Bagi Saya, Sedekah Ikhlas Ternyata Sulit (juga)

Pengemis di Hong Kong
Terlelap dalam keramaian by ARO

Cerita ini berawal ketika saya masih menempuh pendidikan pada jenjang pendidikan SMA kelas X.

Saat itu pulang sekolah., sebagai orang yang hobi bersepeda, saya berangkat dan pulang sekolah dengan bersepeda. Hal ini juga saya lakukan sebagai salah satu penerapan sehari-hari selaku anggota ekstra Pecinta Alam di sekolah saya saat itu. Saya senang akan hal itu. Apalagi seringkali saya mengajak teman-teman yang tinggal tak jauh dari sekolah untuk menggunakan sepeda pula. Alhasil, jadilah kami sahabat dekat yang mengasihi satu sama lain,..

Setiap akan berangkat, pulang, serta kemanapun kami selalu bersepeda bersama. Tak jarang kami temui teman-teman yang menanyakan kenapa kok nggak pakai sepeda motor aja. Sedangkan kami sudah SMA. Sudah tak jaman lagi sepeda pancal. Kata mereka. Tapi sahabat-sahabat saya ini ternyata sangat pintar. Bukannya putus asa, mereka malah mengajak teman-teman yang tadi mengolok kami. Serta menjelaskan bagaimana pentingnya bersepeda untuk menghijaukan lingkungan dan menjaga bumi tetap asri.

Nah, pada suatu hari… Saat kami beranjak pulang sepeda bersama, di persimpangan traffic light, saya melihat seorang nenek tua renta bungkuk yang membawa sebuah mangkuk kecil seraya berkeliling untuk meminta belas kasih dari para pengguna jalan. Spontan saja hati saya luluh.. Di saku seragam ini hanya ada selembar uang sepuluhribuan, sisa kembalian pembayaran SPP tadi siang.

Namun ternyata, saya sempat bimbang. Di agama islam, saya diajarkan untuk bersedekah.. Namun jangan riya’. Jangan pernah merasa sombong & bangga jika bersedekah. Seperti yang terdapat pada cuplikan surat Al-Baqarah ayat 264 ini :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ kepada manusia, dan dia tidak beriman pada Allah dan hari akhir. – Al-Baqarah 264

Nah, disaat itu ternyata saya diberi cobaan. Saya bingung antara hati saya yang merasa kasihan dengan orang tadi, dengan ajaran sedekah yang saya bawa sejak kecil. Terjadilah perang batin di hati saya. Jika nanti saya jadi memberikan uang ini pada orang itu, saya takut orang-orang (termasuk sahabat saya) mengolok & menganggap saya telah berbuat riya’. Saya takut pahala saya runtuh karena prasangka orang-orang tersebut.

Akhirnya saya pun memilih untuk segera memberikannya tanpa melihat wajah orang tua tadi.

Sesaat setelah itu, saya merasa bersalah. Karena apa yang saya lakukan barusan (membuang muka), bisa jadi menyinggung perasaan orang tua tersebut.

Sekarang, bagaimana pendapat anda mengenai sikap saya ?

Tulisan dari seorang teman bernama Muflich Kamil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s