7 Cara Mengendalikan Emosi dan Amarah Pada Anak

Cara mengatasi emosi dan marah
Anak dan Ayah by ARO

Marah menurutku adalah manusiawi. Selama kaki ini masih menginjak tanah, maka yang namanya marah adalah hal yang lumrah dan normal saja.

Siapapun yang hidup di dunia ini, pasti pernah merasakan sensasinya marah.

Akan tetapi sebelum kita membenarkan kemarahan, ada baiknya kita tanyakan kembali kepada diri kita masing masing, apakah kita benar benar sadar ketika sedang marah kepada seseorang. Sudahkah kita memikirkan semua resiko akan akibat kemarahan itu sebelum akhirnya benar marah, atau ya itu… memang terjadi begitu saja tanpa kita mampu menguasainya.

Dalam kemarahan terlalu banyak kerugian yang kemudian akan ditanggung oleh orang yang melakukannya.

Marah bisa membuat hubungan yang tadinya baik menjadi renggang. Marah juga bisa membuat muka yang tadinya cakep jadi berantakan. Marah tentunya bisa membuat lawan bicara yang tadinya ceria menjadi ikut-ikutan marah. Bahkan ekstremnya marah pun tak jarang membuat orang menyandang gelar pembunuh.

Jadi marah pada dasarnya tidak akan membawa kebaikan bagi orang yang dimarahi ataupun memarahi, malah kadang hanya menghasilkan keburukan yang satu kepada keburukan yang lain.

***

Tentunya pasti ada juga yang berargumen, tidak selamanya marah membawa keburukan. Banyak yang telah membuktikan kalau marah juga bisa membuat orang yang dimarahi bisa berubah menjadi baik.

Kata para ahli marah bisa membantu menghilangkan tekanan yang ada di dalam diri dan menjadi ajang pelepasan emosi yang efektif. Dan tentu hal itu akan membawa ke arah yang lebih baik. Jangankan marah, kentut saja kalau ditahan tahan bisa jadi penyakit apalagi menahan amarah.

Nah betul kan? Ternyata marah juga tidak melulu mendatangkan sesuatu yang buruk.

Artinya marahpun dapat berdampak baik dan sekaligus buruk buat si pelaku. Yang terpenting menurutku adalah kesadaran diri pada saat memutuskan untuk marah, sehingga semua resiko akan kemarahaan yang kemudian timbul dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.

***

Sebenarnya ada hal yang memicu aku menulis tentang marah kali ini. Kemarin kebetulan pada saat aku hendak pergi makan siang, aku melihat ada seorang bapak memarahi anaknya hanya karena, anaknya tidak memberi tahu kalau sandalnya jatuh. Kata kata kasar meluncur tanpa rem dari mulut si bapak.

Aku tuh sebenarnya tidak bermasalah kalau seandainya pemandangan itu terjadi di tahun 80’an. Dimana ketika itu masih banyak orang tua yang belum mengerti benar bagaimana sebaiknya mendidik anak. Sehingga dimasa itu, yang namanya kekerasan  kepada anak itu adalah hal biasa. Dan memang buat sebagian anak hal seperti itu sering dibuat bahan lucu-lucuan dengan teman-temannya.

Tentu perilaku orang tua yang seperti itu tidak boleh terjadi lagi di jaman yang serba internet seperti sekarang ini. Orang-orang sudah dengan mudah mendapatkan informasi mengenai bagaimana cara mendidik anak secara lebih manusiawi. Sehingga marah marah kepada anak apalagi sampai mengeluarkan kata kata kasar adalah cara mendidik anak yang sangat perlu dihindari.

Memang sih mendidik anak itu sulit, kadang emosi orang tua dibuat naik turun oleh si anak. Di suruh makan tidak mau nurut, diberitahu untuk jangan malah tepat nekat. Semua kebandelan anak anak itu pastinya akan mengurangi kadar kesabaran orang tua. Jadi tidak aneh, kalau banyak orang tua yang akhirnya khilaf marah ketika anaknya sudah bertingkah tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Akan tetapi, alangkah baiknya, sebelum marah ada hal penting yang perlu  dimengerti orang tua. Anak anak adalah tetap anak anak. Mereka masih belum sepenuhnya mengerti semua hal yang dikehendaki orang tua. Karena itupulah sudah sepantasnya sebagai orang tua yang katanya lebih bijak, perlu lebih mengerti si anak.

Kekerasan kepada anak baik itu berbentuk fisik maupun mental perlu dihindari, Kata orang itu sudah ‘old school’.

***

Berikut adalah beberapa cara mengendalikan emosi dan amarah ketika menghadapi anak yang membuat kesal hati?

1. Buatlah batasan tingkah laku dan disepakati

Anak akan bingung kalau tidak ada hujan tidak ada awantahu tahu dimarahi. Banyak perilaku sepele anak membuat kesal ketika mood orang tua kurang baik. Maka supaya hati kita tetap tenang dan tidak langsung marah ketika melihat perilaku anak yang kurang baik. Ada baiknya kita bicarakan dan sepakati hal hal yang akan membuat kita tidak senang jika anak kita melakukannya. Karena tidak semua kenalan anak harus ditanggapi dengan cara memarahi atau menghukum anak.

2. Menenangkan diri ketika anak sudah bertingkah

Tarik nafas dalam dalam, lalu keluarkan teriakan…. Hahaha. Bukan begitu. Maksudnya keluarkan perlahan lahan, dan ulangi beberapa kali sampai hati kita cukup tenang dan emosi sudah lebih stabil.

Kalau masih belum bisa tenang kita bisa ingatkan pelan si anak, tapi jika tidak digubris juga sebaiknya kita bisa pergi menjauh dari anak sebelum semakin meninggi emosi kita. Jika sudah merasa tenang, kita bisa kembali untuk mengajaknya berbicara dan memberikan arahan yang baik. (Kenyataannya sebenarnya, ketika kita kembali anak sudah semakin bertingkah lagi) Tetap sabar.

3. Lakukan kegiatan lain untuk menunda kemarahan

Kita dapat mengalihkan emosi kita dengan melakukan kegiatan lain, seperti mengambil air minum, mencuci piring, menyapu dan lain sebagainya. Tentu saja dengan batasan bahwa gelas bekas minum tidak dipakai untuk melempar anak, piring cucian dipecahkan di kepala anak dan gagang sapu dipakai untuk memukul anak. Intinya kegiatan itu dilakukan hanya untuk membantu kita menenangkan diri dan memikirkan cara bagaimana berkomunikasi dengan anak secara baik. Memberi kita waktu untuk memikirkan kalimat yang baik agar si anak mudah mengerti apa yang ingin kita sampaikan.

4. Memberikan waktu anak untuk memperbaiki diri

Kita bisa memberikan waktu kepada anak kita untuk memperbaiki perilakunya disaat yang bersamaan juga membantu kita menahan emosi. Misalnya, “Mama, hitung sampai 10 ya…, kamu harus berhenti main ini lagi ya”. Nah, setelah sampai hitungan sepuluh (dengan hitungan yang melambat pada angka 8 sampai 10) anak juga tidak berhenti. Maka hitung lagi lagi sampai 1000. JTidak perlu ya sampai seribu, tapi dekati anak dan berikan peringatan sekali lagi dengan sikap lebih tegas dan intonasi tidak membentak atau teriak.

5. Melatih diri untuk bicara yang baik dan hangat

Ada riset yang mengatakan, jika kita bicaranya semakin tenang, maka perasaan kita juga akan secara otomatis ikut menjadi tenang juga. Tidak percaya, coba sekarang bicara pelan pelan, dan rasakan seluruh tubuh dan perasaan kita ikut untuk menjadi tenang pula. Dengan cara ini, kita bisa lebih menahan emosi dan mengkontrol perasaan.

Sebaliknya, jika kita menggunakan kata makian atau bentakan pada anak, semakin naik juga amarah dalam diri. Karena itu adalah baiknya kita melatih diri untuk berbicara sehangat dan setenang mungkin kepada siapapun termasuk anak kita. Semakin sering kita melatihnya, semakin kita mampu menguasai diri dan membuat anak mengerti bahwa perilakunya salah.

6. Memukul bukan pilihan untuk mengajari anak

Jaman dulu, yang namanya kemoceng, gesper, dan gagang sapu adalah pilihan alat untuk memukul anak. Memang sih dampaknya tidak langsung terlihat, tapi sakit hati dan luka batin dalam diri anak akan selalu senantiasa membekas, dan tanpa disadari terbawa oleh anak sampai dewasa nanti.

Memukul akan mengajarkan anak-anak bahwa menyakiti orang lain itu diperbolehkan, dan ini dapat menyebabkan mereka percaya bahwa cara memecahkan masalah adalah dengan menggunakan kekerasan.

Maka, mendisiplinkan anak hindari memukul atau menyakiti anak secara fisik. Memukul anak tidak akan membuat kita sendiri sebagai orang tua merasa lebih baik. Kita justru akan dihantui rasa bersalah dan emosi negatif lainnya. Apalagi kekerasan bisa membuat anak kehilangan kepercayaan pada orangtua sehingga justru akan menjadi lebih nakal.

7. Memeluk dan Menyayangi Anak

Cara terakhir ini adalah cara yang paling ampuh sekaligus cara yang paling sulit. Karena semua hal di atas harus dilakukan dan dikuasai terlebih dahulu. Seperti hati tenang, muka tersenyum, nafas teratur, minum air bergalon-galon, piring dan lantai dapur sudah bersih.

Kita kemudian mendekati anak dengan tersenyum, memeluk dan menciumnya sehingganak merasa tenang dan disayang. Setelah puas di sayang-sayang, anak akan mudah diajak bicara, karena ketika memeluk maka badan kita berada sejajar dengan anak, sehingga anak merasa dihormati dan siap untuk diajak bicara. Sehingga anak lebih siap hatinya untuk mendengarkan nasihat kita yang baik.

Demikian tips dan cara mengendalikan emosi dan amarah pada anak. Semua cara diatas mungkin perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi juga masalah yang dihadapi orang tua saat itu. Tetapi pada intinya adalah tetap bersabar kepada anak, karena memang belum  mampu mengerti semua yang kita kehendaki mereka lakukan.

Belajarlah seperti Tuhan yang senantiasa mencintai kita manusia ciptaanNya, Dimana Ia tidak pernah lupa mengingatkan kita, walaupun kita berulang kali melanggar perintahNya. Dan ketika kita kembali bersujud kepadaNya untuk memohon ampunanNya, Dia tidak pernah marah dan akan senantiasa mengampuni seluruh kesalahan kita tanpa mengungkitnya lagi. Dan seluruh isi surgapun merayakan pertobatan kita dengan pesta meriah. Begitupun orang tua kepada anaknya, harus senantiasa menerima permohonan maaf anak dan kita juga harus memaafkan dan melupakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s