Kejarlah Ilmu Setinggi Langit

Human-power Ferris Wheel
Human-power Ferris Wheel by ARO

Sudah  menjadi kebiasaan turun temurun  dari nenek moyang hingga kini, semua anak-anak yang menginjak usia 7-8 tahun segera masuk sekolah SD. Tapi begitu lulus, hanya sedikit sekali yang mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan banyak dari mereka yang menikah di usia dini, terutama anak-anak perempuan. Alasannya cukup klasik membantu meringankan beban orang tua yang memang hidupnya rata-rata berada dalam garis kemiskinan, ditambah pembangunan sarana sekolah lanjutan yang  belum masuk ke seluruh pelosok desa.

Kebanyakan sarana sekolah didirikan dengan cara swadaya masyarakat yang sifatnya non formal, seperti pesantren dan  madrasah, hanya sedikit sekali Sekolah Dasar Negeri. Satu kecamatan ditempatku tinggal hanya ada dua buah SDN. Untuk mencapai sekolah, kami butuh waktu tidak kurang dari satu jam dengan berjalan kaki melewati persawahan, kebun karet, naik turun bukit. Apalagi jika musim penghujan sudah datang banyak murid-murid yang tidak bisa datang karena sungai yang banjirdanjalanan yang sangat licin. Semua murid-murid sekolah dimana aku menuntut ilmu tidak satupun yang memakai seragam apalagi sepatu atau tas punggung.

Menginjak usia tiga belas tahun, dengan diantar ayah, aku sudah pergi merantau ke Ibu Kota kabupaten, disana sudah banyak berdiri sekolah-sekolah, mulai dari SD, SMP dan SMA. Dengan tekad yang kuat, kutanggalkan belaian kasih sayang kedua orangtua dan sanak keluarga. Aku pergi dengan segudang kepercayaan diri yang mantap meretas masa depan yang gemilang.

Sejak dititipkan pada seorang induk semang dikota, aku mengisi sebuah kamar yang disewa ayahku seharga Rp, 15,000/bulan. Seiring waktu berjalan, kebutuhan sekolahku mulai bertambah, sering aku melewatkan waktu makan dengan menahan rasa lapar dan hanya beberapa gelas air putih yang mengisi perutku. Dari sanalah kehidupanku mulai berubah, pagi hari kulangkahkan kakiku menuju sekolah, pulang sekolah aku sibuk membantu tetanggaku yang berprofesi sebagai pedagang ikan dipasar. Aku memang tidak berjualan ikan, tapi ikan-ikan itu bisa sampai dipasar setelah kupikul dari gudang tempat pembuatan pindang.

Kadang hingga larut malam aku masih harus bolak-balik  mengantar ikan dari dan ke gudang. Tidak jarang aku menginap di gudang karena kelelahan.

Semua itu kulakukan untuk menutupi segala kebutuhan hidup sehari-hari dan keperluan  sekolah. Aku berusaha mencari pendapatan sendiri, karena kusadari orang tua dikampung  tidak mungkin datang menengokku seminggu sekali, untuk menyuplay keuanganku. Terkadang orang tuaku datang sebulan sekali, itupun hanya membawa beras dan beberapa panganan seperti rengginang, gemblong dan buah pisang dan sebagian segera kubagikan pada induk semang dan tetanggaku.

Alhamdulillah berkat dari Tuhan melalui tetanggaku yang baik itu. Tiga tahun sudah kulalui hidup di kota. Rasa kangen pada orang tua dan keluargasering datang menerjang saat aku sendirian dikamar kontrakan, terutama saat aku terserang sakit. Namun semua segera kusadari. Aku hidup sendiri di kota, hanya tangis rindu yang bisa kulakukan. Aku bersujud kepadaNYA, meminta perlindungan, berkah, petunjuk dan segala macam doa kupanjatkan terutama kupinta semoga kedua orang tua dan adik-adikku diberikan kesehatan dan keselamatan selama aku berada diperantauan.

Tekad dan semangatku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi masih terus menggebu-gebu. Masih terngiang dikepalaku saat aku pamit pada ibuku untuk sekolah ke kota, ibuku berkata “dalam hidup ini jangan pernah terbuai oleh harta semata, hidup bergelimang harta tanpa ilmu akan membuat kita menderita dan sangat berat dibawanya. Carilah ilmu sebanyak mungkin, bila ilmu sudah didapat harta akan datang dengan sendirinya, selain ringan dibawa dengan ilmu, dimanapun kau bisa hidup dengan bahagia.”

Bersambung…. Cinta Kakak kepada Adiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s