Penyebab Menjadi Mayat Hidup

Pandanganmu
Pandanganmu by ARO

Aku paling senang jika setiap kali usai makan siang, aku masih bisa menyempatkan diri untuk duduk-duduk di kursi depan kantor. Aku biasanya duduk menghadap jalan raya, dengan posisi kursi tepat di bawah perlindungan pohon yang cukup rindang.  Semilir hembusan angin memberikan kesejukan tersendiri pada siang hari yang memang terasa terik sekali akhir akhir ini. Kalau mau jujur, suasana seperti ini akan terasa lengkap kalau ditemani dengan sebatang rokok kretek dan secangkir kopi. Sayang saja, aku sudah lama sekali memilih berhenti untuk merasakan kenikmatan semu itu dan semoga tidak tergoda kembali

Sebenarnya selain menikmati keteduhan, aku juga suka mengamati keragaman rupa orang yang lalu-lalang dari jarak yang sangat dekat. Kedekatan seperti ini, membuat aku terkadang mencoba untuk menerka-nerka problematika kehidupan orang lain, yang biasanya begitu jelas tergambar pada raut muka mereka.

Ekspresi wajah yang otentik ditampilkan langsung oleh pemiliknya, sering membuat aku ikut merasakan apa yang sedang dialami si pemilik wajah.

Dari hasil pengamatan selama ini,  aku mulai dapat menyimpulkan bahwa akhir akhir ini banyak sekali “mayat hidup” yang sedang gentanyangan di jalan.  “Mayat hidup” disini artinya adalah orang berjalan dengan kaki tapi tidak dibarengi dengan pikirannya. Sorot mata yang sering kosong akibat pikiran dan hati yang tidak sedang berada di jalan bersama raganya. Dan hanya karena hafalan seperti layaknya mesin otomatis, sehingga kaki mereka mampu membawa kemanapun tujuan. Tak jarang juga dari mereka yang akhirnya tersadar dan “bangun”, lalu tahu kalau sedari tadi sudah menempuh jalan yang salah.

Manusia memang ditakdirkan untuk hidup berdampingan dengan masalah, tapi sebenarnya semua itu manusia jugalah yang membuatnya.

****

Persis di depanku, ada sebuah sedan mewah terparkir begitu saja di pinggir jalan. Entah milik siapa. Mobil mewah itu sepintas terlihat tak bertuan. Mobil mewah keluaran baru dengan banyak luka dibadannya. Beberapa penyok yang cukup dalam dan juga baret baret ulah tangan tangan iseng menghiasi dengan jelas badan mobil itu.  Mobil ini memang dalam kondisi tidak terawat. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran si pemilik mobil itu sampai tega membiarkan mobilnya dalam kondisi seperti itu.

Tapi yang jelas, kondisi mobil itu telah membuat aku merenung dan bertanya.

Ada berapa banyak manusia di dunia ini yang bisa melepaskan diri dari keterikatan terhadap benda benda yang dimilikinya? Adakah orang di dunia ini, yang terlatih untuk bisa mengkontrol perasaaannya untuk tetap tenang ketika melihat benda berharga dan mahalnya rusak?

Pengalaman sudah membuktikan bahwa kebanyakan orang cenderung lebih mudah mengeluarkan kata kata yang tidak baik dan tega menyakitkan orang lain ketika menemukan barang berharganya dirusak.

Berapa banyak majikan yang mentolol-tololkan pembantunya hanya karena memecahkan gelas atau piring di rumah? Seberapa sering kita melihat orang harus berkelahi hanya karena mobil mereka saling senggol di jalan? Masih ingatkah kita sebagai orang tua yang dengan tega memarahi anak-anak hanya karena mereka menumpahkan susu pada sofa kesayangannya?

Mengapa kita manusia perlu melukai perasaan orang lain hanya demi sebuah benda yang mampu diperbaiki dan diadakan kembali? Apakah sebegitu berartinya benda benda itu dibandingkan perasaan teman, saudara, orang tua dan kerabat dekat yang sudah tersakiti?

Mari berkaca….

Keterikatan manusia terhadap benda benda yang dimilikinya saat ini telah membuat manusia berbuat diluar kendali. Manusia lebih suka menyakiti sesama manusia hanya demi sebuah benda yang notabene buatan manusia juga.

Padahal siapa sih diantara manusia ini yang tidak tahu kalau besok ketika waktunya tiba, tidak ada satupun benda benda itu yang akan ikut menemaninya di alam yang baru. Dan tentunya semua juga tahu kalau sakit hati yang dialami orang orang terdekat akibat perbuatan tidak baik itu akan selalu berbekas sampai kapanpun juga.

Ya begitulah manusia walaupun sudah tahu tapi tetap saja nekat melakukannya.

Perbuatan yang mengakibatkan luka hati pada diri orang lainlah yang sebenarnya membuat manusia akhirnya menjadi “mayat-mayat hidup” di jalan. Berjalan tanpa raut muka kebahagiaan. Semua itu memang akibat ketidak mampuan manusia mengkontrol kadar keterikatannya pada benda benda yang berada di sekitarnya.

Akankah kita akan terus mementingkan benda benda yang kita miliki dibandingkan perasaan orang orang yang kita cintai?

Mungkin juga akan jadi lebih bijak, jika kita tidak menghina si pemilik mobil yang memang memilih untuk menomorduakan mobilnya.

Oh ya satu lagi pertanyaan, adakah diantara kita yang sofa mobilnya masih terbungkus plastik asli pabrikan hanya karena takut kotor?

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s