang benar benar punya kemampuan  sampai  orang yang hanya bermodalkan nekad saja. Pokoknya semua ngumpul di Jakarta, mengadu nasib. 

Dan pada tulisan kali ini, saya hanya ingin mengangkat pengalaman seorang  sarjana lulusan salah satu kota di Jawa Tengah yang mengadu nasibnya di Jakarta. 

Sebagai orang yang memegang ijazah sarjana, pasti akan relatif lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan mereka yang bermodal nekat. 

Pertanyaannya apakah sarjana ini bisa hidup enak di Jakarta?

Kisah ini bermula ketika suatu hari saya bertemu dengan karyawan salah satu perusahaan multinational di Jakarta, sebut saja namanya Andy (bukan nama sebenarnya). Ia sudah bekerja selama dua tahun di perusahaan itu dan gajinya diatas rata rata perusahaan lain yang sejenis. 

Dia menceritakan kepada saya, bagaimana susahnya ia menabung, walaupun dengan jumlah gaji yang sudah diperolehnya itu. 

Dia mengakui awal awal memang kesulitan mengalahkan godaan konsumerisme yang ditawarkan kota yang sudah dipenuhi dengan mall dimana mana. Maka jangankan menabung, untuk mencukupi hidupnya selama sebulan tanpa hutang saja sudah baik.

Sejalan dengan waktu, Iapun menyadari kalau kehidupan seperti itu salah, maka mulailah pelan pelan Ia merubah cara hidupnya dan mulai menabung. Segala macam teknik pengiritan mulai diterapkan, walhasil Iapun berhasil memiliki tabungan. 

Ternyata, walaupun Ia telah berhasil menabung, masih saja ada kegalauan yang timbul di dalam hatinya.  Apalagi setelah mengetahui bahwa teman yang satu angkatan dengannya dan sekarang bekerja di Jawa Tengah memiliki lebih banyak tabungan dibandingkan dengan dirinya. Padahal, gaji bulanan temannya itu cukup jauh dibandingkan dengan dirinya yang kerja di Jakarta.

Maka ada rasa kecewa yang amat dalam, apalagi ketika Ia mengatakan, “buat apa saya kerja di Jakarta kalau ternyata uang tabungan saya tidak lebih banyak dari teman teman saya yang ada di desa. Dan buat apa keren keren di kota, tapi ternyata tidak punya simpanan yang cukup. Ngapain kerja cape cape setiap hari, kalau ternyata harus gali lobang tutup lobang.”

****

Coba bayangkan seorang karyawan berijasah sarjana dan sudah bekerja di perusahaan besar, masih saja mengeluhkan hidupnya itu gali lobang tutup lobang. Bagaimana dengan mereka yang datang bermodalkan nekat?

Memang sih, itu semua tergantung dari gaya hidup masing masing, tapi kan gaya hidup di masing masing layer strata kehidupan tidak mungkin bisa berubah. Semua layer memiliki tuntutannya masing masing. 

Sedangkan Andy yang sudah girit untuk hidup di Jakarta, ternyata masih saja tetap gali lobang tutup lobang.

Jakarta memang selalu terlihat lebih baik dengan orang orang yang berpakaian keren dibandingkan yang di desa. 

Tapi belajar dari cerita Andy, saya kok tidak yakin, kalau hidup di Jakarta bisa lebih baik kualitasnya dibandingkan dengan orang orang yang kerja dan tinggal di desa.

Setuju? 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s