Belajar Mencintai Dengan Memberi Seperti Nenek Miskin

Hidup di kota Jakarta
Kehidupan di sudut kota Jakarta by ARO

Di antara bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di Jakarta, terselip sebidang tanah kosong yang ditumbuhi dengan beberapa pohon akasia, tanaman liar dan puing bangunan serta sampah. Di sudut sebelah dalam area itu terlihat sebuah gubuk yang sudah usang. Di sudut lainnya berdiri sebuah warung sekaligus tempat tinggal, dan tepat ditengah-tengahnya tertancap dengan kokoh sebuah papan pengumuman dengan kalimat singkat, padat dan jelas, “Tanah ini milik … ”.

Aku berdiri di trotoar untuk memperhatikan sekelilingnya, terlihat para pedagang serta beberapa pemulung barang-barang bekas berikut pekerja kuli bangunan sibuk dengan urusannya masing-masing, terdengar sesekali gelak tawa mereka renyah menghiasi.

Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar suara lengkingan mengganggu dari seorang nenek tua. Suara yang terus berulang-ulang memanggil satu nama “Wuuuulaaan… Wuuuulaaan… Wuuuuulaan”, dan sang pemilik nama tidak juga menampakkan batang hidungnya, hingga membuat nenek itu terus memanggil tanpa henti.

Pikirku, betapa teganya sang pemilik nama itu hingga membiarkan neneknya memanggil-manggil, sementara tak ada sahutan balasan yang terdengar.

***

Selang beberapa waktu, suara nyaring nenek itu menghilang dan berganti dengan suara halus penuh kasih sayang. Terlihat pemandangan yang mengagumkan dan membuat bibir ini otomatis tersenyum, aku melihat seorang nenek sedang membelai dengan penuh kasih sayang si wulan yang sedari tadi dicarinya.

Di saat si wulan sedang menikmati belaian sang nenek, terlihat juga satu persatu teman-teman wulan datang menghampiri dan mengerubutinya, mereka semua penuh manja dan ingin dibelai juga oleh si nenek.

Dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus, nenek itu membelai satu persatu teman-teman wulan. Kemudian dia mengeluarkan bungkusan dari kantong plastik hitam yang sudah ada di dekatnya sedari tadi. Seperti sudah tahu isi bungkusan, wulan dan teman-temannya berubah sedikit agresif.

Berdasarkan cerita orang-orang di sekitar tempat tinggal si nenek, ternyata kegiatan mencari wulan dan teman temannya dilakukannya setiap hari. Nenek ini selalu membawa bungkusan berisi makanan setiap hari kepada wulan.

***

Setiap pagi menjelang, si nenek pergi mencari rejeki dan kembali ke rumahnya di waktu makan siang dengan bungkusan makanan untuk dirinya dan wulan berikut teman-temannya. Setiap hari pula si nenek memberi makan kepada si wulan dan setiap kali itu pula nenek harus berteriak teriak memanggilnya.

Kebersamaan mereka setiap siang selalu membawa kebahagian buat semua orang yang melihatnya. Aku juga yakin nenek bersama wulan dan teman temannya pasti bergembira bersama. Karena hanya kegembiraan yang tulus yang mampu membawa kegembiraan buat orang lain yang melihatnya.

***

Biasanya si nenek membawa 2 bungkus makanan satu untuk dirinya satu untuk wulan dan teman-temannya. Wulan dan teman temannya tidak pernah berebut makan walaupun porsi makanan yang ada sangat terbatas.

Karena jatah makanan nenek biasanya ikut terambil dan dibagikan sebagian untuk wulan bersama temannya ketika nenek melihat mereka masih kurang kenyang.

Setelah kenyang, wulan dan teman-temannyakembali pergi meninggalkan si nenek, berpencar ke segala arah. Sebelumpergi, mereka mengeong dengan lembutmeminta pamit dan tanda terima kasih kepada si nenek.

Wulan dan teman temannya adalah kucing liar yang ada di perkarangan rumah Nenek yang dikelilingi dengan sampah dan puing.

Mengeong adalah memang adalah satu satu tanda terima kasih yang bisa disampaikan oleh kucing kucing itu. Tapi jika kucing ini bisa berbicara aku yakin mereka akan mengucapkan kalimat seperti ini:

Wahai nenek yang baik, tanpamu kami mungkin masih harus menahan rasa haus dan lapar.Tanpamu, kami mendapat makan dari mengais-ngais sampahdanitupun makanan sudah basi dan tak bergizi lagi. Tanpamu,untukmendapatkan makanan semacam itu, kami harus mencuri dan menunggu makanan sisa dari orang lain.  

 Sungguh kami beruntung memiliki dirimu wahai nenek yang baik sepertimu.Nenek kami semua,tempat kami mengadu kala kami sedang susah dan tempat kami berlindung dari hujan dan terik matahari yang menyengat tubuh kami.

Sepeninggalan wulan dan teman-temannya, si neneklangsung membereskansisa-sisa acara makansiang keluarga besarnya.Dia sesekali menyempatkan diri memandang ke segala arah, melepas kepergiaansatu persatu anggotakeluarganya.Seolah dia tidak maumembiarkansatupun anggota keluarganya pergi tanpa pengawasannya.

Seiring kepergian keluarga si nenek, aku kembali masuk dalam perenungan.Sungguhluar biasa apa yang dilakukan si nenek,hidup sebatang kara dan tanpa penghasilan tetap tapi masih mauberbagi dengan makhluk lain yang membutuhkan bantuannya.

Teringat kata-kata Tuhan Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s