Tukang Koran Yang Jujur

Kemana ya si Bapak?

Hampir setiap hari aku melewati jalan ini, dan setiap kali itupun aku harus kecewa karena tidak melihat sosoknya di ujung jalan sana.

Sudah seminggu aku menantinya di jalan ini, tapi Beliau masih tidak kunjung terlihat juga.

Tidak pernah, Beliau menghilang selama ini. Dulu pernah seperti ini, tapi paling  lama hanya 2 hari.

Kemana dirimu Bapak?  Semoga engkau baik baik saja.

Aku kehilangan sosok tukang koran pinggir jalan tempat aku selalu membeli koran pagiku.

Membaca Koran Cetak Pagi Hari
Membaca Koran Pagi by ARO

Akankah ia menghilang untuk selamanya karena tergerus kemajuan teknologi? Entahlah.

Lipatan uang kertas 3500 rupiahpun masih tergeletak rapih di dalam mobilku. Ia akan tetap setia menanti hingga harinya aku berikan ke tukang koran langgananku.

****

Hari ini jalanan macet sekali, aku pun mengantri panjang untuk mencoba keluar dari gerombolan mobil setengah ‘parkir’ ini. Sambil memegang lipatan uang sebesar 3500, mataku menatap jauh ke depan, mencari cari sesosok pedagang koran langgananku itu.

Dari jauh kulihat samar-samar sosok beliau yang berpakaian hijau terang dengan setumpukan koran di dadanya. Ia masih tetap sama, selalu tersenyum ramah kepada semua pembelinya. Tidak terpancar raut muka kesedihan pada wajahnya, walaupun makin hari makin pasti susah mencari makan dari hasil menjual koran.

***

Akupun tersenyum setelah memastikan bahwa pria yang aku lihat di kejauhan sana adalah si penjual koran jalanan langgananku.

Mobilku perlahan mendekatinya. Seperti orang yang memiliki telepati, Iapun melihat diriku dan menghampiri mobilku sambil mengambil satu koran dari tumpukan koran di dadanya.

Jendela mobilpun aku buka dan transaksi singkatpun terjadi. Koran aku terima dan uang lipatan sebesar 3500pun aku serahkan kepada Beliau sambil bertanya,

‘Kemana aja nih pak, kok lama tidak kelihatan?’

‘Saya pulang kampung’, jawabnya singkat.

Percakapan terhenti, ketika klakson mobil di belakangku bergema mengingatkan.

****

Seperti itulah pertemananku terjalin dengan tukang koran jalanan. Seorang yang bukan siapa siapa, tapi sungguh menginspirasi aku.

Tukang koran yang belakangan aku ketahui tinggal di pinggir kali dan sering mengalami kebanjiran ini, memang patut diacungkan jempol karena kejujurannya.

Aku bisa merasakan dari caranya bertransaksi denganku setiap hari

Aku berkomunikasi dengan Beliau hanya dalam hitungan detik saja setiap harinya. Pada saat beliau menyerahkan koran, aku membayar, kalau ada kembalian beliau kembalikan, dan plussenyum persahabatan. Selebihnya tidak ada.

Dari cara beliau menerima uang sampai mengembalikan uanglah, aku merasakan integritas tinggi yang dijunjungnya. Dari caranya itu, aku dapat simpulkan beliau adalah seorang tukang koran jalanan yang jujur.

***

Setiap hari aku bertransaksi dengan beliau dari atas mobil.

Beliau selalu memberikan korannya terlebih dahulu kepadaku, sambil mengamati uang yang akan aku berikan kepadanya. Jika uang itu bukan uang pas dan perlu ada kembaliannya, Beliau lebih memilih menyiapkan uang kembalian terlebih dahulu, sambil berlari kecil mengikuti mobilku yang sudah diklaksonin orang. Setelah kembalian siap, baru Beliau ambil uangku dan memberikan kembaliannya. Aku perhatikan kebiasaan itu berlaku untuk semua pembelinya.

Beliau rupanya memiliki prinsip, untuk tidak berhutang pada pembeli tapi membiarkan pembeli saja yang berhutang. Bahkan dibeberapa kesempatan, aku malah sempat berhutang karena beliau tidak mau menerima uang yang aku berikan karena tidak ada kembaliannya

Kalian pasti mengatakan, kasihkan saja uangnya tidak perlu pakai kembalian. Aku sudah pernah melakukannya tapi beliau tetap saja tidak mau.

Menurut aku begitulah sebaiknya jadi orang itu, walaupun butuh uang tapi perlu juga menjaga harga diri kita. Jangan terlalu mudah menerima pemberian orang walaupun itu pemberian ikhlas dari orang yang memberinya.

Sudah terlalu banyak orang yang gila uang sampai lupa dengan apa itu integritas dan harga diri.

Karena itu, walaupun hanya sebagai seorang penjaja koran, beliau telah menunjukan kepadaku bahwa pentingnya mempertahankan kejujuran dan integritas.

Boleh jadi kita miskin, tapi itu tidak berarti kita diperbolehkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rezeki. Harta paling berharga di dunia ini adalah yaitu kejujuran.

Orang kaya jujur, itu biasa. Orang susah jujur, itu baru luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s