Masakan India Paling Enak di Dunia

Melayani dengan hati
Melayani dengan bahagia by ARO

Wussh….

Hembusan angin dingin menyapu wajahku sesaat setelah pintu otomatis airport terbuka. Hmm…Angin dingin itu semakin membuatku sadar  bahwa saat ini  aku sudah sampai ke negeri orang.

Dengan mantap kulangkahkan kakiku melewati pintu.. “Australia, Here I come !!” aku berbisik menyemangati diri.

Saat itu Bulan September 1995, aku tiba di Bandara Tullamarine Melbourne Australia. Awal dari petualanganku untuk melanjutkan studi ke negeri kangguru dan melupakan cita citaku mengambil jurusan kedokteran di Bandung.

Aku mengenakan jaket paling tebal yang aku bawa saat itu. Kutarik nafas dalam dalam untuk menyiapkan diri menghadapai dingin yang akan kuhadapi di luar sana.  Sambil berjalan pelan mendorong troly barang  mataku menelusuri nama nama yang tercantum pada plang yang di pampangkan beberapa orang yang  berdiri berjejer di luar. Lucunya,  aku baru saja memahami bahwa orang orang tersebut adalah para penjemput tamu suruhan yang belum pernah tau atau kenal orang yang akan mereka jemput. Nama yang tercantum di plang akan memudahkan mereka menemukan tamu yang akan mereka jemput. Sebenarnya kalau mau iseng sih bisa saja kita mengaku sebagai orang yang namanya tercantum di salah satu plang itu. Kalau beruntung kita bisa dapat tumpangan gratis, dan nanti setelah sampai di tujuan kita harus cepat cepat melarikan diri sebelum si penjemput sadar akan kesalahannya.

Setelah aku menemukan orang yang membawa plang namaku, kami pun menuju mobil yang akan membawaku menuju tempat tinggal pertamaku di Melbourne.

***

Karena aku tidak punya teman atau saudara di Australia, maka homestaylah yang aku pilih untuk sementara waktu sampai aku mengenal dengan baik kehidupan di Melbourne dan bisa hidup sendiri di sana. Dengan homestay aku akan tinggal dengan salah satu keluarga di Australia yang menyediakan satu kamar untuk aku tinggal. Akan tetapi celakanya sampai waktu aku mendarat tadi, aku sebenarnya masih belum tahu dengan keluarga siapa aku akan menumpang dan belajar di Australia. Yang terbayang di kepalaku saat itu aku akan tinggal bersama sebuah keluarga bule Australia yang mempunyai anak gadis cantik yang dapat menemaniku jalan jalan nanti (ngarep mode on). Hal lain yang juga sudah terpikir olehku adalah sulitnya berinteraksi dengan mereka.  Misalnya bagaimana caranya memulai pembicaraan ketika sedang bersama di ruang keluarga nonton tv, di meja makan, atau di tempat berkumpul keluarga lainnya. Mau ngomong apa coba sama mereka?

Khayalan dan ketakutan tadi timbul karena kepergian aku untuk sekolah di Melbourne ini bisa dibilang nekat dan tanpa persiapan yang cukup serta memang tidak direncanakan dengan baik. Bayangkan, ilmu bahasa Inggrisku hanya berbekal Inggris dari SMA dan Kursus LIA Basic 1, itu pun lebih banyak bolos dari kursusnya. Ini benar benar project nekat buat diriku.

Akhirnya Mobil yang mengantarkan diriku berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman luas berpagar kayu pendek. Rumah yang aku lihat ini tidak seperti yang aku bayangkan dan juga tidak mirip dengan rumah rumah yang aku lihat di sepanjang jalan. Rumah ini terlihat hanya terbuat dari kayu bukan dari bata merah yang katanya ciri khas rumah orang Australia.  Rumah ini terletak di daerah West Brunswick Victoria, memiliki rumput taman yang terlihat kurang terawat  yang kemudian hari kuketahui memiliki banyak sekali harta karun buah seperti pohon Plum, Apple Granny Smith dan Apricot yang letaknya di belakang pekarangan rumah. Buah buahan tersebut nantinya dapat kita panen sekitar bulan November hingga December. Aku tinggal di rumah ini selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya kelak aku pindah ke sebuah kontrakan bersama teman teman sekolah lainnya.

Bel rumah sudah kutekan dan aku disambut oleh seorang wanita kurang lebih berumur 50 tahun, berwarna kulit gelap dan menggunakan sari India.  Ya.. betul sekali.. ternyata aku akan tinggal di rumah orang India Muslim berasal dari Fiji. Dan dalam seketika hilanglah semua harapan untuk tinggal bersama keluarga bule dengan anak gadis yang cantik.

Aku dipersilakan masuk ke dalam rumah, wangi khas India menusuk  hidungku, Aku tidak terlalu familiar dengan wangi itu dan memang bukan fans dengan wangi tersebut, tapi aku tahu kalau bau itu memang hanya dimiliki oleh orang India saja.

Ibu tadi mengantarku  ke kamar yang akan aku tempati. Kamarnya cukup luas dengan ukuran kurang lebih 3.5m X 4m, spring  bed ukuran queen size, lemari baju yang cukup untuk dua orang dengan meja belajar kecil di pojok kanan. Sepertinya kamar ini bekas kamar pasangan suami istri yang sudah dikosongkan untuk diriku.

Setelah meletakan tas dan memasukan baju baju ke dalam lemari, aku bergegas untuk mandi karena waktu sudah menunjukan jam 6 sore waktu Melbourne (berbeda 3 jam dari Indonesia bagian barat).

***

Ini pengalaman mandiku pertama di Australia. Di dalam kamar mandi, rasanya berat sekali untuk segera mengakhiri mandi saat itu, bukan karena aku betah di dalam kamar mandi tapi karena aku kedinginan tidak bisa keluar dari tempat showernya yang hanya tertutup oleh pintu geser kaca. Setiap kali mau handukan dan showernya dimatikan badan kembali di serang angin dingin dan shower terpaksa dinyalakan kembali. Akhirnya, sejak itu menjadi kebiasan aku handukan dengan shower masih nyala biar tidak dingin dingin banget. Akibat yang paling parah adalah mempunyai habit jarang mandi karena dingin.

Setelah mandi, aku berganti baju dengan pakaian paling tebal yang aku punya dan bersiap keluar kamar. Karena kamarku tidak jauh dari ruang makan maka aku bisa dengan mudah mengintip kejadian di ruang makan. Dimana kulihat ternyata Ibu homestayku sudah menyiapkan makan malam perdanaku di sana. Piring piring berisi makanan tertata rapih di atas meja untuk menyambutku, tamu yang belum di kenal ini.

Ibu Homestayku sudah menunggu di meja makan dan aku memperkenalkan diri dan ia memintaku memanggilnya dengan sebutan “Mom”. Ternyata hari ini ia sudah menyediakan makanan khas India, fish curry beserta supnya. Makanan yang terlihat sangat familiar secara warna dan tekstur. Curry Ikannya serupa makanan berkuah santan berwarna kuning gelap tapi dengan tekstur lebih halus dan terlihat sangat menggiurkan. Sedangkan supnya seperti bubur halus dengan warna kurang lebih sama. Ini adalah kali pertama aku mencoba makanan dari negara lain dan ini dari India pula.

Mom mempersilakan aku makan dalam bahasa inggris dengan aksen India yang kental. Kalau soal makan tanpa disuruhpun aku pasti mengertil, mau pake bahasa apa saja pasti dijamin aku ngerti. Dan setelah izin untuk makan, aku memulai dengan mencicipi sup curry kuning yang sudah di sediakan disamping piring nasiku. Kusuapkan ke mulutku satu sendok sup. Sup mengalir di dalam mulut dan aku sengaja berhentikan pada saat siap siap untuk diteguk masuk lebih dalam melalui kerongkonganku. Mulutku langsung menangkap ada rasa aneh yang tidak dapat diskripsikan pada sup. Bau khas India yang persis sama seperti yang aku cium ketika pertama kali hadir di rumah ini tiba tiba saat ini ada di mulutku. Benar bau khas India sekarang ada di mulutku. Oh my God, Lama sekali sup satu sendok itu ada didalam mulutku tanpa berani kulanjutkan untuk menelannya. Ingin rasanya memuntahkannya saat itu juga. Hanya perasaan tidak enak sajalah yang membuat ku akhirnya memutuskan bahwa aku harus menelannya.

Mataku langsung kualihkan dari sup ke mangkok untuk memastikan seberapa besar mangkuknya. Ternyata mangkuk supnya sebesar mangkuk bakso di Indonesia dan saat itu aku baru menyuap satu sendok. Tolong Tuhan bagaimana caranya menghabiskan ini semua. Untuk mengalihkan pikiranku, aku coba mengambil curry ikan yang kelihatannya mirip seperti makanan yang biasa dimasak oleh Ibuku. Hanya kali ini kuputuskan harus lebih bijak dalam pengambilan makanan.  Satu ekor ikan kutaruh di piring di atas nasi karena memang sulit untuk diambil dagingnya saja, kuahnya sedikit kusiram di atas nasi.  Aku mulai menyuapkan nasi dengan daging ikan yang mirip bawal dengan sedikit kuah curry. Dan ternyata OMG… rasanya sama persis dengan sup curry yang tadi, hanya yang ini sedikit lebih mild .

Kali ini aku benar benar harus berpikir keras untuk mencari cara menyiasati bau curry ini agar aku bisa setidaknya sedikit menikmati makanan ini dan dapat menghabiskannya. Dengan demikian aku tidak akan mengecewakan Mom yang sudah menyiapkannya. Perlahan aku memperhatikan sekeliling meja makan, aha… ada kecap manis teriakku dalam hati girang.  Kuharapkan kecap manis ini akan menjadi penolongku . Tanpa pikir dua kali, kutuangkan kecap manis ke nasi yang sudah tercampur kuah curry tersebut. Dan hasilnya not bad, kecap itu cukup membantu aku menghabiskan makananku, walaupun akhirnya supnya tidak mampu aku habiskan. Berat sekali rasanya … ga tahan sama baunya, terutama rasa yang tinggal di lidah itu loh. Aneh deh susah untuk dideskripsikan.

Di kemudian hari masakan seperti itu sangat jarang disediakan oleh Mom di meja makan. Entah karena dia tahu aku kurang suka atau apalah. tapi aku bener bener bersyukur dengan kondisi itu. Kalau tidak aku bakal kencing manis gara gara kebanyakan makan kecap.

***

“Pak, gimana kari ayamnya? Enak?” Tanya Manager Restoran India yang bernama Taal di Benton Junction Lippo Karawaci. Teguran tadi membangunkan aku dari lamunan panjang mengenang makanan India bentuknya mirip makanan yang sedang aku makan saat ini

“Wah Enak pak, mirip sekali dengan apa yang saya rasakan dulu. Sangat India sekali.”

Kali ini aku benar benar menyukai masakan India yang tersaji di depanku ini, sudah bertahun-tahun aku mencari masakan India yang menyerupai Masakan Mom. Setelah aku sadari bahwa kari buatan Mom itu benar benar eksotis dari segi rasa. Penuh dengan rempah rempah dan kaya akan rasa. Aku sekarang memang sudah menjelma menjadi penikmat makanan aneh yang memiliki rasa yang aneh dan salah satunya adalah masakan india.

Dan menurut saya Taal sudah menyajikannya sedikit lebih mirip walaupun ada sedikit rasa yang hilang karena beberapa bumbu dikurangi untuk kepentingan penyesuaian dengan lidah konsumen di Indonesia. Tapi tidak apa, ini juga sudah bisa mengobati rasa kangenku kepada masakan India Mom.

Aku benar benar kangen masakan India Mom yang dulu. Ingin rasanya memutar kembali waktu dan benar benar mencicipi masakan itu sekali lagi dan tentunya tanpa kecap manis. Menyendoknya pelan pelan dan menikmatinya setiap tegukan didalam mulut dan merasakan cita rasa yang kaya dari masakan tersebut dengan benar. Kalau diizinkan ingin juga mengetahui proses pembuatannya, dan bumbu apa saja yang sebenarnya ada di dalam kandungannya.

Setelah dewasa ini, baru saya sadari bahwa masakan kari buat orang India adalah masakan yang sangat special dan hanya disajikan di acara khusus saja. Aku rasa Mom juga seperti itu dan karena alasan itu lah Mom jarang sekali memasaknya dan benar  hanya di acara keluarga yang cukup besar saja kita bisa mencicipi masakan itu lagi.

Dan setiap kedatangan aku ke Melbourne setelah kembali dari liburan sekolah, Mom selalu menyediakan kari specialnya untuk aku yang memang dimasak untuk aku. So I know, kalau aku begitu special untuk dirinya. Sedangkan aku adalah seorang jerk yang waktu itu menghina masakannya yang nyatanya dibuat special untuk aku.

I am really sorry Mom.

Thanks Mom… wherever you are, I just want to thank you for looking after me and provide me unforgettable and best curry ever.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s