Cinta Sang Kakak Kepada Adiknya

Pedagang asongan di monas
Berjualan di Monas by ARO

Berbekal petuah ibuku itulah setelah tiga tahun, aku berhasil menyelesaikan SMP dengan segala macam rintangan yang tak bisa kusebutkan satu persatu, kemudian aku melanjutkan ke SMA dikota yang sama. Rupanya kemiskinan masih saja menggelayutiku, dia masih enggan beranjak dariku, bahkan dari keluargaku.Hal yang cukup rasional tentunya, karena selama tiga tahun aku merantau adik-adikkupun kini tumbuh semakin besar dan mereka semua bersekolah, alhasil pengeluaran orang tuaku semakin bertambah pula. Sementara sumber penghasilan masih tetap seperti dulu, hasil pertanian diladang atau sawah.

Masa-masa SMA untuk sebagian orang termasuk teman-temanku, adalah masa dimana hidup penuh suka cita, canda tawa, tiada sedikitpun beban menyambangi mereka. Sementara aku, memasuki masa SMA, justru masa-masa yang penuh dengan perjuangan. Selain menjadi kuli panggul ikan dari gudang ke pasar,aku juga menjadi pedagang asongan dikereta jurusan merak –Jakarta.

Beruntunglah induk semangku sangat mengerti keadaan dan kondisiku, beliau tidak pernah mau menaikan harga sewa kamarnya, kecuali aku sendiri yang memberikan bayaran lebih dari biasanya. Masih  ingat dalam benakku setiap tahun sekali,aku melebihkan bayaran sewa kamar  sebesar Rp. 2,500,- itupun kadang beliau tolak. Mungkin beliau merasa tidak enak, karena aku sering membantu bekerja membetulkan rumahnya yang bocor, WC yang mampet, mesin air yang tiba-tiba ngadat dan lain lain.

Waktu buatku sangat cepat bergerak, belumlah selesai semua ikan-ikan dibawa ke pasar, matahari sudah berada diufuk barat dan hampir tenggelam.Saat itulah setiap hari,aku minta izin pada pemilik ikan untuk berjualan dikereta.Aku memang tidak memiliki modal usaha sendiri, tapi kepercayaan yang diberikan pemilik toko klontong yang biasa dipanggil Enci Anyih,membuatku memiliki kesempatan mencari uang lebih dari biasanya.Beberapa jenis barang seperti minuman soda, Tisue, permen, rokok bisa aku jual dikereta tanpa harus membeli cash darinya. Semua barang yang laku terjual barulah aku bayar pada Enci,danyang belum terjual aku kembalikan padanya.

Hasil dari pekerjaan dua bidang itu sangat berarti buatku,walaupun akhirnya aku nyaris tidak pernah punya waktu untuk belajar dirumah. Aku pulang berjualan biasanya pukul 11 malam,  jangankan untuk belajar, mandipun aku sering tidak melakukannya, begitu sampai biasanya langsung tidur.

Secara rutin sebagian kecil upahku bekerja, kusisihkan untuk membeli beberapa buah buku dan pinsildisebuah toko perlengkapan sekolah. Dan lalu, Akukirimkan pada adikku melalui sopir truk pengangkut batu kali yang akan pulang. Maklumlah hidup dan tinggal dikampung, walaupun berjauhan atau berbeda kampung tapi masih saling mengenal antara satu dengan yang lainnya, cukup menyebutkan nama orang tua kita saja, jika kebetulan sopirnya sudah tua, atau saudara kita yang sebaya dengan sopir itu, dijamin pasti mereka kenal dan titipan pasti sampai ke tangan yang berhak.

Satu hal yang membuat aku bahagia, yakni saat pembagian rapot atau kenaikan kelas adik-adikku tiba, mereka sibuk menuliskan nilai masing-masing pada selembar kertas, lalu dikirimkan melalui sopir truk atau orang-orang yang akan pergi menjual hasil pertanian ke kota, disana aku sudah menunggu dengan hati senang, bahagia, sekaligus takut.

Aku merasa bahagia karena akan mendapatkan kabar baik dari adikku, sisi lain aku merasa ketakutan saat melihat salinan nilai raporyang dibawa sopir atau petani yang membawanya.Sesuai perjanjian tidak tertulis dan hanya kebiasaanku saja, apabila nilainya ada angka 7 pada rapot mereka, maka aku akan memberikan sebuah pensil.Jika nilainya 8 maka aku akan memberikan sebuah buku tulis pada adikku sebagai hadiahnya.

Lebih takut lagi jika aku sudah menerima salinan rapor si bungsu, selama ini dialah yang paling banyak mendapat hadiah buku dariku, karena memang nilainya rata-rata 8.

Satu hal yang menjadi catatan,adik-adikku mungkin  tidak pernah tahu bagaimana selama ini aku hidup di kota.Mengejar ilmu dikota ternyata harus memakai uang, sementara kondisi orang tua sangat memprihatinkan dan jauh dari mencukupi, akibatnya kemudian, aku harus banting tulang memenuhi segala kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah. Menjadi  kuli pikul ikan dan pengasong kereta”.

Sampai kini aku tidak sanggup menceritakan semua ini pada adik-adikku, andai saja mereka tahu apa yang kulakukan entah apa yang akan terjadi, mungkinkan adikku akan lebih bersemangat dalam belajar dengan buku pemberian kakaknya, ataukah mereka justru akan menghapus cita-citanya lalu memutuskan untuk tidak bersekolah, bahkan mungkin menikah di usia dini seperti para pendahulunya? Aku berharap semoga adik-adikku terus bersemangat mengejar ilmutanpa harus tahu semua ini.

Baca juga cerita awalnya di artikel Kejarlah Ilmu Setinggi Langit

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s