Menekuni Profesi Sebagai Full Time Mother a.k.a Ibu Rumah Tangga

Profesi Seorang Perempuan
Lelah Mencari Rezeki by ARO

Di zaman yang serba cepat dan instan ini, profesi sebagai Ibu Rumah Tangga memang sudah mulai ditinggalkan oleh sebagai besar perempuan, terutama yang berada di kota besar.

Ya… ditinggalkan. Sudah tidak banyak lagi perempuan yang dengan suka rela memilih mengabdikan dirinya di rumah dan berprofesi seorang Ibu Rumah Tangga.

Dengan berbagai macam alasan mereka pelan pelan mulai meninggalkannya, walaupun yang selalu terdengar adalah masalah ekonomi yang terus membelit. Sehingga merekapun harus ikut terjun bersama suami ke dalam lingkaran mencari rezeki yang tidak akan pernah berakhir itu.

***

Sudah begitu banyak profesi yang bisa dilakoni perempuan dengan baik, mulai dari tukang potong rumput sampai menjadi seorang Presiden.

Tapi dibalik semua kecenderungan itu, masih ada juga sebagian kecil perempuan yang memilih untuk melepaskan semua yang sudah dicapainya dan kembali berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga.

Saya akan menginterview seorang teman SMA saya bernama Esther Dewi, dan Ia merupakan satu dari sekian banyak perempuan yang memilih untuk mengabdikan hidupnya sebagai seorang Ibu Rumah Tangga.

Silakan simak hasil interview saya dengannya sebagai seoarang Ibu Rumah Tangga.

Biar kita bisa tahu gambaran aktifitas dirimu sebagai Ibu Rumah Tangga, coba dong ceritakan detailnya dari bangun pagi sampai menjelang tidur?

Bangun kurang lebih jam 4 pagi, dimulai dengan perang sama wajan dan kompor alias kegiatan cooking dan itu selesai kurang lebih 1 jam. Lalu dilanjutkan dengan bersih rumah alias ngepel. Begitu semua anggota keluarga bangun, kita sarapan pagi bersama. Selesai.

Mulai lagi dengan mempersiapkan perlengkapan sekolah dan brruuum bruuum driver mode on. Selagi anak di sekolah, let’s start again. Dari yang ke tukang sayur, cuci baju, dan setrika. Dan sampai waktunya untuk jemput anak di sekolah lagi.

Sore jelang malam adalah “teacher mode on”

Itu adalah kegiatan harian dari Senin sampai Jum’at, tentunya diluar urusan khusus lainnya. Time flies so fast everyday.

Dari ceritamu itu, artinya dirimu tidak punya pembantu atau baby sitter ya? Kenapa sih tidak menggunakan baby sitter atau pembantu? Khan bisa sangat membantu. Tidak takut tangannya jadi jelek kalau kerja seperti itu?

Haaaa,
Sudah terbiasa dikerjakan sendiri, toh ternyata kalau dijalani, ya biasa saja, alias mengalir dengan sendirinya, Dan yang paling penting dikerjakan dengan hati. So, I am enjoyed.

Soal tangan jelek, gak lah, masa takut jelek. Telapak tangan kasar-kasar dikit karena kena detergent, jari teriris dikit waktu potong-potong sayur,
It’s ok. Apalagi itu untuk melayani keluarga kecilku dengan hati. Kuncinya selalu mengucap syukur dan be happy everyday.

Nanti kapan dong menikmati ‘me’ timenya seperti yang sering dituntut para wanita jaman sekarang?

Haaaaa “ME Time” hmmmm lumayan menggelitik juga nih pertanyaan.
Banyak waktu untuk itu, dikarenakan apa yang dilakukan sekarangkan fleksibel waktunya (kecuali untuk antar/jempt sekolah)
Jadi kalau lagi mau ke salon atau jalan sendiri ya atur waktu di saat anak sedang sekolah.

Apakah dirimu tidak punya cita cita yang ingin dicapai? Seperti mengerjakan sesuatu yang dirimu idam idamkan sehingga membuat dirimu lebih berkontribusi terhadap masyarakat, apakah dirimu punya angan angan seperti itu nanti?
Kalau wanita karir khan bisa menjadi direktur sebagai wujud dari pencapaiannya sebagai manusia, kalau Ibu rumah tangga apa dong?

Pada awalnya YA. Pasti punya cita-cita juga dong. Selagi masih bekerja dulu, berkeinginan akan terus berkarya dalam pekerjaan. Tapi setelah menikah dan diberi berkat anak oleh Tuhan, semua berubah.

Cita-cita sekarang adalah ingin betul-betul exclusive merawat, membesarkan, membimbing anak. Hmmmm dan ternyata semua itu tidak mudah, butuh perjuangan pembelajaran yang terus menerus.

So keinginan sekarang adalah terus dan terus belajar menjadi istri, ibu, dan sahabat yang menyenangkan untuk keluarga kecilku.

Dirimu bilang kan tadi, kalau pernah kerja sebelumnya. Apa sih sebenarnya yang menjadi alasan dirimu meninggalkan semua yang sudah dicapai waktu itu? Sekolah sampai sarjana, dan sudah kerja dengan karir bagus juga. Apa sih alasannya?

Seperti orang pada umumnya saja, setelah selesai kuliah kerja. Dan itu pula yang terjadi. Setelah kerja beberapa waktu, sebagaimana yang lain juga menikah.
Pada awalnya setelah menikah masih ingin terus bekerja, tapi ternyata semua berubah setelah ada anak. Jadi alasan utama QUIT dari pekerjaan adalah “ANAK”.
Masa sudah susah-susah dikandung 9 bulan dibawa kemana-mana, begitu lahir dikasih orang lain rawat, please dech nggaaaak ya. Tapi itu aku ya.

Tapi satu hari anak akan dewasa dan pasti akan meninggalkan dirimu juga. Apa nanti pada saat itu tiba, kamu tidak menyesal karena selama ini waktumu dihabiskan hanya untuk membesarkan anak? Dan Apakah dirimu lalu akan kembali bekerja lagi dan menitipi karir dari bawah lagi?

Sadar betul bahwa suatu saat akan berpisah, entah untuk study atau menikah. Pasti terlintas dipikiran, nanti mau buat apa? Apa yang harus dilakukan?

Menyesal? Tidak pernah menyesal dengan keputusan yang sudah diambil. Banyak hal yang tetap bisa dikerjakan,

Kerja “formal” sepertinya sudah tidak lagi. Tapi untuk terlibat dalam suatu kegiatan pelayanan dan sejenisnya, iya.

Terakhir, apa sih yang membuat dirimu bangga dengan pencapaian sebagai Ibu Rumah Tangga sampai saat ini?

Hmmmm
First of all, grateful to God karena sudah diberi anugerah anak yang luar biasa (menurut aku ya).

Dari lahir sampe hampir 7 tahun, sudah take care of him. Banyak hal yang bisa dipelajari. Day by day, melihat tumbuh kembangannya its amazing. Di sekolah bisa bersosialisasi baik dengan guru dan temannya, begitu pula di rumah dan prestasi pendidikannya.
His attitude and personality, that’s make me proud of him.

Apakah menurutmu, Ibu Ibu yang sekarang sedang menjalani profesi sebagai profesional akan kehilangan semua ‘kenikmatan’ yang sudah dirimu terima sebagai full time mother?

Masing-masing wanita punya idealisme/Cita/Visi hidup berbeda satu dengan yang lain.
Banyak alasan kenapa wanita (sdh menjadi ibu) yang tetap menjadi profesional antara lain, ekonomi (alasan klise kalau gak kerja ya tidak cukup) , mewujudkan Impian/cita2. Tapi semua itu dipulangkan ke masing masing pribadi saja.

Begitulah akhir dari interview saya dengan seorang teman yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga. Semoga bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa dimaknai bersama.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s