Bahasa Bukan Penghalang Komunikasi

Jakarta Highland Gathering
Lomba Lempar Kayu by ARO

Jalanan di Jakarta sungguh sangat memprihatinkan. Jarak antara lokasi kantor di jalan Sudirman dengan Station Gambir tidak lebih dari 10 km, harus kami tempuh dalam waktu hampir dua jam lamanya.Untunglah kereta api yang akan mengangkut kami ke Jogyakarta malam itu berangkat pk 21’00.

Selama dalam perjalanan ada satu hal yang menggelitik perasaanku, kebetulan aku satu bus dengan salah seorang direktur yang berasal dari Australia. Entah kenapa hampir semua orang memilih tempat duduk yang kurasa menjauh dari orang itu. Mungkin sama sepertiku,  masalah bahasa yang membuat kami menghindar darinya, akan tetapi bukankah disana juga ada beberapa manager yang menurutku mustahil tidak bisa bahasa inggris. Lalu kenapa mereka tidak mau duduk bersamanya?

Pertanyaan itu membuat perasaanku jadi khawatir Si Bule tersinggung dengan keadaan tersebut.

Hingga tiba di station kereta kami semua berhamburan keluar dari bus, kulihat dia berdiri sendirian, sementara yang lain sibuk ngobrol dan berfoto bersama.

Sepintas kulihat dia tersenyum kala melihat tingkah kami yang selalu ribut untuk foto-foto, beberapa saat kemudian munculah ide untuk berfoto bersama beliau, namun keraguan datang menahan langkah, bagaimana cara menyampaikan keinginan untuk foto bersamanya, terjadi saling dorong diantara kami untuk mengajaknya berfoto, semua seperti ketakutan.

Beberapa orang sudah mencoba menghampiri si bule,  tapi kemudian dengan cepat berbalik kembali sambil cengar-cengir dan garuk-garuk kepala. Hal ini justru membuat suasana jadi lebih riuh lagi dan memancing perhatian banyak orang.

Akhirnya kuberanikan diri menghampiri sibule yang sejak tadi memperhatikan tingkah kami, dengan bahasa seadanya kuajak dia berfoto bersama. Tak kuduga beliau begitu antusias menerima ajakan itu, suasana menjadi riuh dengan tepuk tangan dan sorakan.

Lebih riuh lagi ketika si bule mengucapkan terima kasih sambil mengeluarkan kamera sakunya dan balik meminta difoto bersama lagi, hal ini terus kami lakukan dengan berbagai pose dan tempat yang berbeda, kemudian kami berhenti ketika pengumuman terdengar agar kami semua naik ke lantai 2 untuk berangkat menuju Jogyakarta.

Satu hal yang bisa kupetik pelajaran berharga dari kejadian tersebut, semua orang pasti membutuhkan orang lain sepanjang hidupnya, persamaan bahasa hanyalah satu alat untuk mempermudah terjadinya hubungan, tapi sekalipun bahasa sudah sama, apabila tidak ada keinginan untuk bisa menghargai keberadaan orang lain disekitar kita maka semua tidak akan memiliki makna apapun juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s