Antara Tukang Ketoprak, Kedelai dan Tahu

Tukang bubur
Tukang Bubur by ARO

“Makan apa ya….?” Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering hinggap dipikiranku kalau sedang dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah.

Kepala ini memang isinya cuma makan saja, jadi bisa dibayangkan dong betapa besarnya badan aku ini.

Coba aku sebutkan macam ragam makanan disepanjang jalan setelah keluar pintu tol menuju rumah, dimana itu mungkin hanya berjarak kurang lebih satu kilometer.

Ada restaurant padang Andalas yang menurutku uenak banget rasanya, dan makanan ini pula yang telah membuat berat badanku meningkat tajam dalam waktu yang amat singkat. LGimana berat badan tidak naik coba… setiap hari pulang ke rumah pasti mampir membungkus nasi padang dan dimakan sambil nonton tv.

Berikutnya, ada warung sate padang yang ramai sekali dikunjungi orang persisnya dekat samping apotik. Disebelahnya persis ada gerobak nasi goreng dan martabak untuk melengkapi pengalaman kulinerku. Biasanya kalau porsi sate padang tidak nendang maka perlu diganjel sedikit sama martabak atau nasi goreng. Hehehehe martabak kok sedikit ya.

Kalau sudah bosan dengan nuasa rasa makanan padang, jangan kuatir karena tidak beberapa jauh dari sana ada warung sate kambing Pak Amin. Ini juga luar biasa rasanya. Dijamin leher langsung kaku pertanda tekanan darah dan kolestrol meningkat.

Jadi rasanya bangga kalau aku bisa melewati semua godaan itu.  Eiit…tapi jangan salah,godaan tidak berhenti  sampai situ saja. Di dalam perjalan menuju komplek rumah masih ada banyak godaan yang tidak kalah menariknya. Karena disini telah bersarang sekawanan pedagang gerobak yang enak enak dan terorganisir, ada yang jual ketoprak, siomay, ayam goreng kremes, sate ayam, martabak telor, nasi goreng, pempek palembang dan beragam macam masakan mie.

Nah sialnya aku selalu gagal melewati cobaan yang ini

****

Seperti hari ini, akupun berhasil digoda oleh pemandangan mobil mobil yang terparkir rapih di depan “sarang makanan” ini. Akhirnya akupun ikut ikutan berhenti hanya untuk sekedar memuaskan nafsu makanku ini. Walaupun aku sebenarnya tidak laper, tapi kayanya mulut ini rasanya tidak mau berhenti menguyah. J

Biasanya nih setelah menyelesaikan makan,  rasanya “roh roh jahat” melayang pergi meningalkan tubuh ini, sebagai tanda kemenangan mereka. Apalagi kalau tadi pagi memang sudah berjanji untuk mencoba diet, biasanya “roh jahat” itu makin gencar menggoda diri ini.

Malam ini aku kepikiran makan ketoprak. Ini adalah makanan favoritku dari kecil. Aku menyukai kelembutan tahu yang masuk ke mulut bercampur dengan bumbu kacang yang sudah dilumuri kecap. Sedap…..

Sayangnya aku kali ini harus dikecewakan dengan sebuah pernyataan dari Bapak tukang ketoprak. Ia bilang kalau hari ini tidak ada persedian tahu, jadi sebagai gantinya adalah telur puyuh.  Coba gimana rasanya makan ketoprak pake telur puyuh. Hiks.

Mau tahu kenapa tidak ada hari ini tidak ada persedian tahu?

***

Begini hasil interview aku dengan pedagang ketoprak langganan dekat rumah.

“Pak, kok hari ini mendadak tidak ada tahu ya?” tanya aku . “Lah masa mas tidak tahu kalau hari ini dan sampai 3 hari ke depan ada pemogokan pabrik tahu” begitu jawabnya.

Aku tiba tiba langsung ingat berita berita itu, hanya saja aku sekarang baru sadar efeknya ternyata sampai ke tukang ketoprak di hadapan aku ini.

Hanya karena masalah kedelai yang kecil itu, ternyata bisa membuat banyak orang yang susah. Pertama aku, harus makan ketoprak tanpa tahu. Kedua, tukang ketoprak yang mengalami penurunan omset jualan karena tidak ada yang mau makan ketoprak tanpa tahu. Ketiga, istrinya tukang ketoprak yang tidak bisa berbelanja makanan di rumah karena uang dari suaminya kurang. Keempat, tukang sayur langganan istrinya tukang ketoprak juga akan  mengalami penurunan omset. Begitu terus mengalir sampai jauh…. Kata lagu bengawan solo. Itulah yang disebut dengan multiplier effect dalam istilah ekonominya.

Ini baru gara gara tahu, bagaimana dampak lain yang diakibatkan dari hasil  pangan yang menggunakan bahan kedelai lainnya, seperti tempe dan kecap.

Wah tidak terbanyang deh rumitnya.

Masalahnya sih memang kedelai yang kecil itu saja, tapi kalau masalah yang kecil ini dianggap enteng maka akan menjadi perkara yang lebih besar.

Dengan ini aku menyadari, bahwa rantai rantai proses kehidupan tidak boleh diputus dengan sembarangan. Tuhan menciptakannya dengan tujuan dan pemikiran yang seksama, sehingga manusia tidak boleh memutusnya dengan semena mena apalagi asal asalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s